---- Mengetahui kabar dan memastikan kamu baik-baik saja,adalah salah satu cara membuatku bahagia. - Boy Candra- ----
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Mari kita akhiri," Di tengah derasnya hujan dan juga sunyinya taman kota saat itu, aku mencengkram kuat-kuat kotak hadiah yang baru saja ingin aku berikan kepadanya. Kepada kekasihku, Baekhyun.
Hari ini adalah hari jadi kami yang ketiga tahun lima bulan. Aku masih terdiam menatapnya. Hatiku bergetar. Bagaimana mungkin ia menyudahi hubungan kami yang sudah sejauh ini?
"Kau bercanda kan, Baek--" Perkataanku tercekat ketika Baekhyun meyodorkanku buket bunga besar dari belakang tubuhnya.
"Ani, aku tidak bercanda."
Aku mengambil buket bunga itu, menatapnya tak percaya. Sungguh, rasanya ingin menangis saja kalau begini.
"Selamat hari jadi sekaligus akhir dari hubungan kita, Kang Hana."
Sore itu, mungkin aku adalah orang yang paling patah ketika kamu menginginkan kita pisah, Byun Baekhyun.
• • •
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku menangis sejadi-jadinya di pundak kakakku Seulgi setelah aku pulang ke rumah. Seulgi juga sama kagetnya denganku, bahkan dia mengira kalau kami bisa saja awet sampai kami menikah.
Ia hanya mengelus punggungku lembut, mengatakan hal-hal yang menenangkan hatiku tapi nyatanya sama sekali tidak.
"Aku hari ini ada janji sama Jimin, kau mau ikut?" Seulgi melepas pelukanku, melihat betapa banyaknya air mata yang sudah aku buang demi pria brengsek si Byun Baekhyun itu.
Aku mengelap ingusku asal, "Ya, kau ingin menjadikanku obat nyamuk bakar lavender?"
"Aish, aniyo. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, dia sudah menyukaimu sejak lama." Seulgi tersenyum kecil, mengharapkan jawaban terucap dari bibirku segera.
Aku berpikir sebentar, "Nugu? Kau ingin aku melakukan kencan buta lagi? Jangan bodoh, aku baru saja putus--"
"Dengar, Kang Hana. Obat yang paling ampuh untuk patah hati adalah, jatuh cinta kembali." Seulgi memegang kedua pundakku, menatapku penuh keyakinan.
Detik selanjutnya, ponsel wanita itu berdering terterana nama Jimin berisi embel-embel hati disana.
"Kau mengajaknya? ..., Baiklah, aku juga akan mengajak Hana kesana. Kamu jemput aku kan? ..., Oke, hati-hati di jalan, aku sayang kamu."
Aku hanya memutar kedua mataku malas, ah aku jadi ingat percakapanku dengan Baekhyun di telfon. Dia selalu saja bisa membuatku tertawa dengan perkataannya yang bahkan efeknya bisa sampai keesokan harinya.
Aku merindukannya. Merindukan perihalnya. Kenapa kau lakukan ini, Baekhyun?
"Hana, kau cepat siap-siap oke? Aku tunggu di bawah 30 menit lagi." Setelah itu wanita itu turun dan menghilang dari peredaran mataku. Yang benar saja, kencan buta?
• • •
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jungkook imnida."
Aku menatap pria ini dalam-dalam, sepertiya aku pernah melihat wajahnya. Tapi dimana?
Jungkook tersenyum manis, sangat manis dan juga sedikit lucu.
Kami berempat sedang ada di sebuah club yang cukup terkenal di Seoul. Aku tidak mengerti dengan Jimin dan juga Seulgi, apa enaknya datang kesini? Fyi, mereka bahkan bisa setiap hari datang dan clubbing disini, tidak pernah ada bosan-bosannya.
Jungkook dan aku terduduk di salah satu meja bar hitam sambil menikmati wine pilihan Jungkook.
Kali ini Jungkook mendekatkan kursinya padaku, "Terlalu berisik bukan?" Kata Jungkook sambil meminum wine miliknya.
Oh, ternyata Jungkook juga tidak terlalu menyukai club. Dan saat mataku ingin melihat kearah Seulgi dan Jimin, seseorang dengan tangan dinginnya menyambar lenganku, membawaku pergi menjauh dari keramaian.
Aku menatap punggungnya, dan kulihat lagi tangannya yang masih menarikku semakin jauh.
Jaket ini? Jaket yang pernah aku berikan pada Baekhyun bukan?
Kulihat lagi tangannya. Masih, cincin couple yang dulu pernah diberikan Baekhyun padaku saat hari jadi kami yang kedua tahun itu masih menempel di jari lentiknya.
"Kang Hana." Baekhyun akhirnya melepaskan lenganku ketika sudah di parkiran club.
Pria ini memanggilku? Aku masih diam, menatapnya lamat-lamat.
"Jadi ini kelakuanmu di belakangku? Kau menemui pria lain bahkan ketika kita baru saja putus beberapa jam yang lalu dan sekarang kau sudah menemui pria lain?" Baekhyun sedikit meninggikan suaranya.
Apa-apaan ini? Dia seolah merasa paling tersakiti padahal dia tidak pernah tahu bagaimana perasaanku beberapa jam yang lalu, perasaan yang dia lukai dan dia porak-porandakan tanpa ampun.
"Kita sudah putus." Ucapku dengan intonasi yang datar, namun tegas. Mengisyaratkan bahwa Baekhyun tidak perlu lagi melarangku, dia sudah keterlaluan bukan?
Baekhyun terdiam, detik selanjutnya dia menarik lalu membuang nafasnya kasar. Dia memang salah, dia yang sudah mengakhiri hubungannya bersama Hana.