Fifteen

24 2 0
                                    

Alena berjalan tergesa-gesa. Hari ini ia terlambat lagi. Sampai ia tak sadar menabrak seseorang. Bukannya minta maaf, dia terus berjalan tanpa melihat orang yang ditabraknya.

"Huft..." Alena duduk bersender di bangkunya.

Dila menatap sobatnya itu penuh kasihan. "Malangnya nasibmuu nakk.." serunya membelai lembut rambut coklat milik Alena.

"Tau ah..bodo!" geram Alena.

"Btw, gimana? Soal hp lo? Ketemu? Soalnya kemarin gue chat tapi cuma di read doang."

Alena melirik temannya kini. "Hp? Read? Hp gue aja belum ketemu, gimana bisa nge read."

"Terus siapa yang nge read dong??" Dila kebingungan, sedangkan Alena terlihat santai saja.

"Elios pasti. Tuh demit yang nyolong hp gue." ucap Alena dengan kesal.

"Elios?" Dila sempat tak percaya. Tapi kemudian.."Gak ada salahnya juga sih dugaan lo..tuh orang kan emang nyebelin tingkat devil."

"Tau ah..gue gak mood." Alena menutup mukanya dengan kedua tangan.

🍂🍂🍂

"Len! Kantin kuy!!" ajak Dila saat bel istirahat berbunyi.

Alena yang masih setengah bad mood menggelengkan kepalanya.

"Halah..hayukk!" Dila dengan sisa tenaganya menyeret Alena sampai ke kantin.

"Lo pesen apa?" tanya Dila, Alena sama sekali tak menangapinya. Ia meletakkan kepalanya dimeja. Sama sekali tak ada semangat untuk makan.

Dila mendengus sebal. Lalu beranjak pergi menghampiri ibu kantin untuk memesan makanan.

Alena yang setia berbaring, terganggu oleh bunyi berisik yang mengema di meja.
"Ihh..Dila diem!!" Bentaknya, ia mendongakkan kepalanya.

Seperti dibekukan waktu. Dia diam beberapa detik. Mengamati apa yang dihadapannya itu adalah sesuatu yang tak nyata.

"Dee.." ucapnya terbata. Tak mampu mengungkapkan apa-apa.

"Hai!"

"Dee..Deon?" Alena masih tak percaya.

"Yes..I am!" Senyum tipis terlukis di kedua ujung bibir pria yang bernama Deon itu.

"Gak..mungkin" Alena menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Gak usah sok syok gitu deh!" Deon menjitak kening Alena dengan pelan.

"GILA!! INI BENERAN KAMU!!" teriak Lena membuat seisi kantin menatap kearahnya. Ia refleks membungkam mulutnya.

"Wee..gak berubah." Deon menyesap minuman soda yang dibelinya.

"Kok lo bisa disini sih?? Gimana ceritanya??" Alena bertanya tanpa ada jeda. Membuat Deon tertawa menampilkan gigi ginsul miliknya yang membuatnya tambah tampan.

"Ehemm.." suara seseorang membuat kedua remaja itu menoleh bersamaan. Disana berdiri Dila membawa nampan berisikan mie ayam dan es jeruk.

Ia melihat Deon dengan tatapan asing. "Ohh..em, Dil kenalin..dia Deon, temen gue waktu smp." seru Alena membuat Dila menangguk paham.

"Hai." Deon melambaikan tangannya.

"Deon..ini Dila, temen gue dikelas."
Dila tersenyum lalu duduk disebelah Alena.

"Oh..jadi kamu murid pindahan?" Tanya Dila

"Iya." jawab singkat dari Deon.

"Kamu kesini...nyusul Alena kah?" Alena menatap tajam earah Dila yang hanya cengar cengir ditatap olehnya.

"Itu...rahasia."
Jawaban dari Deon membuat Dila terkejut.

"Makan tuh!!" tawa Alena pecah, melihat teman perempuannya itu merasa dipermainkan oleh mereka berdua.

"Kalian berdua emang sama...sama-sama nyebelin!" Ketiga remaja itu tertawa, sampai tak merasakan tatapan tajam dari seseorang disudut kantin itu.

Yah, lebih tepatnya tatapan tajam itu diberikan untuk Alena.

INVOLUTETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang