Kala itu, saat kami berada di bibir pantai. Dia mengelus rambutku tenang. Seolah dalam sentuhan itu dia menyampaikan semua rasa yang dipunya untukku.
Bibirnya tak henti-henti mengucapkan kata-kata yang membuatku tertawa senang. Dia membuat semuanya sempurna, seolah tidak akan ada yang namanya perpisahan antara kami, sekarang dan selamanya. Cukup dengan itu dia membuat ulang tahunku yang ke 18 tahun saat itu menjadi indah.
Puas tertawa, kusandarkan kepalaku di bahunya. Dia dan aku tersenyum, bahagia, menikmati langit yang tiba-tiba saja menjadi abu-abu padahal senja baru saja menghiasi langit dengan indahnya, serta udara yang berubah menjadi dingin.
Cukup lama aku dan dia seperti itu, diam dalam keheningan, tak peduli walau akan hujan. Aku sedang memikirkan bagaimana cara agar aku dan dirinya bisa terus seperti ini. Dia..? Aku tak tahu apa yang difikirkannya, yang pasti dalam raut wajahnya ada sebuah keresahan, yang bisa kukatakan teramat sangat.
“Kamu kenapa?” Kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Aku menegakkan kepalaku. Ku lihat dirinya tersenyum masam, entah apa artinya?
Tiba-tiba saja dia memelukku. Pelukan yang sangat erat, pelukan yang berbeda dari biasanya. Seolah pelukan itu mengggambarkan perpisahan. Aku mencoba membalas pelukan itu, tapi tiba-tiba mulutnya mengatakan sesuatu yang membuatku runtuh.
“Jingga aku titipkan kekasihku bersamamu, ajari dia untuk mencintai fajar, biru, atau lainnya. Yang pasti jangan biarkan dia tetap mencintai dan menunggu Langit! Karena, kau tahu sendiri Langit akan pergi meninggalkannya.”
Ku dorong tubuhnya seketika itu, aku tak percaya dengan ini semua, tapi tatap mata itu mengatakan sebuah kejujuran.
“Kamu bicara apa sih?”
“Venus, biarkan aku memelukmu dengan lama untuk terakhir kalinya!”
“Apa yang kamu maksud dengan ‘akhir’?”
Air mataku mulai meluncur tanpa bisa kucegah. Awalnya ulang tahun yang kukira indah berubah menjadi tangis yang menyiksa. Tapi, kemudian dia mengusapnya sambil berkata.
“Kamu jangan menangis. Aku mau kamu tetap tersenyum seperti biasanya, biar cantik selalu menghiasi wajahmu.”
“Aku tak peduli. Sebenarnya apa yang kamu maksud dengan kata ‘Langit akan pergi meninggalkannya?’ Kau bercanda kan?”
Dia menggeleng dengan pastinya. “Itu benar Venus, aku tak akan bersama denganmu lagi, menghabiskan waktu yang indah bersamamu. Maafkan aku.”
Benar, orang yang ku sebut dengan dia adalah Langit. Dia bernama Langit.
Aku tahu Langit suka bercanda, tapi waktu itu tidak kutemukan nada dan raut muka bercanda sama sekali.
“Aku akan pergi. Aku tidak tahu akan kemana? Yang pasti aku akan pergi sangat jauh, dan aku tak mau kamu mengikutiku. Belajarlah melupakanku, belajarlah mencintai orang lain. Aku mohon jangan pernah menungguku, karena aku tidak bisa berjanji akan kembali. Aku menyayangimu Venus, aku mau yang terbaik untukmu.”
Air mata yang masih mengalir itu menjadi lebih deras saat dia mengatakan alasannya. Seketika saja semesta menumpahkan tangisannya seiring dengan derasnya air mata yang kukeluarkan, memang saat itu tidak hujan deras, hanya gerimis, tapi mampu mewakilkan seluruh perasaanku.
Mungkin juga perasaannya?
※※※※
Hai...ini cerita baruku. Semoga kalian suka.
Jangan lupa vote dan comment ya, karena hal itu akan berpengaruh sekali buatku.
Oh ya, jangan lupa juga follow ig ku dengan nama @lailil_nurf
Terimakasih.😊😘😘
YOU ARE READING
Jarak [LENGKAP]
Short StoryAku percaya kamu pasti akan kembali. Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, 'Hubungan yang digenggam terlalu erat ujung-ujungnya perpisahan.' Aku percaya karena aku sudah membuktikan itu. Mungkin, aku terlalu berlebihan dalam mencintaimu. Mak...
![Jarak [LENGKAP]](https://img.wattpad.com/cover/149296466-64-k36848.jpg)