Selamat tanggal 8, babe!

948 107 88
                                        

Bel masuk sekolah telah berbunyi sekitar 30 menit yang lalu, koridor sekolah sudah lumayan sepi karena kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Ada beberapa siswa yang telat dan berlari karena ada ketua osis yang sedang memperhatikan mereka dengan sorotan mata yang tajam.

"Lari yang cepet! Gue hitung sampai tiga, kalau kalian masih keliatan dimata gue, jangan salahin gue kalo kalian masuk BK nanti." ancam perempuan yang menjabat sebagai ketua osis.

"Iya han. Sabar kali, kita juga cape." kata salah satu siswa dari jauh. Akhirnya mereka masuk kedalam kelas mereka masing-masing.

Jihan Anggraeny. Anak kelas XII IPS dan Ketua Osis di SMA Tarantula, banyak yamg segan padanya banyak juga yang tidak suka karena aturan-aturannya.

Selain memiliki prestasi, Jihan juga memiliki paras yang cantik, rambut panjang coklatnya yang bergelombang membuat dirinya semakin terlihat rupawan. Pada saat pemilihan Ketua Osis banyak yang memilih Jihan hanya karena dirinya cantik dan itu menjadi nilai plus untuk Jihan.

Ternyata sedari tadi ada salah satu siswa yang berjalan sangat santai. Bukannya buru-buru untuk masuk kelas cowok itu malah berjalan sangat lambat. Jihan tau itu siapa, dia adalah Bastian Leonardo, anak kelas XII IPA, yang sangat ditakuti oleh siswa sekolahnya, termasuk.... Jihan.

Jihan meneguk ludahnya, takut harus menegurnya atau tidak. Antara takut dan malas Jihan sebenarnya tidak ingin berurusan dengan Bastian. Tapi ia takut jika nanti para murid menyangka bahwa Jihan memilih-milih orang dan tidak bertanggung jawab dengan tugasnya.

"Ja-jalannya santai banget. Kan ini udah telat." Jihan sekarang sudah berada didepan Bastian dan mencoba memberanikan diri untuk menegurnya.

Bastian tidak peduli dan mengalihkan tubuhnya yang dihalangi oleh Jihan untuk kembali melanjutkan jalannya. Jihan tidak percaya dengan apa yang Bastian lakukan, biasanya para murid disini akan segan bahkan hormat dengan Jihan tapi tidak dengan Bastian.

Akhirnya Jihan kesal, "Heh! Gue ngomong sama lo, gak sopan banget sih."

Jihan masih berada ditempatnya ia berdiri tadi. Tidak tau mendapatkan kekuatan darimana sehingga ia berani meneriaki Bastian dari jauh.

Teriakkan tersebut membuat Bastian berhenti dan berbalik badan. Jantung Jihan seketika berdegub cepat karena Bastian sedang berjalan kearahnya. Jihan berjalan mundur saat Bastian sudah semakin dekat.

Bug!

Jihan sudah mentok menabrak tembok. Sekarang yang bisa dilakukan yaitu, pasrah..

"Tadi lo neriakin gue?" tanya Bastian dingin.

"Ma-maaf. Lagian tadi lo pas gue ngomong didiemin doang, jadi gue kelepasan." Jihan berusaha menyeimbangkan nafasnya sekarang.

"Sekarang apa mau lo?" Bastian menatap tajam pada Jihan.

"Sesuai sama peraturannya yang udah lambat 35 menit harus bersihin toilet." jelas Jihan, ragu.

"Oke, nanti gue bersihin toilet. Tapi dengan satu syarat."

"Syarat? apa?" Jihan bingung dengan perkataan Bastian.

"Lo temenin gue pas ditoilet sampai hukumannya selesai. Pintu ditutup dan dikunci." jawab Bastian sangat santai.

"Gak waras! Udah anggep aja hari ini hukumannya lagi diliburin. Sekarang lo bisa balik kekelas." Jihan sedikit kesal dan mendorong tubuh Bastian yang tadi berada sangat dekat dan didepan tubuhnya.

Jihan langsung berjalan kearah kelasnya meninggalkan Bastian yang sedang menyunggingkan senyumannya.

"Ketua osis labil." lirih Bastian memandangi Jihan yang semakin menjauh.

The Other Side Donde viven las historias. Descúbrelo ahora