Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Angkasa

6K 167 38
                                        

Angkasa Juan Dirgantara, atau yang lebih sering dipanggil Angkasa, baru saja memarkirkan motornya di garasi rumah. Ia kemudian berjalan masuk dan langsung menuju dapur untuk mengambil air minum.

"Oh, udah pulang. Bunda ada meeting mendadak di Surabaya, mungkin lusa baru pulang." Sesosok wanita paruh baya muncul di ambang pintu dapur. Donna, dia adalah ibunda dari Angkasa.

"Gausah pulang juga gapapa, nanggung," celetuk Angkasa tanpa menoleh pada ibunya.

"Bunda udah transfer uang saku buat kamu, gausah bikin tingkah ya kamu," Donna tidak menghiraukan perkataan anaknya.

"Cih, gue nggak butuh duit lo," ucap Angkasa sambil berlalu meninggalkan Donna sendirian di dapur.

Angkasa muak dengan sikap Bundanya yang selalu mengutamakan pekerjaan dan uang. Bundanya selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan mungkin ia pulang hanya untuk mampir.

Ayah Angkasa? Kedua orang tua mereka sudah bercerai sejak 2 tahun yang lalu. Mengapa? tentu karena pertengkaran yang selalu terjadi tiap malam, hingga akhirnya mereka memutuskan berpisah. Heru, Ayah dari Angkasa pun sudah menikah lagi, dan membawa Argaka, adik Angkasa yang terpaut jarak 2 tahun untuk tinggal bersamanya.

Sejak menikah lagi, Heru selalu melakukan tindak kekerasan pada Angkasa, entah berupa cubitan, tamparan, hingga pukulan selalu dilayangkan pada anak sulungnya itu. Heru selalu berkata bahwa ia malu pada keluarga istri barunya, jika memiliki anak yang berandalan seperti Angkasa.

Angkasa yang diperlakukan berbeda, tidak seperti si adik, hanya bisa tertawa remeh saat Ayahnya sudah berlaku seperti itu. Donna bahkan tidak pernah membela Angkasa, ia hanya diam melihat Angkasa yang diperlakukan seperti itu.

"Kenapa sih gue lahir di keluarga yang bahkan enggak pernah peduli sama keberadaan gue?" tanya Angkasa entah pada siapa.

Dia merebahkan badannya di atas kasur di kamarnya, sambil menatap langit-langit kamar. Angkasa lelah, dia ingin bundanya memberinya perhatian, walau hanya perhatian-perhatian kecil sekalipun.

Drrtt drrtt..

Handphone Angkasa bergetar, ia pun melihat layar ponselnya.

Argaka is calling...

"Bang, Ayah mau ke rumah,"

"Ngapain lo laporan ke gue,"

"Arga kasian ngeliat lo dipukulin terus, Bang,"

Tanpa menjawab, Angkasa langsung menutup panggilan secara sepihak.

Dia rasa hanya Arga, satu-satunya orang di keluarganya yang masih mau perduli pada dirinya.

Angkasa kemudian bangkit dari tidurnya, lalu menyambar kunci motor yang ada di nakas, kemudian pergi meninggalkan rumah. Ia bahkan belum mengganti seragamnya.

---

Line

Kongkow (4)

Angkasa Juan : posisi

Bramantyo S : sokin rumah gue, Sa

Angkasa Juan : otw

Read by 3

Angkasa sampai di rumah Bram pada pukul 08.00 malam, disana sudah ada Orion dan Dika yang asik main PS.

"Lo ga balik daritadi, Sa?" tanya Bram, saat melihat Angkasa masih menggunakan seragamnya,

"Tadi udah balik, tapi bokap gua tiba-tiba mau ke rumah," Bram tau betul kenapa Angkasa memilih untuk pergi saat Ayahnya datang ke rumah.

Kegiatan mereka di rumah Bram hanya bermain PS, merokok dan makan. Hingga jam menunjukkan pukul 11.00 malam, mereka baru menyudahi kegiatannya.

"Sa, besok gue nebeng ya, motor gue masih sakit nih," ucap Orion sebelum mereka pulang, "Ojol napa, miskin banget lo," cibir Dika.

