01. Sekolah baru

267 22 2
                                        

Pagi yang cerah, mentari tampak malu malu memancarkan sinanrnya. Cakrawala biru dengan kabut tipis tipis yang mengambang tampak anggun. Semilir angin yang bertiup menyelinap masuk melalui celah jendela, mengintip seseorang yang masih berpetualang di alam mimpinya.

Suara ketukan pintu terdengar membuat seorang gadis yang masih tertidur itu terusik, ia menggumam tidak jelas sembari menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Terlihat seorang lelaki yang sudah rapi dengan baju kantornya itu mendekat kearah gundukan tebal di atas ranjang, lelaki tersebut menarik selimut sehingga terlihat seorang gadis tengah tertidur, "Alea bangun!"

Merasa terganggu gadis yang di ketahui bernama Alea itu dengan terpaksa membuka kelopak matanya sembari menggumam, "Ungg... apasih Kak, lima menit lagi" Ucapnya sebelum kembali menutup kelopak matanya. Membuat sang lelaki yang di panggil abang itu mendesah pelan.

"Udah jam 7 Lea, bangun gih mandi" Ujarnya kembali membangunkan sang adik.

Mendengar hal itu Alea sontak terbangun dari tidurnya lantas melihat jam weker yang berada di atas nakas. Terlihat jarum jam yang masih menunjukkan angka 6, ia menoleh pada sang kakaknys yang tengah terkekeh geli, "Fuck you Aliandra!" umpatnya sembari mengacungkan jari tengah kepada sang kakak.

"Berangkat bareng kakak atau papa? Kalau sama kakak cepetan mandi" Tawarnya kepada sang adik sembari mengelus rambut berantakan Alea.

"Aku bareng Raka" ujar Alea menentukan pilihannya sendiri.

"Ngga usah bareng Raka, kalian beda sekolah sekarang" ucap Andra mengingatkan barangkali Alea lupa jika minggu kemarin papa sudah memindahkan sekolahnya.

Alea menghela napasnya pelan, ia berjalan dengan gontai ke kamar mandi, "Alea bareng Kakak tungguin" ujarnya sebelum memasuki kamar mandi.

Kemarin setelah pembagian raport di akhir semester entah kenapa tiba tiba papanya memutuskan untuk memindahkan sekolahnya tanpa persetujuan darinya. Alasannya karena sekolah barunya itu jaraknya lebih dekat dari rumah, serta nilai raportnya yang turun. Alea jelas keberatan dengan keputusan sepihak papanya itu, sedari dulu papanya itu selalu memutuskan apapun tanpa persetujuannya meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan papanya selalu berakhir baik baik saja akan tetapi tetap saja ia tidak bisa bebas menentukan pilihannya. Waktu itu Alea sangat senang ketika untuk pertama kalinya papanya menyetujui keinginannya untuk meneruskan di SMA sesuai pilihannya, akan tetapi baru dua semester ia bersekolah disana papanya sudah memutuskan untuk memindahkan sekolahnya.

oOo

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Alea duduk di kursi samping kemudi sembari menatap keluar jendela. Jarak tempuh antara rumahnya dan sekolahnya sekitar sepuluh menit jika keadaan jalanan lancar tanpa hambatan. Akan tetapi, bersamaan dengan orang orang yang juga berangkat bekerja maupun sekolah menjadikan jalanan di senin pagi ini sedikit macet. Alea harus mendesah untuk yang kesekian kalinya ketika mobil-mobil itu tak kunjung jalan, ia menolehkan kepalanya kepada sang kakak yang duduk di balik kemudi.

"Kakak kenapa harus pakai mobil sih, kenapa ngga pake motor aja hari senin tuh pasti lama kalo pakai mobil" gerutu Alea, ia paling kesal jika harus menunggu di dalam mobil berlama-lama.

Andra menoleh ke arah Alea, ia tersenyum lembut menatap sang adik yang memasang tampang kesal. Tangan kirinya terulur untuk mengacak rambut hitam Alea, "Sstt diem, ini udah jalan" ujarnya sembari menginjak pedal gas ketika jalanan mulai berjalan lancar.

Pukul 7:00 mobil Andra memasuki area sekolah. Terlihat beberapa siswa yang mulai berdatangan sembari mendorong sepeda motor mereka. Hal itu karena tata tertib sekolah yang mengharuskan siswa mematikan mesin motor ketika memasuki area sekolah.

