•●•●•●•
Sudah banyak hembusan nafas pasrah yang keluar dari mulutnya, beberapa kali kakinya dimainkan sendiri agar tidak merasa lelah. Sejak tadi juga sepasang mata coklat itu tidak berhenti untuk berkeliaran, menatap seluruh penjuru ruangan yang belakangan ini sudah sangat dihafalnya.
Lagi dan lagi ia berdecak kesal, yang kemudian akan diikuti dengan berbagai macam sumpah serapah dalam hatinya.
Sebenarnya ruangan ini terasa sangat sejuk, tapi omongan Bapak tua didepannya cukup membuat kedua telinganya panas secara bersamaan.
"Kalau kamu kayak gini mulu, kamu bisa gak naik kelas nantinya. Emang kamu mau Bapak kasih nilai kasihan? Kalaupun Bapak kasih nilai kasihan ke kamu, itu gak bakal cukup kamu tau gak? Kamu itu kenapa sama pelajaran yang umum malah anjlok gini sih nilainya, gimana coba kalau UN nanti? Malah Bapak kan yang pusing."
Hening...
Lelaki tua itu menatap Nara yang bengong sejak tadi, dengan perasaan kesal ia menggebrak kecil mejanya guna membuat kesadaran Nara kembali kepermukaan.
"Nara!" Bentaknya.
"Eh iya Pa? Ada apa?" Jawabnya cepat, seraya membenarkan posisi berdirinya agar kelihatan lebih tegap lagi dari sebelumnya.
"Apaan lagi, kamu ini dengerin Bapak ngomong gk sih?! Bapak tuh capek ngurusin kamu mulu tiap hari, emang kamu gak capek apa diomelin sama Bapak kayak gini? Gak bosen? Hah?"
"Capek lah Pa, masa yang begitu harus ditanyain sih." Jawabnya ngeluh.
"Tuh kan, songong jawabannya."
"Tadi kan Bapak nanya sama saya, ilok Pa gak saya jawab." Ucapnya semakin kecil.
"Hadeeeh, udah! Gak usah dijawab, stress Bapak lama-lama berhadapan sama kamu." Guru itu memutar kursinya untuk membelakangi Nara.
"Saya juga lagi stress Pa." Cicitnya sangat pelan.
"Apa kamu bilang?"
"Hah? Apaan? Gak ada kok Pa." Ucap Nara berbohong.
"Gini aja deh." Sekarang guru itu kembali menghadap Nara sepenuhnya, seraya menatap mata gadis itu dengan tegas. Yang ditatap malah mengalihkan pandangan, memperhatikan sepasang sepatunya sebagai pelarian.
"Sekarang kamu pergi ke kelas XII IPS 1, panggil yang namanya Kim Taehyung abis itu ke sini lagi. Kamu kenal kan sama dia?"
"APA?!" Refleks Nara berteriak seperti itu, dengan cepat ia segera menutup kembali mulutnya sambil mengutuk dirinya dalam hati.
Aah! Goblok! Goblok! Goblok! Bego banget sih lu Nar. - Nara
"Nara! Kamu ini-."
"Aduuuh maaf Pak saya gak sengaja sumpah, maaf Pak." Kata gadis itu takut-takut.
"Udahlah, mending kamu kembali ke kelas kamu sekarang. Kita bahas ini lagi nanti." Usirnya lelah. Dengan gugup, Nara berbalik untuk keluar dari ruangan itu, tidak lupa juga berpamitan dengan sopan sebelum benar-benar pergi seperti yang disuruh barusan.
•●•●•●•
"Gimana tadi?"
Jam istirahat.
Sebelum ke kantin, biasanya Nara akan meminta sahabatnya yang satu ini untuk menemaninya sebentar ke toilet. Ia tidak bisa langsung pergi ke kantin begitu saja, jika keadaannya sangat berdesakan seperti hari-hari sebelumnya.
"Apanya?" Gadis itu mematut dirinya di depan cermin, seraya kembali membasuh tangannya di wastafel sejenak.
"Gak ada kalimat baru?"
YOU ARE READING
Matematika
Fanfiction"Bantuin sih bantuin, tapi bukan ke masalah pribadi lu juga kali. Di kata gue pengacara lu apa? Setelah banting tulang jadi tutor paling sabar." - Kim Tae Hyung "Ngakunya anak olimpiade matematika, jagonya olahraga, bakatnya seni budaya, sukanya bah...
