Awal

96 14 6
                                        



-------

Rumah yang sangat gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun yang terlihat dari luar rumah. Gadis itu terlihat panik, dengan tergesa-gesa ia memasuki rumahnya.

Benar benar gelap. Tidak ada sedikit pun cahaya terlihat. Dengan tubuh yang gemetar ia berjalan pelan-pelan untuk menemukan saklar listrik. Kacau, keadaan yang sangat kacau. Lampu meja yang tadinya berdiri tegak kini sudah hancur. Serbuk halus dari pecahan kaca berserakan di mana-mana.

Banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan kepada orang tua nya. Melihat ayah nya keluar dari kamar dengan membawa koper. Membuat gadis itu bertanya-tanya. Keadaan rumah saja sangat kacau mana mungkin ia bisa pergi begitu saja.

"Ayah mau kemana?"

"Jangan mengurusi ayah lagi dan jangan pernah mencari ayah. Hubungan kita cukup sampai di sini". Ucap lelaki itu. "Kalian hanya membuatku susah,lebih baik aku pergi dari kehidupan kalian". Lanjutnya.

Belum sempat ia mengatakan sesuatu lelaki itu sudah pergi dengan koper yang ia bawa. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mengeluarkan air mata saja yang bisa ia lakukan. Gadis itu tidak tau apa-apa, sebelumnya ayah dan ibunya biasa saja. Ya sebelum ibu mengalami kecelakaan.

Ia lihat wanita yang tak berdaya itu. Wanita yang sebelumnya merasa baik-baik saja, dan kemudian hilang dalam sekejap. Apa yang harus ia lakukan? Jalan hidupnya saja masih sangat panjang. Apa gadis yang berusia 15 tahun itu sanggup menanggung hidup ia dan ibunya?.

Tuhan jika ini memang takdirku, kenapa kau harus membawa kedua orang tuaku? aku tidak akan sanggup melihat seperti ini. Ayah yang sangat aku sayangi dia sangat tega melakukan ini kepadaku dan ibu.

Ibu sama sekali tidak salah dalam hal ini. Hanya kejadian itu saja yang membuat ibu seperti ini, kenapa ayah tidak mengerti? Apa rasa sayang dan cinta ayah kepada ibu telah hilang?

Apa aku masih bisa bertahan tanpa kedua orang tua? Apa aku bisa menjalani nya?


***

2 tahun kemudian


Alarm pagi nya selalu berbunyi setiap pagi. Meskipun alarm alami nya tidak bisa lagi. Itu sama saja tidak ada yang berubah hari hari gadis itu masih tetap sama.
Di penuhi dengan rasa kesedihan dan kesedihan itu di tutupi oleh rasa kebahagiaan. 2 tahun berlalu begitu cepat. Begitu cepat juga kejadian itu berlalu.

Iaturun menggunakan seragam putih abu-abu. Ya sekarang hari pertama Lia memasuki kelas 12, dimana sebentar lagi dia akan tamat sekolah.


"Ibuuu"

''Ibu di kamar Lia'' Ucap yang tidak salah lagi adalah Bi Inah.

Bi Inah sudah lama menjadi pembantu di rumah ini. Bi Inah sudah sangat Lia anggap sebagai ibu nya juga. Dia sangat mengerti dengan kondisi keluarga Lia.

"Oh ya udah Bi, Lia berangkat dulu ya. Lia titip Ibu ya Bi" Ucap Lia tak lupa meninggalkan senyum.

''Bilang ke Ibu ya bi , Lia ga sempet ke kamar soal nya Lia udah telat. Assalamualaikum Bi" Lanjut nya sambil berpamitan dengan memamerkan deretan gigi nya itu.

"Iya Lia, hati hati. Waalaikumsalam"


-o0o-

"LIAAAA!!!"

Tanpa Lia lihat siapa yang memanggilnya dengan suara yang khas. Dia sangat amat apal suara cempreng itu. Kadang terlihat menyebalkan tapi jika tidak ada akan terasa ada yang kurang.

"LIAAA!!! KITA SEKELAS LAGIII YEAYY!!!" Ucap Keyzia yang tidak lain adalah sahabat Lia dari smp. Dia sangat heboh dan begitu lemot. Bahkan kelemotan nya bisa membandingkan dengan sinyal e.

"Ziaa, bisa ga volumenya di kecilin dikit" Balas Lia

Panggilan Zia adalah panggilan kesayangan dari Lia kepada Keyzia, jadi tidak di herankan lagi.

"Aduh Lia emang nya gw tv apa!. Gw lagi seneng ni kita sekelas lagi jadi gw bisa nyontek terus ke lo,hehe "

"Lo ya contekan aja nomor satu. Belajar makanya."

"Iya deh iya yang pinter 7 turunan?" Lanjut Keyzia dengan memasang muka asam.

"Lo ada liat Aksa Li?" Lanjut Keyzia yang mengalihkan topik pembicaraan. Pikir Keyzia kalau dia tidak mengalihkan topik dia akan di seret ke perpustakaan dengan sahabat nya itu.

"Gue aja baru dateng. Kan lo pacarnya biasanya juga ada Aksa ada keyzia, haha" Balas Lia dengan tertawanya.


Aksa adalah bagian dari sahabat Lia dan Keyzia, bahkan ia lebih dulu mengenal Lia . Dia yang selalu membantu Lia di saat Lia sedang mengalami kesusahan. 

''Ya siapa tau lo ketemu Li." Balas Keyzia.
"Tadi gue tanya temen nya. Kata nya si lagi sama kulkas" Lanjut Keyzia.

"Kulkas?"

"Itu... Elvan murid baru. Kata Aksa si saudara jauh nya dia juga dingin katanya. Tapi ya Li baru masuk aja udah popular. Kulkas begitu si di demenin. Tapi Emang iya si dia ganteng,hehe" Balas Keyzia dengan cengiran

"Makanya Li jadi orang jangan kudet apa. Kan seangkatan masa iya lo ga tau" Lanjut nya.

"Gue bukan kudet Zi. Tapi keadaan yang buat gue kayak gini. Tanpa gue kasih tau alasan nya juga lo udah tau jadi ga usah bahas yang itu lagi deh" Ucap Lia dan pergi meninggalkan Keyzia sendirian.

"Yahh gue di tinggalin, emang nya gue salah ngomong ya? perasaan enggak deh. Au ahh... LIAAAA TUNGGUIN GUE!!"

Jujur Lia tidak terlalu kesal dengan perkataan Zia. Tapi dia hanya ingin seseorang tidak membahas masa lalunya itu.

Entah lah Lia hanya sedang berusaha untuk melupakan dan menjadikan semua itu pelajaran tapi hanya ada satu yang tidak bisa dia lupakan.

Keadaan yang telah membawa nya. Dan kenyataan lah yang telah menyatakan semua nya.

Jika saja waktu itu tidak pernah terjadi pasti ia tidak akan seperti ini.


Jangan lupa vote gais! ❤

                                                                                                                                                                                       -rizka

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 10, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My GuardStories to obsess over. Discover now