💞PERBEDAAN YANG KONTRAS💞

1.6K 99 71
                                    

Hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional Berbasis Komputer tingkat SMA. Dan Gladis libur hari ini. Tak ada aktivitas yang dilakukannya di rumah. Ia hanya mendekam di kamar ditemani beberapa Novel.

Gladis tersentak saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Kebetulan Bi Tati sedang berbelanja dan Mamanya baru arisan. Gladis turun untuk membuka pintu.

" Ken ... ngapain lo ke sini?" tanya Gladis dengan canggung. Untung saja Mamanya sedang tidak ada di rumah.

"Kita jalan yuk, Dis! Bosen gue di rumah," ajak Ken.

"Gu ... gue ngg ... nggak bisa Ken," ucap Gladis tergagap.

"Please, Dis. Kali ini aja." Muka Ken terlihat memelas.

"Yaudah deh, tapi jangan sampe sore. Gue ganti baju dulu."

"Oke." Ken menyunggingkan senyum bahagianya.

Motor Ken berhenti di sebuah taman. Gladis belum pernah mengunjungi taman itu. Sepertinya taman itu belum diketahui banyak orang karena terletak di pinggir kota.

Angin mendesah menyambut kedatangan dua insan itu. Kesejukan dirasakan Gladis saat berada di taman itu. Udara yang tak tercemar, pepohonan yang menjulang tinggi, dan ketenangan batin. Ken mengajak Gladis duduk di atas rerumputan hijau yang terawat. Di sekelilingnya terdapat bunga mawar merah yang sungguh indah dipandang. Dan tepat di depan mereka duduk sekarang terdapat danau yang jernih ditumbuhi bunga teratai.

"Indah banget, Ken," desis Gladis takjub.

"Iya Dis, di tempat ini gue menghabiskan kesendirian." Ken terlihat senang.

"Gue ngrasain ketenangan batin saat di sini, Dis." Tatapan Ken menerawang ke depan.

"Gue juga, Ken."

Ken bangkit berdiri. Ia memetik bunga mawar merah. Namun tangan Ken terkena duri saat memetik bunga itu.

"Aww," ringis Ken menatap tangannya yang berdarah.

Sontak saja Gladis cemas dan menghampiri pria itu.

"Lo kenapa, Ken? Ya ampun tangan lo berdarah." Dengan sigap Gladis mengambil kotak P3K yang dibawanya. Gladis membersihkan luka di tangan Ken dan memperban luka Ken itu. Dalam diam Ken memandangi wajah Gladis yang terlihat cemas. Sesekali Ken tersenyum.

"Lo kenapa metik bunga mawar sih, Ken? Bunga mawar kan berduri." Gladis masih sibuk membalut luka Ken.

"Metik bunga mawar itu ibarat ndapetin cinta lo, Dis. Harus merasakan sakit dulu buat ndapetinnya." Ken berbicara sambil menatap Gladis.
Sontak Gladis memalingkan muka dan memasukkan kotak P3K. Ken masih saja menatap Gladis tanpa berkedip.

"Gu ... gue laper, Ken." Gladis berusaha mengalihkan perhatian Ken.

"Lo laper? Ya udah kita makan dulu," ajak Ken.

Ken melajukan motornya meninggalkan taman itu. Setelah lima belas menit perjalanan ia memberhentikan motornya di sebuah warteg.

"Lo nggak pa-pa kan makan disini?" tanya Ken sedikit ragu.

"Gue nggak masalah makan di mana aja Ken," ungkap Gladis tersenyum. Ken memasuki warteg itu disusul Gladis di belakangnya.

"Eh Mas Ken ... udah bawa cewek aja. Di kenalin dong," ucap Bu Wati pemilik warteg itu. Muka Gladis bersemu merah.

"Ini Gladis bu, temen saya."

"Oh gitu to, mau pesen apa
Mas Ken?" tanya Bu Wati.

"Lo mau makan apa, Dis?" tanya Ken

"Samain aja, Ken."

"Yang biasanya dua, Bu. Terus minumnya es jeruk dua."

Mencintai Tanpa dicintai [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang