Kota tanpa dirimu, lagi.
Semesta, 8/1/18.
Sore ini sang pelukis langit nampak lupa memberikan warna jingganya. Yang Ia lukiskan dikanvas semesta hanya warna kelabu. Namun, untukku sendiri hal itu tak berarti apa-apa. Mau itu warna putih, biru, maupun abu-abu, tetap saja semesta tak akan pernah berhenti untuk mengabarkan kepadanya, bahwa aku di sini sedang rindu.
Kotaku sore itu tak ada yang spesial, semuanya masih sama, langit masih kosong, senja pun tak terlihat seperti biasanya. Jalanan penuh dengan kendaraan yang tak mau mengalah. Berkali-kali terdengar klakson yang membuatku sakit kepala. Untung masih ada ruangan ini.
Jagat raya sedang merayu untuk dibuatkan larik-larik puisi, dan syair-syair penyayat hati. Ruang dalam Bumi seakan berkonsorsium . Walau semesta tak ikut andil, sastra tetap mengalir.
Dengan buku serta beberapa surat yang kini ku genggam, tak luput secangkir kopi hangat kesukaanmu. Bersama dengan tenggelamnya sang surya, akan kuberi tahu mengenai satu hal.
"Kamu mau baca kan?"
Aku menoreh tinta diatas kertas putih untuk kutulis kata lalu menjabarkannya dalam bahasa sederhana. Sesederhana ketika mataku mulai malu-malu melirik kearahmu. Merekam baik-baik apa yang nanti mungkin akan menjadi warna-warna rindu. Lekuk wajahmu, senyum simpulmu, serta lensa mata coklat yang seakan mengutukku untuk menjadi si bisu.
Ntah bagaimana caranya diriku bisa menggambarkanmu di dalam sebuah kata lalu merangkainya. Cara-caranya biar saja kupikir kan nanti. Sekarang bacalah walau sebaik puisiku tak berarti.
Kini..
Saat waktu tak lagi sama.
Saat degupan tak lagi seirama.
Saat jalan tak lagi searah.
Bisakah aku memintamu agar tetap disini, bersamaku?
Kita berbeda, ya, Aku tau.
Kita tak mungkin sejalan, Akupun paham akan hal itu.
Lalu? Salah siapa?
Semesta bahkan tak pernah memberiku tanda-tanda bahwa rasa ini akan ada.
Lalu? Mau salahkan siapa?
Cobalah untuk mengerti perasaan kaku yang terus menujam hati.
Secarik puisi, yang katamu akan abadi.
Akankah apa-apa yang kau katakan mungkin terkabulkan?
Langit..
Tau kah kamu
Bagiku kamu terlalu tinggi untuk dicapai.
Kamu, terlalu jauh untuk kuraih.
Dan Aku tau benar walaupun nantinya tujuan kita sama, kita tak akan pernah bisa bersama.
Semesta memang sebaik itu, bukan?
Mudah saja membuat karya, katamu. Aku bahkan masih ingat jajaran gigi putih bersihmu ketika tertawa membaca surat pertamaku. Ah Langit, aku malu. Kau tau?
Mungkin benar kata para ahli sastra. Menulis adalah berkerja, bekerja untuk keabadian. Ya Langit, aku hanya mau menjadi wanita yang selalu sempurna dimatamu. Pun saat ini, saat kuberanikan diri mengambil resiko ditertawakan para penasihat alam.
Katamu, ketika wanita dapat berpuisi, kecantikannya bertambah. Ah masa iya, sih?
Ku pura-pura saja percaya. Tapi sekarang aku tau, cantik bukan fisik yang baik. Cantik ketika kita bisa melawan segala yang ada demi menggapai cita.
Bukan mudah menjadi penulis. Benar Langit? Ya, walau tak mudah, aku akan terus mengabadikan cerita kita. Aku akan menjadi penulis hebat yang menceritakan sosok hebat sepertimu.
Setelah dimensi dimana kau hilang ditelan Bumi. Terbesit satu pertanyaan, Langit.
'Jika mengagumimu sangatlah mudah, bagaimana membencimu bisa sesulit ini?'
'Mengapa setiap hal-hal kecil yang berhubungan dengan mu selalu terkesan mengingatkan?'
'Jika jatuh hati padamu bisa tiba-tiba seperti ini, lalu mengapa untuk melupakan mu membutuhkan waktu yang begitu lama?'
Jawab Langit. Aku butuh jawaban. Bukan senyuman yang kembali menggores tumpukan luka yang ku pendam.
Langit..
masih ingatkah kamu tentang surat yang kau kirimkan padaku dikala aku benar-benar merasa terpuruk saat itu?
Ditanggal, bulan, bahkan hari yang sama, semua surat yang kamu kirimkan untukku masih tersimpan rapih. Terabadikan dalam sebuah catatan bersampul coklat nan kusam. Catatan yang kuberi judul.
Catatan dari langit
-
-
Cerita sedang kurevisi.
Mungkin ada perbedaan alur dan lain-lain. Namun jangan khawatir, secepat mungkin kalian akan kembali bermain perasaan bersama paus, wuwuwuuw.
YOU ARE READING
Catatan Dari Langit
Teen FictionCerita pertama, masih banyak kesalahan. Sedang direvisi. Bagi sebagian orang mungkin menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Yang terkadang menjadi alasan sebuah perpisahan. Benar begitu? Namun tidak untukku. Menurutku menunggu adalah alasan kenap...
