5. Momen dan Foto

890 192 29

Ada alasan khusus kenapa gue suka fotografi.

Umur gue baru masuk 10 tahun saat gue kenal Om Mikail, teman bokap gue. Om Kail --panggilan gue ke dia-- mungkin pria dewasa paling nyentrik yang pernah gue kenal saat itu. Rambutnya gondrong berantakan, melewati bahu. Matanya selalu terlihat tertawa di balik kacamata persegi empatnya.

Dengan kemeja flanel serta celana jeans belel, entah kenapa gue selalu merasa Om Kail keren karena menenteng kamera kemana-mana. Tapi bukan Om Kail yang bikin gue suka memotret. Si kecil Rycca yang membuat gue jatuh cinta sama dunia fotografi.

Waktu itu gue diajak bokap ke rumah Om Kail. Rycca yang saat itu berusia 4 tahun mengajak gue ke sebuah ruangan yang terdapat karya-karya Om Kail disana. Awalnya gue pikir ada foto-foto dengan berbagai macam obyek yang dipajang di ruangan itu. Ternyata gue salah. Hanya ada satu obyek foto disana, dengan berbagai pose dipajang di seluruh ruangan.

"Ini Mamaku, Bang Al," kata Rycca dengan senyuman lebarnya. "Cantik ya?"

Saat itu gue tahu kalau ibunya Rycca sudah tiada. Dan foto-foto itu yang membuat Rycca mengenal sosok ibunya. Waktu itu gue baru mengerti kenapa ada orang seperti Om Kail yang sangat mencintai fotografi.

Mungkin sejak itu, gue tertarik sama dunia fotografi. Ada berbagai kenangan dan makna dari seseorang, ataupun benda yang bisa tersimpan abadi dalam foto.

Memang sekarang ini teknologi sudah semakin canggih, orang sudah bisa merekam video dengan kamera ponsel. But there's something special about photograph... yang kalau momen itu ditangkap dengan benar akan menjadi momen tak terlupakan. Momen yang akan terus dikenang saat melihat foto itu.

Dan sekarang gue terus-terusan memandang foto cewek itu. Foto cewek yang gue panggil Ruby. Bukan bermaksud narsis ataupun kepedean, gue jatuh cinta sama hasil foto gue sendiri.

"Ayca suka banget sama foto Bang Al yang ini,"

Gue menoleh ke arah Rycca yang kelihatan kagum sama foto yang sedang gue pajang ini. Anak ini selalu bilang begitu ke hampir semua foto gue.

"Jadi favorit kamu foto yang ini atau foto yang sebelah sana?" Gue nunjuk foto matahari terbit yang berada di dinding dekat ruang tengah.

"Sekarang yang ini dong," kata Rycca nyengir. Setelah selesai memajang pigura hasil foto gue, gue langsung menjitak Rycca.

"Makanya kamu rajin motret, biar foto-foto kamu bagus juga,"

"Udah rajin banget inihhhh..." Rycca cemberut dengan mengusap - usap kepalanya yang gue jitak.

Gue berdecak lalu menuju ruang kerja gue di rumah ini. Rumah yang gue beli dengan hasil keringat gue sendiri. Memang tidak terlalu besar, tapi setidaknya sangat nyaman untuk ditempati berdua dengan Rycca.

Rumah ini dua tingkat, dengan lantai satu area khusus gue sedangkan Rycca di lantai dua. Di lantai dua tidak hanya ada kamar tidur, tapi ada satu ruangan khusus yang cukup besar untuk ruang kerja Rycca. Selain itu ada tangga langsung dari beranda. Sengaja dibuat agar Rycca merasa seperti rumahnya sendiri, terpisah dengan areal khusus gue di bawah.

Anak itu ngotot membayar sewa ke gue, padahal dia udah kayak adik sendiri. Gue iyain aja, dengan pura- puranya motong gaji dia setiap bulan.

Gue buka komputer gue dan meriksa hasil foto-foto Rycca yang baru selesai dia edit. Semakin kesini hasil foto anak itu semakin bagus.

"Gimana Bang Al?" tanya Rycca penasaran.

"Good,"

"Just 'good'?"

Gue terkekeh dengan pertanyaan sangsi Rycca. Gue emang jarang memuji dia, tapi itu harus dilakukan supaya semangat dia makin terpacu kan.

"Angle foto kamu udah bagus. Komposisi warnanya oke. That's it. Good,"

Sunrise RubyRead this story for FREE!