Hai~!
Aku kembali bawa cerita ini. Sebelumnya, cerita ini udah aku publish dalam judul yang berbeda dan mendadak aku pengen rombak semuanya termasuk alur. Semoga kalian tetap suka ya<3
Aku menulis sesuai apa yang aku ingin dan tergambar dalam imajinasi. Jadi, aku mohon jangan samakan ceritaku dengan cerita lain, jangan bawa-bawa cerita ini ke cerita lain atau juga sebaliknya apalagi curi-curi kesempatan buat copy cerita aku~
JANGAN PLAGIAT! BUAT CERITA GA GAMPANG!!!
Semoga kalian selalu suka dengan tulisan yang tak sempurna dan juga tak dapat membahagiakanmu. Siapa pun kamu yang sudah mencintai karyaku, aku mencintaimu<3
Jadilah pembaca yang bijak~!
Aku hanya minta hargai apa yang aku tulis, jangan lupa vote dan komen. Aku menerima seluruh kritik dan saran yang membangun, sebab untuk penulis kecil seperti aku sangat berguna^^
Enjoy, kalian enggak perlu buru-buru saat baca. Nikmatin aja<3
⚠️Cerita ini murni fiksi, karangan, dan enggak nyata. Jangan berpikir cerita ini merupakan kisah nyata dari seluruh cast/visualisasi yang aku gunakan untuk cerita ini⚠️
Happy Reading<3
🌹
Sebelum kehadirannya, warung Bang Tama sudah penuh sesak, namun tak ada yang benar-benar mencuri perhatian Zura selain teriakan-teriakan memekik telinga. Telinga Zura menangkap raungan Lia yang beradu dengan bentak sang Ayah, Steev, selebihnya menjadi hal yang tidak lagi penting. Hanya mampu mematung sebab merasa terperangkap dan terjepit di antara kenyataan pahit sekaligus keinginan untuk melarikan diri dari semuanya, Zura diam dalam keramaian. Air mata sudah menetes sedari tadi, tanpa bisa dihentikan pun oleh Arsya, gadis berambut cokelat tidak lagi dapat mengendalikan perasaan yang membuncah dalam dadanya.
Kondisi Lia tidak lagi baik, tampak lebih hancur dari kepingan-kepingan kaca yang sengaja dipecahkan. Suara isaknya bergetar lirih, "Aku kurang apa sih, Mas?"
Steev diam, justru menarik wanita ber-eyeshadow gelap yang berdiri di sisi kanan agar lebih dekat. Zura marah dalam diam, hal ini telah menjadi kejadian yang kesekian, ia tak pernah bisa menahan gejolak amarah kala dipertemukan dengan si Jalang yang merebut ayahnya. Bahkan dalam kondisi seperti ini, wanita sialan itu berdiri penuh sikap tenang atas kebanggaan dalam dirinya lantaran merasa lebih unggul dari pada Lia, istri sah Steev.
"Selama ini, aku udah berusaha jadi yang terbaik buat keluarga ini! Aku kira kamu bisa berubah, aku udah kasih kesempatan kamu beberapa kali, tapi–" Tak melanjutkan kalimat, Lia kembali terisak.
Wajah cantik Lia sudah basah, air mata mengalir deras mengucur. Pundaknya naik-turun mengatur napas yang tak tenang. Hirau, Lia diabaikan kembali. Steev dan Denisa berbalik pergi, wajah keduanya dibidik oleh netra Zura, begitu dingin tak ditemu penyesalan.
"Apa yang kurang dari aku, Mas?! Apa yang aku enggak bisa kasih?"
"Mas!" Suara Lia terdengar pecah di sela tangis dan emosi yang tak kunjung reda.
Nyaris sampai di ambang pintu, Steev berhenti sejenak bertemu dengan Zura yang pula menahan air mata, meski diyakini wajah basah itu sempat dialir cairan bening. Sempat melunak kala bertemu sang Putri, pria mengenakan kemeja hijau polos kembali acuh kala tangannya ditarik singkat oleh Denisa. Sebagai anak, Zura terasa berat, ekspresi wajah menggambarkan perasaan yang menggelegak dalam hatinya, terutama dalam sorot yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
"Zura benci Ayah!" Sempat menoleh, dada Steev merasa nyeri.
"Bunda ..." Zura memanggil lirih. Tanpa menelan nasi goreng hangat dengan taburan kulit ayam, Zura terlebih kenyang. Bahkan aroma harum dari bawang putih yang ditumis tak lagi istimewa dalam indra penciuman.
Mendapati Lia terhuyung, beranjak Zura mendekat. Zura tahu hati sang Bunda begitu rapuh, bahkan tanpa peringatan kedua kaki tak dapat menopang raga. Tangisnya begitu dalam memilukan, seluruh pasang netra menyaksikan Lia yang hancur dalam tangisnya–seorang lelaki setengah baya menggenggam tangannya, sementara wanita lain membantu menyangga tubuh yang hendak limbung.
"Bunda, ayo pulang," Mencoba menenangkan, meski air matanya mengalir lagi, Zura meraih lengan Lia.
Perihal keluarga terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan dalam melawan ombak kehidupan. Bahkan tak jarang terbentur karang, begitu hancur dan menyakitkan. Ada kalanya seperti merpati yang indah dipandang, tetapi kali ini bak lautan dalam yang menyeramkan. Akan Zura jalani semuanya sementara, lagi, yang kesekian, untuk mengubah rasa sakit di dalam dan menyalakan kebencian terhadap keluarga yang awalnya cemara. Dalam derai ibu dan anak, langkah menjauh dari sorot-sorot iba.
🌹
BAGAIMANA PERASAAN KALIAN SETELAH BACA PART INI?
MAU LANJUT?
TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR.
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN DAN SHARE YA<3
FOLLOW WATTPAD @SholihatunM
DAN TETAP PANTENGIN INSTAGRAM @shlhtn_ dan @leeeeeeeeh.a
SEE YOU NEXT CHAPTER<3
SALAM
LEHH;)
YOU ARE READING
[#1] ARCANE
Teen Fiction[ALANGKAH BAIKNYA FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA<3] The Second Part Of Zura Universe _____________________________________________________ SUDAH TERBIT~ INFO PEMESANAN MELALUI DM ATAU MELALUI WHATSAPP YANG ADA PADA PAMFLET DI BAGIAN AKHIR BAB CERITA^^...
![[#1] ARCANE](https://img.wattpad.com/cover/189951037-64-k821045.jpg)