1. Perpisahaan

213 11 1
                                        


Pindah ke kota lain, bukanlah hal yang mudah bagi Arnetta. Karena disaat kita sudah nyaman pada suatu tempat rasanya kita akan sulit untuk harus berpisah.

Namun, Arnetta bisa apa memang ini sudah kebiasaan yang terjadi setiap beberapa tahun sekali. Padahal, dia sebentar lagi lulus SMA.

Pekerjaan Sang Papa lah, yang membuat Arnetta dengan Mamahnya harus ikut kemanapun Papanya bekerja. Entah itu ke luar negeri sekalipun.

"Netta, gue sedih lo harus pindah"

Kalimat itulah, kalimat yang pertama kali muncul saat Arnetta atau biasa dipanggil Netta ini melangkah memasuki kelas.

Arnetta tersenyum kecil, lalu duduk di samping Anara.

"Kenapa lo harus pindah, gimana keadaan lo disana, siapa yang harus nemenin lo nanti.." Celoteh panjang Anara tanpa henti.

Anara sendiri sebagai teman baik satu-satunya sudah sewajarnya, mengkhawatirkan Arnetta. Juga, cuman Anara yang bisa bertahan di samping Arnetta hingga sekarang.

"Nara, gue bisa kok" Jawab singkat Arnetta.

"Apa gue harus mohon sama Papa lo?"
Kata Anara, dengan raut sedih.

Arnetta langsung menggeleng keras, dia tak mau Anara melakukan hal yang tidak-tidak seperti itu. Sampai memohon segala. Tapi jika hal itu terjadi sekalipun, Papanya tak mungkin luluh.

"Aish, lo tuh ya. Tanpa lo, gue gak bisa apa-apa kaya butiran debu apalagi UN sebentar lagi" Akhir kata Anara kembali dengan ekspresi cemberut, melihat Arnetta sama sekali tak mau kembali menetap disini dengannya.

Bukan tak mau, Anara tahu pasti Arnetta tak bisa menolak semua keinginan Papanya, itu hal yang wajar bukan sebagai seorang anak.

Arnetta tersenyum kembali, Anara bisanya berkata agak lebay seperti itu.

"Ngomong Netta, ngomong"

Anara merasa diantara bingung dan kesal sendiri, dia seperti berbicara seorang diri saja. Suaranya yang cempreng nan keras membuat semua orang bisa saja berpikir tidak-tidak tentang Anara. Berbanding terbalik dengan Arnetta, suaranya kecil lemah lembut. Entah hal apa yang membuat Arnetta akhirnya mau menjadikan Anara sebagai teman baiknya.

"Hmmm..."

"Ngomong tuh gak bayar Netta. Ya Tuhan" Anara bertambah kesal, melihat Arnetta hanya membalas dia hanya berdehem. Rasanya ini sudah puncak kekesalannya, sudah lama berteman dengan Arnetta tak banyak kata yang diucapkan.

"Nih" Arnetta memberikan sebuah kado kecil, ini sebagai salam perpisahaan. Karena hari ini, Arnetta terakhir bersekolah disini, tinggal disini. Dia akan pindah ke pulan lain.

Anara tentu senang bukan main, melihat kotak persegi empat berlapis kertas kado hello kitty itu seketika terletak di hadapannya.

Bahkan tanpa aba-aba, Anara langsung mulai membuka bungkus kado itu, dia sudah tak sabar apa isi kadonya. Namun, Arnetta langsung mencegat lengannya.

"Di rumah"

Anara mendengus kesal, rasa ingin tahunya cukup tinggi. Tapi Arnetta malah menyuruhnya membuka di rumah saja.

"Netta, siapa yang nemenin lo di Jakarta" Anara mencoba mengalihkan topik, dan mengalihkan pikirannya dari isi kado yang mulai terngiang-ngiang di kepalanya.

Arnetta menggeleng, dia sama sekali tak kenal siapapun di Jakarta. Entah, bagaimana rasanya nanti sekolah disana, Arnetta sama sekali tak tahu sedikitpun.

"Kalo ada masalah, langsung hubungi gue kapanpun"

Arnetta tersenyum dengan  mengangguk singkat.

Ghiaccio GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang