1

113 6 2
                                        

Aku adalah aku
Tapi mengapa harus aku?
Seakan alam semesta tahu bahwa aku bukanlah aku yang sebenarnya.

Indahnya bintang dan bulan, seakan membuat Mika ingin berteman dengan mereka, dan bertanya mengapa bintang dan bulan berbeda sedang mereka berada di langit yang sama?
Senyum itu terpampar indah di raut wajahnya. Lamunanya terbuyar saat bi Ani menyapanya.
"Non Mika?"
"Iya bi" Mika menoleh dan segera menutup horden yang sedari ia buka hanya untuk menatap langit, ini sudah menjadi kebiasaannya setiap malam, berteman bintang dan bulan.
"Ini susu hangatnya udah bibi buatin"
Sambil meletakkan susu putih itu di atas meja belajar Mika.

Mika duduk di meja belajarnya dan mulai meraih pulpen lalu belajar, sambil sesekali menegukan satu segukan susu itu ke dalam mulutnya. Setelah waktu menunjukan pukul 23.15 tanpa sadar Mika tertidur di meja beljaranya.

***

Saat ini Mika tengah berhayal, ingatan di masalalunya itu kembali membuat ia takut dan menangis.
"Tidak tidak..."
Mika memegang kepalanya, seluruh rambutnya menutupi raut wajahnya.

Teman-teman dikelas merasa aneh. Dan enggan untuk bertanya, karena bagi mereka itu hal yang sia-sia.
"Mika kumat lagi tuh." suara bisikan teman-temannya mampu ia dengar.

Anin yang merasa kasihan dengannya mencoba untuk bertanya.
"Mika lo gak pa-pa kan?"
Anin memegang pundak Mika,menandakan bahwa ia peduli dengan Mika. Namun Mika sama sekali tak menghiraukannya, Mika beranjak dari tempat duduknya dan berlari.

"Yaelah Anin buang-buang waktu lo tau gak, Mika si Dingin kayak es itu gak akan peduli sama pertanyaan atau sikap peduli lo ke dia. Masa 1 tahun ini lo belum kenal dia si?"
Putra angkat bicara, karena Sejujurnya tidak ada satupun orang yang tau akan masalalunya itu.

" Kalian harusnya peduli sama dia, dia mungkin butuh waktu lama buat berinteraksi sama kita" Anin mencoba memberi saran karena Sejujurnya ia tidak suka dengan sikap teman-temannya yang seolah tidak peduli dengan Mika.

"Sampai kapan pun ia gak akan cerita tentang apa yang ia alami saat ini.."
Edo ikut angkat bicara, karena Edo juga merasa risih dengan sikap Mika.

---

Mika menangis di Wc, Sejujurnya sampai kapan pun ia tak bisa melupakan itu.
" Aaaaa.... "
Ia berteriak membuat seseorang dari luar Wc kaget dan mencoba untuk mengetuk pintu Wc khusus perempuan itu.

Tok... Tok... Tok..
"Lo gak pa-pa kan??"
Mika kaget.
Hah laki-laki - batinya
"Pergi lo"
Sejujurnya Mika merasa takut, takut bahwa laki-laki bersepatu Hitam merah itu akan malakukan hal buruk.
"Bukain pintunya, gue gak berniat macem-macem kok!"
Laki-laki itu sangat keras kepala, membuat Mika jengkel, lalu Mika keluar dan menyiramnya dengan air.
Laki-laki itu kaget dan basah kuyup.

"LO GILA YA!!!"
Laki-laki itu mengeraskan suaranya dan kaget saat melihat mata Mika bengkak.
"Kalian ngapain berduaan disana?"
Suara pak Dani membuat Mika Dan Dava menoleh kaget.
"Ikut saya ke kantor"
Pak Dani yang dikenal menakutkan itu pun berlalu pergi.

Mika pun mengikuti langkah Pak Dani tanpa mengucapkan satu kata pun kepada Dava yang sudah basah kuyup karenanya.
Bener-bener udah gila tu cewek, tapi cantik sih-Batinnya.
Senyum indah itu terlukis di wajah Dava.

---

Pak Dani menatap Dava dengan seksama.
"Kamu ini murid baru ya?"
Dava yang sedari tadi menunduk, lalu menoleh ke arah wajah pak Dani.
"Iya Pak"
"Trus ngapain di Wc perempuan?"
"Saya dengar dia teriak tadi Pak, saya kira dia kejepit di pintu Wc"

Dava tersenyum, sambil melirik ke arah Mika, namun Mika sama sekali tak melirik ia hanya menundukkan kepala dan muka datar itu terus terpampang di wajahnya.
Wah krik rik lagi nih gue-batin Dava

"Terus kamu kenapa basah kuyup?"
"Dia yang nyiram saya pak"
Dava kembali melirik ke arah Mika, namun Mika masih saja diam.
"Mika, apa benar kamu yang nyiram dia?"
Pak Dani mengalihkan pandangannya ke arah Mika. Dan Mika hanya mengangguk.

