4. Jalinan Hati yang Rapuh

1.2K 229 23

Kupandangi seluruh ruangan yang telah kurapikan. Beberapa kardus terletak acak di ruang tengah dan lemari serta rak buku kini kembali kosong tanpa ada barang-barang yang diletakkan disana. Aku menghela napas memandangi ruangan ini. Setelah tiga tahun, akhirnya aku harus pergi dari rumah kontrakan yang nyaman ini.

Rumah yang kukontrak berukuran cukup besar untuk satu orang meskipun hanya terdapat satu kamar tidur, kamar mandi, ruang tengah dan dapur. Meski begitu rumah ini cukup nyaman karena memiliki teras dan halaman, sehingga dua orang pekerja bisa membantuku membuat kerajinan aksesoris disini.

Selain itu, ibu pemilik rumah ini juga menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari Mama. Bukan berarti aku tidak menyayangi Mama. Aku menyayangi Mama, sangat. Tapi hal itu berbeda dengan rasa nyaman. Dan harus kuakui kalau Mamaku adalah orang yang sulit diajak untuk bersenang-senang. Dengan kata lain, kaku.

Tinggal disini adalah salah satu hal yang menyenangkan untukku, karena tidak perlu sesering mungkin berada di bawah pengawasan Mama. Namun sejak beberapa bulan lalu aku lebih sering tinggal di rumah orangtuaku. Meskipun begitu, aku tetap ingin hidup sendiri. Jadi supaya tidak terlalu menyulitkan, aku akan pindah ke kontrakan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari toko.

"Oke, selesai,"

Aku melihat pekerjaan yang dimaksudkan Alea dan mengernyit saat menghitung jumlah kardus. Memangnya barang-barangku sebanyak ini ya?

"Kebanyakan bahan-bahan untuk bikin aksesoris dan buku-buku sketsa,"

"Oh,"gumamku saat menyadari apa yang disebutkan Alea.

Meskipun toko aksesorisku tidak besar, namun berbagai aksesoris buatanku cukup diminati. Apalagi kebanyakan semuanya merupakan rancanganku sendiri. Selama ini aku suka sekali menyalurkan ide desain aksesoris dengan buku-buku sketsa yang selalu stand by kubawa kemanapun. Tanpa sadar, buku sketsa milikku sudah sebanyak itu.

"Kapan gelang kamu jadi? Aku mau ya satu,"

"Enak aja! Beli!"cibirku tertawa. Namun tentu saja aku akan memberikannya pada Alea. Biasanya selalu begitu, aku akan memberikan aksesoris baru buatanku yang ditaksir Alea.

"Ntar juga kamu kasih," Alea memeletkan lidah. "Kapan sih jadinya?"

"Dua hari lagi dikirim Pakde,"

Pekerjaanku membuat aksesoris dari berbagai bahan. Mulai dari manik-manik dan benang senar, kulit, stainless steel, hingga perak asli. Untuk perak asli, dibuat khusus di pengrajin perak di Kota Gede, Yogyakarta. Aku memanggil pengrajinnya dengan sebutan Pakde, karena dia mengenal Papa sejak lama dan aku sudah menganggapnya keluarga.

"Trus udah ada desain baru lagi? Atau gelang itu yang mau dipakai modelnya?"

Ah ya, majalah ya. Aku benar-benar lupa. Kesibukan membuat produk baru dan berbagai masalah membuatku lupa dengan hal itu. Salah satu majalah fashion ternama ingin menampilkan produk buatanku di majalah mereka. Memang akhir-akhir ini produk buatanku cukup terkenal dan laku di pasaran, tapi aku sama sekali tidak menyangka akan masuk majalah fashion.

"Hmm... Kayaknya sih. Ntar aja ah dipikirinnya,"

Alea mencibir, membuatku terkekeh. Ya mau bagaimana lagi, aku belum terpikir produk yang mana untuk kupamerkan. Karena menurutku semua yang kubuat bagus dan spesial. Nanti sajalah dipikirkan lagi.

"Udah kelar belum?"

Aku menoleh melihat Hesa, satu-satunya sahabat cowokku, baru tiba dan langsung menghampiri tumpukan kardus. "Ini semua yang mau diangkat? Nggak ada lagi kan?"

"Udah, itu aja. Tolong ya Hesa.."

"Yoai..."kata Hesa lalu mengangkat dua kardus sekaligus untuk membawanya ke mobil. Kurasa ini salah satu kelebihan memiliki sahabat cowok, dia selalu bisa diandalkan dalam hal-hal seperti ini.

Sunrise RubyRead this story for FREE!