"Hemat bego, bareng Angkasa aja gratis," Bram dan Angkasa hanya terkekeh melihat tingkah temannya yang satu itu. "Gampang," sahut Angkasa mengiyakan perkataan Orion.

Setibanya di rumah, Angkasa merebahkan badannya di atas sofa ruang tamu. Ia meletakkan salah satu lengannya diatas dahi dan kemudian memejamkan matanya, berniat untuk mengistirhatkan badannya sejenak, namun ia kembali membuka matanya saat merasakan saku celananya bergetar.

Bunda is calling...

Angkasa hanya menatap handphone nya lalu menonaktifkan benda itu dan melemparnya ke sembarang arah, lalu ia bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya sendiri untuk mandi dan tidur. Ia tidak memperdulikan panggilan-panggilan dari Bundanya.

---

Angkasa dan Orion tiba di sekolah persis pada saat bel masuk berbunyi. Orion memarkirkan motor milik Angkasa lalu berjalan menyusul Angkasa yang sudah lebih dulu melangkah meninggalkan area parkir lalu memberikan kunci motor pada Angkasa.

Ia menepuk pundak Angkasa, "Gue mau ke UKS, Sa. Males banget jam nya bu Ainun," ucapnya diakhiri dengan cengiran lalu berlari kecil meninggalkan Angkasa yang berjalan dengan santai menuju kelas.

Selama di koridor sekolah pun ia terus menjadi pusat perhatian, terutama bagi para siswi yang ada disana. Seragam dikeluarkan dibalut dengan jaket jeans kebanggaannya, tidak mengenakan dasi, sepatu converse hitam putih melekat di kakinya. Ia memiliki pesonanya tersendiri yang selalu mampu meluluhkan hati siapa saja.

Saat memasuki kelasnya, 12 IPS 2. Ia menemukan Bram yang sedang menelungkupkan kepalanya diantara kedua tangannya di atas meja, bahkan ini masih terlalu pagi untuk tidur.

"Mana Dika?" tanya Angkasa setelah mendaratkan bokongnya di sebelah Bram, "Kantin, paling bolos jamnya bu Ainun," sahut Bram yang sudah mengangkat kepalannya, menampakkan wajah ngantuknya.

Senin ini mereka tidak upacara, karena guru-guru harus rapat membahas tentang jam bimbingan belajar kelas 12.

---

TRIIING TRIING...

Bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Angkasa merenggangkan kedua tangannya, pegal. Bayangkan saja, 3 jam pelajaran ekonomi membuatnya mual.

Line

Kongkow (4)

Nandika Bagas : Kantin brader, udah gue pesenin kaya biasa

Orion Putra M : Buru sini, gue sikat semua nih ntar

Read by 3

Kini mereka berempat tengah duduk menikmati makanan kantin sambil bercanda.

"Gue pengen beli air, es teh gue abis. Mau juga ga lo pada?" tawar Angkasa sambil berdiri dari bangkunya. "Gue juga deh air 1, Sa." balas Dika, Angkasa mengangguk. Baru saja berbalik hendak melangkahkan kakinya, ia sudah menabrak seseorang.

"Aduh!! Punya mata ga sih? Liat nih jus gue tumpah," sentak seorang gadis yang ia tabrak, Angkasa hanya menatap datar tumpahan jus dan gadis itu, "Sorry, nanti gue ganti, ga kena seragam lo juga kan?" balas Angkasa datar, lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu.

"Ih, ga tanggung jawab banget sih! Awas ya lo!" teriak gadis itu sambil menahan tangan Angkasa yang hendak berlalu, kejadian ini sontak menimbulkan tatapan heran mata dari seluruh warga sekolah yang tengah berada di kantin.
"Mau lo apa sih? Gue bakal ganti, lo tinggal tunggu doang ribet banget sih!" Angkasa menatap tajam gadis yang menahan tangannya tersebut, pandangannya kemudian beralih pada nametag di seragam gadis itu lalu meninggalkannya, sementara yang ditatap pun hanya mendengus kasar, "sialan!" umpat gadis itu.

---

Hai..
Jadi ini cerita pertama ku, so please leave your vote and comment, everyone!
Ada kritik buat cerita ini? feel free to DM me♥.
Xx

ANGKASAStories to obsess over. Discover now