"Sekarang ganti baju kamu pakai baju olahraga, trus kamu Mika silahkan kembali kelas."
Dava memandang Mika hingga bayangan Mika hilang ditelan tembok ruangan BK.

---

Saat ini yang Mika lakukan hanya duduk dan kembali melamun sambil sekali melirik rumus yang berada di bukunya itu. Iya itu adalah buku fisika, salah satu mapel yang ia sukai.

Mika duduk sendiri, karena sejak masuk sekolah ia terlalu dingin hingga tidak satupun teman yang berani menyapanya atau mengajaknya untuk duduk bersama.

Mika melelapkan matanya sebentar dengan menundukkan kepalanya di tangan yang sudah ia silangi di atas meja, sembari menunggu guru mapel masuk kelas.
Dalam lelapannya itu, ia kembali terbayang dengan wajah sang ibunda lalu tanpa disadari air bening itu keluar dari kelopak matanya yang masih tertutup.

"Selamat pagi anak-anak"
Sapa ibu Ferra diikuti dengan siswa laki-laki tinggi, putih dan mancung. Tapi ada yang aneh? Sebagian ada yang berteriak ya sudah pasti itu adalah cewek. Dan ada yang merasa aneh ini kan hari selasa tapi kok dia pakai baju olahraga?

"Hari ini kita kedatangan murid baru, dia pindahan dari SMAN 2 Surabaya, silahkan perkenalkan diri kamu nak?"
Ibu Ferra duduk di kursi guru dan Dava mengikuti perintah ibu Ferra. Sejenak Dava terfokus pada satu wanita yang duduk di bangku no dua paling kiri itu. Sepertinya ia kenal dengan wanita itu?
" Woyy.. ". Teriak Putra membuyarkan lamunan Dava.
" Haii.. Perkenalkan nama aku Madava Pradipa Parviz bisa dipanggil Dava, aku pindahan dari SMAN 2 Surabaya. Terima kasih"
"Yah singkat sekali, saya boleh nanya gak?"
Verra yang dikenal sangat playgirl itu angkat bicara, karena terlihat dari wajahnya ia sangat mengagumi ketampanan Dava.
"Udah punya pacar belum?"
Dava terkekeh geli.
"Huuuu...." teriak seluruh siswa yang melihat kegenitan Verra.
"Belum pernah pacaran"
Jawab Dava tersenyum ke arah Verra, hal itu semakin membuat jantung Verra berdetak kencang.

"Sudah-sudah sekarang Dava duduk di bangku yang kosong."
Ibu Ferra melirik ke arah Mika,
"Nah bangku di samping Mika itu kosong, silahkan duduk disana."
Seluruh siswa kelas 11 Mipa 2 itu melirik ke arah Mika yang masih saja tertidur. Tetapi tidak ada satupun guru yang berani membangunkannya bahkan kepala sekolah sekaligus. Karena mereka tahu bahwa Mika adalah anak pengusaha kaya raya, sekali ajaa mereka mengganggu Mika maka jabatan mereka terancam.
Dava terdiam sejenak dan berjalan sebentar menuju bangku yang berada di samping Mika.

Karena merasa bosan tidur menghadap tembok Mika membalikkan mukanya, sekarang Mika tengah tidur menghadap ke arah Dava, Dava kaget dan terdiam.
Oh jadi namanya Mika-batin Dava

Ibu Ferra pun memulai pelajaran, kini ia lupa apa materi yang akan ia bahas karena sedari tadi ia masuk hanya dengan tangan kosong.
"Ada yang tahu gak--"
Balum selesai ibu Ferra menanyakan materi yang akan di bahas. Mika mengangkat suaranya dengan mata masih dalam keadaan tertutup.
"Energi"

"Ya benar"
Sejujurnya ibu Ferra sangat suka dengan Mika, karena kebetulan Mika sangat suka dengan Mapelnya.

Seluruh siswa yang ada di kelas sudah biasa melihat kepandaian Mika,tapi lain halnya dengan Dava ia justru sangat kaget karena cewek yang dinginnya luar biasa di sampingnya ini bisa menjawab begitu cepat bahkan sebelum ibu Ferra bertanya.

Mika terbangun dari tidurnya, dan kaget saat melihat Dava disampingnya. Tetapi ia sama sekali tak menyapa Dava ataupun kagum dengan ketampanan Dava.

Bersambung.
Jangan lupa vomment ya gaess⭐

86.400 Detik[COMPLETED] ✔️Stories to obsess over. Discover now