Satu

181 15 4
                                        


Pagi yang indah di mana burung-burung berterbangan dan bertengger di ranting serta di dahan, menari-nari, sesekali bersiul-siul, ditambah daun-daun jatuh berguguran diterpa angin, embun pun masih menempel tipis di dedahanan, maupun di hamparan padang rumput yang luas.

Di tengah pagi yang belum menampakkan sinar hangatnya para petani, saudagar, maupun nelayan mempersiapkan diri untuk bekerja

Hari ini, di sebuah rumah bergaya tradisional di tengah pedesaan yang makmur, dimana gadis berusia 19 tahun itu tinggal bersama ibu dan adiknya.

Ia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk besok. Hari yang mungkin istimewa menurutnya.
Ia pun pagi-pagi menyibukkan diri menata barang yang diperlukan untuk besok, tidak mau ada yang ketinggalan.

"Shafiy.. Semua sudah kamu siapkan nak?.?" tanya ibu Shafiyya saat memasuki kamarnya.

"Sudah bu, ini yang terakhir." sambil memasukkan barang berupa novel, salah satu hadiah dari gurunya saat lulus dari MAN dengan nilai terbaik di sekolahnya.

Ibu Shafiyya duduk diranjang tepatnya disebelah Shafiyya, menatap lamat-lamat putri sulungnya, mengingat sebagian memori masa lalu saat ia masih kecil, sekarang sudah besar dan ia akan pergi menimba ilmu lagi, tapi kali ini jauh dari pandangan orang tuanya.

Shafiyya lalu menghadap ibunya dan tersenyum, senyuman itu dibalas oleh ibunya, tapi bersamaan dengan jatuhnya air mata di pipi ibunya.

"Ibu... Ada apa?." tanya Shafiyya dengan penuh perhatian. Lebih tepatnya Ada apa Ibu tiba-tiba menangis?.

Ibu Shafiyya pun tersadar dari lamunannya lalu mengusap air matanya.

"Tidak nak.." jawabnya serak, tenggorokan itu serasa tercekat, menahan rasa sedih.

Suara kicauan burung pun terdengar jelas di luar atap rumah mereka, membuat suasana lenggang sejenak.
Shafiyya yang mungkin tahu apa yang dipikirkan Ibunya mulai membuka pembicaraan.

"Tidak apa Bu.. Tidak usah khawatir Shafiyya sudah besar, di sana Shafiyya bisa menjaga diri sendiri, disana Shafiyya bukan untuk rekreasi, tp nuntut ilmu di tempat yang Shafiyya idamkan dari dulu... Toh di rumah juga masih ada Laila yang bisa menemani Ibu." Shafiyya meraih kedua tangan ibunya menyakinkan.

"Shafiyya kan berangkatnya besok... Shafiyya janji deh, ingin menghadiahkan sesuatu yang tidak ada bandingannya di dunia.. Khusus buat Ibu dan Alm. Bapak." Lanjutnya.

Suasana lenggang sejenak, menyisakan tangisan Ibu diantara keduanya.

"Ibu tidak mengharapkan hadiah apapun darimu, asalkan putri Ibu pulang dengan selamat, itupun Ibu sudah sangat bahagia nak, lawan kebodohanmu itu.. Masih ada banyak ilmu yang belum kamu ketahui.. Dan...." tenggorokan Ibu tercekat ke dua kalinya, mengusap air matanya, dan sekarang mengelus kepala putri sulungnya dengan penuh kasih sayang. "Dan jangan lupakan Ibu, juga Alm. Bapakmu." lanjutnya.

Shafiyya pun langsung memeluk Ibunya,
"Bu... Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan Ibu.. Maupun Alm. Bapak." bisik Shafiyya di dekat telinga Ibunya

Hembusan angin yang menerpa pepohonan membuat melodi di tengah kesedihan mereka.

♥♥♥

Tbc
.
Jelek dan kependekan ya?
.
Hehe karena Saya masih amatiran, wkwkwk. Jangan lupa vote ;)
.
O yaa tetep ikuti ceritanya, hmm.. Kira-kira Shafiyya mau pergi kemana hayoo..?? Hehe.. Lihat aja pada Chapter ke 2 yaa
.
Syukron Katsiron deh... :)

★★★

ShafiyyaWhere stories live. Discover now