7. Two times a day

1K 204 18


Gue punya masalah kemarin.

Hmm... itu bukan kalimat yang tepat. Yang benar adalah 'gue bawa masalah kemarin'. Masalah itu kini berada di kamar gue.

Tidak banyak yang gue ingat saat bangun tidur pagi ini. Gue ingat tadi malam mabuk berat dan pulang ke rumah gue dengan kepala yang mungkin rasanya seperti habis dipukul.

Pagi ini saat bangun, rasa sakitnya menjadi berkali- kali lipat. Kepala gue serasa mau pecah karena suara dering ponsel yang memekakkan telinga. Bantal, mana bantal?! Gue tutupin kepala gue dengan bantal dan dering ponsel itu masih juga bikin kepala gue berdenyut- denyut. Tangan gue menggapai- gapai kasur dan menemukan ponsel gue yang masih belum menyerah mengganggu tidur gue.

Siapa sih yang telpon pagi- pagi gini??

"Halo?"

"Bang Al, belum bangun?"

"Udah. Berkat kamu!" maki gue pada Rycca. Ngapain sih dia ganggu tidur gue? Ini masih pagi!

"Tapi ini udah lewat dari jadwal harusnya Bang Al ke studio!"

"Aarrrghh.... Jangan teriak!" Tangan gue menekan - nekan sisi kepala yang kembali ngilu mendengar omelan Rycca. Damn! I won't touch alcohol again!

Mudah- mudahan tekad gue kali ini bener- bener akan gue lakukan. Gue tahu alkohol tidak baik buat tubuh, apalagi kepala gue, tapi gue susah berhenti minum. Suara berisik di ujung sambungan telpon lagi- lagi bikin gue pusing.

"Dua jam lagi kita ada pemotretan. Bang Al nggak lupa kan? Gladys udah bilang mereka bakalan on time, jadi lebih baik kali ini jangan Bang Al yang telat,"

Entah apa yang selanjutnya Rycca ocehkan, gue udah nggak bisa berkonsentrasi dengan sakit kepala yang terus menyiksa ini. Gue matikan telpon dan melempar ponsel gue ke tempat tidur.

"Morning. You look like a shit,"

Gue mengerang saat mendengar suara si sumber masalah gue. Cewek dengan rambut cokelat panjang itu bersandar di dinding kamar dengan memegang cangkir. Dia memakai kemeja gue yang kebesaran dan hanya menutupi separuh pahanya. Dengan tersenyum dia menghampiri gue dan menyodorkan cangkir itu.

"Tea for your hangover," ucapnya.

"Thanks, Ol," kata gue kemudian menyesap teh hangat yang diberikannya. Gue menutup mata dan meresapi aliran hangat di tenggorokan gue. Lumayan lah bikin gue nggak terlalu eneg. Walaupun pusing gue masih belum berkurang.

Olla mengacak-acak rambut gue yang langsung gue tepis dan gue balas dengan pelototan. Cewek ini selalu senang mengacak- ngacak rambut gue kapan pun punya kesempatan. Dia berdecak lalu menuju lemari pakaian gue, membukanya dan mulai seenaknya bongkar sana sini.

"Lo nggak bisa ya nggak ngacak- ngacak lemari gue?" Sebenarnya gue kesal melihat Olla membuka- buka lemari gue seenaknya, tapi dia nggak pernah bisa gue larang.

"Baju gue dimana ya Al?"

"Nggak ada disitu. Gue buang,"

"What?!" Olla kini menatap gue melotot. Matanya yang memang sudah belo, jadi tambah gede, seperti burung hantu. Ok, seriously. I should'nt think about that and laugh. If she knows my thought, she will be furious. She hates my nickname for her. Owl.

"Are you fucking serious?!" Nah, sekarang saja dia sudah mulai marah.

"Salah sendiri ninggalin barang seenaknya disini. Udah kayak jelangkung aja: datang tak dijemput, pulang tak diantar,"

"Heh! Elo harus antar gue pulang entar!"

Gue bangkit dari tempat tidur. "Nggak bisa. Gue ada pemotretan dua jam lagi," kata gue kesal. I love her, but she's so demanding. I can't tolerate her right now.

Sunrise RubyRead this story for FREE!