~Prolog~

81 7 1
                                        

"Jadi kenapa kamu tempelin kertas bodoh ini dimading?" Aileen menatap tajam cowok yang ada didepannya. Tak peduli kalau cowok ini merupakan anak dari pemilik sekolah yang sangat elit.

Tangan Aileen memegang kertas yang diambilnya secara paksa dari mading.

"Gue 'kan udah bilang kalau gue butuh bantuan lo," Reval memijit keningnya. Ayolah, dia hanya ingin lepas 'sedikit' dari para fangirl-nya.
"Tapi bisa pakai cara lain 'kan. Ngga kaya gini?" tanya Aileen tak suka. Dia benci jadi bahan ghibah-an murid-murid disini.

"Please, Leen. Udah segala macam cara gue lakuin. Dan semuanya gatol (a.k.a gagal total :v) Gue berharap kali ini gue berhasil. Muak gue sama mereka," Baru kali ini seorang Reval Gavaputra memelas dihadapan orang.

Aileen meringis. "Kasihan juga. Tapi aku yang kena imbasnya. Duh, gimana nih?"

Setelah keheningan tercipta cukup lama akhirnya Aileen mengangguk sambil mencicit, "Yaudah deh, asal ada kontraknya."

Mata pekat Reval berbinar, "Bener? Lo ga main-main kan?"

"Engga kok. Aku masih main. Kadang main petak umpet sama anak-anak di-gang," ujar Aileen polos. Reval benar-benar ingin menjitaknya.

"Ya udah. Apa aja kontraknya?" Reval memasukkan tangan kedalam saku celana.

"Kontraknya..."

***

Hai hai..
Cerita pertama di-wattpad nih :)

Kira-kira apa yang terjadi ya?
Kok ada kertas-kertas yang jadi biang keladinya mereka bertengkar? :v
Terus apa aja kontrak nya?
*ModeManasManasinBiarPenasaran

Penasaran?
Jangan lupa masukkan ke-perpustakaan ya :v

Budayakan VOTE + KOMEN
Maacih :*

My ReasonWhere stories live. Discover now