Akad

25K 1.3K 21
                                    

H-6

Pak Andre masih sibuk di kampus, sedangkan aku di rumah menyiapkan segala keperluan pernikahan termasuk mental. Semakin kudekatkan diri kepada Allah. Agak panik sebenarnya. Karena sebentar lagi aku menjadi seorang istri, mengemban tugas yang tak mudah tapi disitulah aku dapat meraih pahala besar.

"Mbak, tetap jadi dirimu sendiri. Jangan punya pikiran yang aneh-aneh. Nikmati setiap roller coaster kehidupan. Karena menikah itu bukan mengejar kebahagiaan tapi mengejar ridha Allah." Kata ibu saat kami sedang duduk-duduk diteras setelah pulang kajian.

"Fia sih pengennya gitu, tapi terkadang..." inilah permainan setan yang harus kita lawan.

"Sudah, serahkan pada Allah. Berbaik sangka selalu."

H-5

'Sayang, apa semuanya sudah terpenuhi?' Telfon calon mertua suatu pagi tentang segala keperluan pernikahan kecuali mahar yang masih di rahasiakan dan dibawa oleh pihak keluarga pak Andre.

"Sampun ibu, ibu jangan khawatir. Sudah aman semua."

'Ya sudah, tapi di cek lagi. Takutnya ada yang kurang.'

"Iya bu."

H-4 dan 3

Aku akhirnya tumbang. Demam menyerangku sejak pagi, ibu menyuruhku bed rest dan makan banyak. Tapi itu tetap tak menambah berat badanku.

"Dek, jangan tegang dong! Nanti pas hari H gimana?" Kakak memarahiku seperti biasa.

"Iya kak, maaf."

Hari-hari selanjutnya aku mulai tenang dan menikmati kegiatan memasak untuk orang rumah di pagi hari. Selain nambah kegiatan biar pikiran nggak berkelana kemana-mana juga supaya nanti saat sudah menikah, bukan 3T (tempe, tahu, telor) yang aku suguhin ke pak Andre.

Sebenarnya aku cuma nggak bisa masak lauk pauk seperti soto, rawon atau masakan lain yang menggunakan bumbu rumit tapi kalau simpel-simpel seperti sayur sop, cap cay dan teman-temannya aku bisa. Dan aku juga lebih jago bikin roti atau kue di bandingkan masak untuk sehari-hari. Tapi ya masa' pak Andre aku masakin kue tiap hari??! Diebetes dong?

H-2

"Gimana perasaanmu mau nikah?" Tanya Caca yang kebetulan ke rumah setelah ia pulang ngajar.

"Deg-degan lah pasti, kamu tahu gimana rasanya." Kataku sambil menyuap puding strawberry.

"Kalian melakukan komunikasi?"

"Udah hampir seminggu ini aku cuma kontak dengan ibu mertua."

"Wah, pingitan ceritanya?"

"Nggak juga sih. Kita nggak ngerencanain untuk nggak komunikasian tapi mungkin karena dia nggak ngehubungi dan aku dari dulu jarang memulai duluan jadi ya... gitu lah."

"Sebenernya gimana sih cerita kalian itu?" Aku mengerlingkan mata sambil tersenyum.

"Ntar aja aku ceritain."

"Ck.. nyebelin." Ia kesal padaku sambil meneguk minumannya. "Padahal dulu pas aku pacaran dengan suami, aku cerita lho!" Memang aku dan Caca lebih dekat satu sama lain di bandingkan dengan yang lainnya. Aku tertawa kecil.

H-1

Perbanyak sholat dan dzikir adalah yang aku lakukan setiap waktu, untuk menenangkan diri.
Sejak pagi rumahku sudah ramai, mulai dari pasang terop di depan rumah hingga keluarga jauh yang datang untuk mengikuti pengajian di rumah malam ini sebelum besok acara akad. Nggak banyak yang hadir, hanya ibu-ibu pengajian RT setempat dan keluarga. Saat pengajian aku duduk diapit adik dan ibuku. Sambil menyimak lantunan ayat suci al quran, air mata tak bisa berhenti mengalir. Terlalu menghayati serta ingat bahwa besok aku menjadi istri orang dan aku masih belum menjadi anak yang baik bagi ibuku. Sesekali ibu menyeka air mataku dan memeluk bahuku. Adikku menggengam tanganku.

Bertemu di AkadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang