Suara riuh tepuk tangan menyadarkanku yang tenggelam dalam lautan kata yang diuntai begitu indah dan dilafalkan oleh seseorang yang gesturenya begitu pas bahkan tempo nafasnya juga sempurna.
"Boros wey, boros! Udah kali tepuk tangannya." Tegur Sera padaku yang kembali tersadar bahwa aku adalah satu-satunya orang yang masih terus bertepuk tangan disaat semua telah menyelesaikan acara tepuk tangan kagum mereka pada seorang laki-laki yang baru saja menyelesaikan puisinya.
Aku segera menyembunyikan tanganku yang terlanjur malu, tertangkap basah oleh orang orang disekitarku yang tengah menatapku dengan rasa geli dan sebagainya yang tentu saja hanya mereka yang tahu. Aku menatap seseorang yang telah menyelesaikan puisinya barusan yang kini juga tengah menatapku dengan senyum miring.
Untuk ketiga kalinya aku kembali tersadar kalau orang tersebut memiliki senyum manis yang mematikan! Dan sukses membuat ku salah tingkah. Persetan dengan aku yang lagi salting orang tersebut langsung menuruni tangga dan langsung pergi keluar ruangan tanpa menatap ku lagi, seolah aku yang ditatapnya tadi hanyalah angin lalu.
"Untuk peserta lomba baca puisi nomor urut 4 atas nama Diandra Sera untuk segera menuju panggung, terima kasih!" Kata seorang panitia lomba baca puisi dalam rangka menjelang HUT Sekolah kami.
"Semangat Sera!" Ujarku memberi semangat pada sahabatku ini.
"Lo mah udah bikin gue down."
"Loh kenapa?"
"Tadi ngapa pake acara ngasih A+ ke lawan gue?" Protesnya yang mengundang senyumku.
"Hehe sorry. Udah sono maju! Entar gue bakal kasih A+ juga ke lo."
Sera segera meninggalkan tempat duduknya dan langsung naik ke panggung siap untuk membawakan puisinya.
Saat tarikan nafas Sera yang akan disusul oleh suaranya pada saat itu juga seseorang duduk di kursi yang tadi ditempati Sera. Tepatnya di samping ku. Aku menolehkan kepalaku reflek dan mendapati seorang pemilik senyum manis tadi yang tengah meminun es teh kotak digenggamannya.
Aku melongo seolah melihat iklan minuman teh disela acara tv sinetron hantu-hantu kesukaan Mama ku.
Orang tersebut menoleh kearah ku masih dengan mulutnya yang menyedot teh didalam kotak dan masih digenggamnya. Suasana mendadak sunyi, bahkan suara Sera yang tengah berpuisi ria sekalipun menggunakan microphone di depan sana saja tak terdengar oleh ku.
Orang tersebut tersenyum padaku. Senyumnya manis. Itu yang terlintas diotak ku Blush! Wajah ku terasa panas saat itu juga.
'AAA!!! Gue nyerah, please senyumnya jangan manis-manis ntar gue diabet!'
To Be Continue
8 April 2018
💞
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Dalam Partitur
Подростковая литератураOriginal story aturan tak tertulis larangan untuk pacaran sebelum SMA membuat Kenzi sangat minim pengalaman dalam hal percintaan. Itulah mengapa ia tumbuh menjadi gadis yang dipenuhi rasa ingin tahu gimana sih rasanya pacaran sama dia? dia? dan dia...
