Corona virus make anything confused. aku baru saja bisa pulang ke tanah kelahiran, Indonesia. Setelah menjelma dan melakukan study di paris, Akhirnya kuselesaikan juga Tanggung jawab itu dan sekarang terasa masih bermimpi telah menginjak kaki disini, 10 tahun sudah waktu kulewatkan tanpa bersama dengan orang tua, dengan budaya, dengan kearifan lokalnya dan mungkin juga dengan dia? Apa kabar dia sekarang? Apakah sudah memiliki kehidupan baru, menikah? Atau pacar baru? Terakhir kudengar dia sudah menggelar S1, Alhamdulillah, Ah tak perlu dipikirkan, sekarang aku hanya ingin pulang ke rumah bertemu orang tua, keluarga besar, sungguh rindu hati ini.
Dibandara Aku menunggu taksi sambil memainkan benda pipih yang disebut handphone, tadinya memang ingin dijemput keluarga besar ke bandara langsung, tapi aku sendiri meminta untuk mereka menunggu dirumah saja. Ditambah lagi hujan turun dengan angin kencang membuat jalan licin biasanya begitu sih.
Beberapa menit kemudian, Seseorang wanita juga baru keluar dari pintu utama masuk membawa koper dengan wajah lelah, mencari tempat duduk, mungkin dia akan menunggu dijemput juga, tempat duduk penuh semua kecuali kursi disampingku, dia berjalan kemari dengan wajah yang ku tak mengerti artinya.
"Mas, boleh numpang duduk disitu?"
Tanyanya padaku.
"Eh, silahkan mba duduk saja tidak masalah"
"Terimakasih mas"
"Iya"dengan rada sedikit heran aku menjawab sebab suaranya seperti tak asing ditelinga, tapi tak mungkin dia bercadar, sebab orang yang duduk disebelah ku mengenakan cadar.
Wanita itu rupanya kedinginan akibat hujan diluar yang begitu deras ditambah angin kencang, padahal pakaiannya benar benar tertutup rapi ditambah gamis yang dikenakan sepertinya begitu tebal. Ouh tunggu kenapa aku begitu memperhatikan nya, apa karena suaranya tadi membuat ku penasaran ingin tahu siapa dirinya. Tapi itu sepertinya lancang sekali.
Ina Pov
"Mba, bangun.. sudah sampai tujuan" seseorang pramugari wanita membangunkanku yang sangat nyenyak tidur, kulihat sekeliling.
"Loh, orang orang pada kemena mba? Tanyaku dengan begitu kaget melihat sekeliling kursi pesawat kosong tak ada siapapun
"Udah pada keluar mba 5 menit yang lalu, kan sudah sampai.. mba betah banget tidur jadi tidak enak membangunkan tadi, tapi karena kursi ini ingin dibersihkan makanya saya bangunkan mbanya" jawab pramugari sambil tersenyum
"Aduh, maaf banget ya mba jadi merepotkan hehe, makasih mba sudah membangunkan, kalo begitu saya segera keluar"
"Iya silahkan mba"
Dengan nyawa yang masih sedikit terkumpul, ku raih koper dan kemudian berjalan kearah tempat tunggu, aku berharap abang sudah disana sehingga tak perlu lama lama duduk membatu dikursi tunggu. Terlebih lagi hujan yang begitu deras pastinya Jalanan licin.
Aku berjalan ke pintu utama, kulihat sekeliling, Astagfirullah penuh semua ... Kucari lsgi dengan teliti, Alhamdulillah ada satu kursi kosong disamping lelaki, tunggu.. lelaki? Aish kurang beruntung nampaknya aku tapi yasudah lah dari pada aku pingsan berdiri menunggu abang lebih baik duduk disana saja.
"Mas, boleh duduk disini" dengan ragu ragu aku bertanya sebab lelaki itu nampaknya begitu fokus dengan handphone ditangannya.
"Eh, iya silahkan mba duduk tidak masalah"
"Terimakasih mas"
"Iya"
aku langsung bingung berpikir lima kali dengan suara itu, dengan mata itu.. apa mungkin dia? Wait aku memang lupa wajahnya tapi aku ingat suara dan mata hijau itu, tapi tidak mungkin 10 tahun dia memilih kembali ke Indonesia bukankah disana dia betah? Ah pasti tidak mungkin dia. Kutepis pikiran itu walaupun aku sedikit yakin itu memang dia, aku langsung memilih duduk saja. Beberapa menit rupanya cuacs dingin membuat tubuhku kaku kedinginan, aku lupa mengenakan Jaket, kupikir sudah cukup menggunakan gamis ini. Tapi yasudah lah tidak masalah
YOU ARE READING
LIVE AFTER
SpiritualKetika kau berada di ambang pintu kegelisahan, yang mendapatkan dua perjalanan, perjalanan manakah yang akan kau ambil wahai sang lelaki dan wanita
