I. First Meet

34 8 2
                                        

Karena jika kamu benar takdirku, Tuhan punya sejuta cara agar kita bertemu

~~~***~~~

Terlihat matahari sudah meninggi, cahayanya memasuki celah jendela kamar Sheila. Sinarnya menghangatkan wajah Sheila dan menerangi kamarnya yang gelap. Sheila membuka matanya perlahan. Gadis itu melirik jam digital yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Sheila melotot melihat angka pada jam digital itu.

"Jam setengah tujuh?!!" teriak Sheila bangun dari tempat tidurnya.

Sheila memasuki kamar mandinya dengan gesit. Tidak sampai sepuluh menit ia keluar dari kamar mandi dengan memakai seragam sekolah. Gadis itu merapikan rambut lurusnya dan menguncirnya. Menyahut tas dan ponsel yang ada di meja belajarnya, tak lupa membawa sepatu dan keluar dari kamarnya. Sheila menuruni anak tangga untuk sampai di ruang makan.

"Mamaa!!" teriak Sheila sesampainya di ruang makan

"Apa, sih? Pagi-pagi udah teriak aja." sahut Santi dengan santai

"Mama kenapa nggak bangunin Ila, sih?" Sheila memasang wajah cemberut

"Mama udah bolak-balik bangunin kamu, tapi kamu nggak bangun. Yaudah"

Sheila memakai sepatunya dengan wajah cemberut.

"Makan dulu, mama udah siapin sarapan"

Setelah selesai memakai sepatu, Sheila berdiri, "Mama aja yang makan, Ila bisa telat nanti," kata Sheila masih dengan wajah cemberut, "Ila berangkat dulu," Gadis itu meraih tangan Santi dan mencium punggung tangannya, "Assalamualaikum."

"Waalaikumssalam" jawab Santi dengan menggelengkan kepalanya pelan.

Sheila mengeluarkan motor matic dari garasi rumah. Ia memakai helmnya dengan mulut yang dari tadi bergumam tidak jelas. Melihat itu, Pak Edy, supir mobilnya, mendekati Sheila.

"Neng Ila mau berangkat sendiri?" Tanya Pak Edy

"Pak Edy nggak lihat, ya? Ila udah naik motor ya mau berangkat sendiri" jawab Sheila sewot.

Gadis itu melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih tersisa waktu lima belas menit lagi sebelum masuk.

"Ila mau berangkat dulu, nanti telat" kata Sheila melajukan motornya.

~~*~~

Sheila mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata karena ia tidak mau gerbang ditutup sebelum ia sampai di sekolah.

Sheila menurunkan kecepatan motornya saat berada di jalan pedesaan, karena ia pernah menabrak seekor ayam yang akan menyebrang bersama anak ayam lainnya. Sheila merasa bersalah telah membunuh induk ayam itu.

Tiba-tiba di depannya ada seorang cowok memakai seragam tanpa badge sekolah, name tag, dasi. Penampilannya acak-acakan, kemeja putihnya tidak dimasukkan ke dalam celana, kancing atasnya terlepas dan keringat dimana-mana. Di punggungnya masih membawa tas. Cowok itu menghadang Sheila dengan napas ngos-ngosan. Dengan terpaksa Sheila berhenti saat itu juga.

"Gue minta tolong," ucap cowok itu dengan napas terputus

"Eh, tapi," ucap Sheila terputus karena cowok itu mendahuluinya

"Gue lagi di kejar sama orang" cowok itu menoleh ke samping kanan di mana cowok itu tadi berasal.

Disana ada tiga orang yang memakai pakaian seperti preman, bukan, memang itu preman, sedang berlari menuju arah cowok yang berada di depan Sheila ini.

FirefliesStories to obsess over. Discover now