Angin berhembus dengan kencang membuat bendera merah putih berkibar. Dengan diiringi lagu Indonesia Raya seluruh murid serta guru yang mengikuti upacara hormat pada sangat merah putih. Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan YME atas kemerdekaan yang telah diberikan serta penghormatan pada para pahlawan atas jasa mereka yang terlah berjuang demi kemerdekaan. Alea mengangkat tangan kanannya lalu menghormat kepada sang merah putih.

Tiba tiba seseorang menepuk pundaknya dan menbuat Alea terkejut. Cewek itu menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan seragam berwarna cokelat, yang artinya beliau adalah salah satu guru disekolah ini.

"Kenapa kamu disini dan tidak ikut berbaris dengan yang lainnya?" Tanya wanita tersebut kepada Alea.

"Saya datang terlambat Bu, juga saya belum memiliki kelas" ujar Alea tanpa ragu.

Guru itu menautkan kedua alisnya, memperhatikan penampilan Alea dari atas hingga bawah, "Kamu murid baru?" tanyanya.

"Iya, ini adalah hari pertama saya" jawab Alea sembari menganggukkan kepalanya.

"Yasudah, karena masih upacara kamu masuk ke barisan kelas terdekat dulu, setelah itu segera ke ruang kepala sekolah" perintah guru itu sebelum melangkah melawati Alea.

Alea mengaggukkan kepalanya paham lantas segera ikut berbaris di belakang siswa lainnya. Beberapa siswa yang berbaris dibelakang mulai menoleh ke arahnya sembari berbisik-bisik pelan. Mungkin mereka penasaran karena sebelumnya tidak pernah melihat Alea apalagi cewek itu tiba tiba memasuki barisan ketika sedang amanat pembina upacara.

Alea menghela napasnya lega ketika protokol upacara mengintruksikan untuk membubarkan peserta upacara. Gadis itu segera melangkahkan kakinya membaur dengan siswa lainnya. Sesekali gadis itu menolehkan kepalanya guna membaca tulisan yang tertera di atas pintu. Gadis itu tersenyum kala netranya menangkap tulisan kepala sekolah yang artinya ia telah menemukan ruang kepala sekolah.

Alea mengetuk pintu ruangan tersebut lantas segera membuka pintu. Pertama kali yang ia lihat ketika memasuki ruangan ialah seorang pria paruh baya yang sangat ia kenal tengah duduk di balik layar laptopnya yang menyala.

Ah! Alea baru ingat bahwa omnya itu merupakan kepala sekolah. Ternyata omnya itu menjabat kepala sekah di sekah ini, pantas saja kakaknya memindahkan dirinya ke sekolah ini. Alea menghela napasnya pelan. Ya kepala sekolahnya merupakan Om Dhani, adik dari ibunya.

"Alea Neiva Florence, kamu berada di kelas 11 IPA 4" Ujar sang kepala sekolah sembari memperhatikan Alea.

Merasa namanya dipanggil, Alea yang tadinya tengah mengamati ruangan tersebut langsung mengalihkan tatapannya kearah kepala sekolah, "Iya om, eh Pak"

Alea sedikit terkejut dengan perubahan sikap omnya yang berbeda jauh ketika dirumah dan dikantor. Cewek itu sedikit gugup, pasalnya omnya yang ia kenal sangat santai dan lucu itu tiba tiba saja berubah tegas dan berwibawa. Sungguh perubahan yang sangat signifikan.

"Yasudah, ayo saya antar ke kelasmu" Ujar Dhani yang sudah berdiri dari duduknya lalu segera berjalan mendahului Alea yang kemudian diikuti oleh gadis itu dibelakangnya.

Pak Dhani berhenti tepat didepan ruangan yang bertuliskan XI MIPA 4. Pria itu menoleh ke arah Alea dengan tatapan lembutnta, "Ini kelasmu, belajarlah dengan sungguh sungguh" katanya sembari mengelus kepala Alea sebelum mengetuk pintu kelas tersebut.

Setelah memberi tahu kepada guru yang mengajar di kelas tersebut, Pak Dhani segera meninggalkan tempat itu dan menyisakan Alea yang kini berdiri di hadapan siswa satu kelas.

Alea mengedarkan pandangannya meneliti setiap wajah di kelas itu, beberapa diantaranya sudah ia kenal. . Pandangannya berhenti tepat di pojok kiri kelas, lebih tepatnya pada seorang laki laki dengan kacamata bulat yang kini tengah menatapnya juga. Alea menatap dalam pada netra dibalik kacamata itu, jantungnya berdegup dengan kencang tanpa sebab. Alea merasa sedikit familiar dengan lelaki tersebut.

To be continue...

The Secret Of AnantaStories to obsess over. Discover now