Prolog

444 286 309
                                        

Perihal tawa yang membuatku berdiri di ujung jurang derita. Tentang kasih yang menuntunku ke dalam lubang penuh rintihan makhluk semesta.

Ini mengenai aku dan diriku yang dengan bodohnya terbawa lajuan angin ke tempat di mana akhirnya aku tertipu dengan sosoknya.

Namun— aku pun pernah bahagia.

Bahkan dulu aku selalu menikmati adegan demi adegan penuh rasa suka. Di mana dia pernah menjadi alasan untukku melebur bersama tawa. Di mana dia pernah mengajarkanku betapa indahnya dunia dan betapa mempesonanya rona senja.

Katanya, bahagia itu mudah,
cukup tahu bagaimana cara kita bisa bersatu dengan apa yang sudah Tuhan cipta.

Ia membuatku sadar, bahwa aku pun bisa merasakan cinta. Dengannya pula, aku tahu apa itu luka.

Dari semua yang telah terjadi,
kini memunculkan niatku untuk bertanya,
kepada kalian semua.

Apakah aku salah karena terlalu mencintainya?”

Jakarta,
—may

PumarandaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora