8. Dear Ruby

529 146 42

Siapa yang bisa menduga kalau dalam satu hari ini aku bisa bertemu dia dua kali? Tadi pagi di rumahnya. Sekarang di studio fotonya. Seminggu yang lalu, aku tidak berharap akan bertemu dengan dia lagi saat menghilangkan kartu namanya. Tapi hari ini aku malah ketemu dia dua kali. Tinggal di rumahnya dan kerjasama dengan dia.

Kebetulan yang sungguh luar biasa.

Seperti biasa Altan terlihat penuh percaya diri saat memotret model- model itu. Tangannya yang kokoh saat memegang kamera berukuran besar lagi- lagi membuatku tertarik. Setiap kali melihat tangannya, aku selalu membayangkan berbagai desain gelang yang cocok untuk tangan itu.

Mengherankan.

Altan memang laki- laki yang menarik. Aku sudah menyadari hal itu sejak kami liburan bersama. Dengan kaos putih polos yang menunjukkan otot- otot di tubuhnya, dan celana jeans pendek serta menenteng tas kamera dan kamera besar, ia sudah menarik banyak mata.

Semua perempuan asing disana memandangnya penasaran bahkan ada yang terang- terangan menggoda. Dan Altan balik menggoda mereka, dia bahkan menggodaku juga. Tapi aku sungguh tidak tertarik untuk menanggapinya.

Aku hanya merasa Altan menyenangkan dijadikan teman liburan. Namun sekarang aku ragu apakah dia akan menyenangkan untuk dijadikan teman satu rumah. Kalau dia sering banyak membawa perempuan ke rumahnya, kurasa hidupku tidak akan tenang.

Mungkin lebih baik aku menjaga jarak. Apa itu mungkin? Kami tinggal serumah, dan sekarang menjadi rekan kerja. Walaupun seharusnya setelah pemotretan ini hubungan profesional kami juga akan selesai.

Aku berjalan turun dari tangga dan ingin segera pergi dari sana, namun mata kami bersitatap. Tidak mungkin aku langsung pergi tanpa menyapanya. Altan akan tahu aku menghindarinya.

"Mm... Hai,"

"Kamu ada dimana- mana ya," dia berkata dengan senyum tipis seakan meledek. "If I don't know better, I'll think you're a stalker,"

Ucapan Altan membuat pipiku menghangat. Aku memang lemah dengan senyum bersahabat yang selalu terpatri di wajahnya sejak pertama kali kami bertemu. Berada di tempat asing dan menemukan senyum ramah seseorang membuatku merasa nyaman. Dan rasa nyaman itu timbul kembali saat melihat senyumnya sekarang ini.

"Saya diajak Gladys kesini,"

"Gladys?"

Aku mengangguk singkat. "Foto- foto kamu bagus. Terima kasih,"

Dia mengernyit, mungkin merasa heran karena kami bertemu dalam situasi tidak terduga dan tanpa rencana. "Jadi kamu memang acessories designer?"

Aku kembali mengangguk, dan melangkah turun dari tangga, menghampirinya. Ekspresinya yang masih bersahabat membuatku teringat kembali masa- masa dimana kami saling menghibur satu sama lain di tempat asing. Tanpa tahu nama, mengobrol hal- hal tidak penting yang mengundang tawa.

Dari ekspresinya, aku tahu Altan berharap untuk dapat berbicara banyak denganku. Hanya saja kami bukan di tempat asing. Di sini, semua kembali menjadi nyata. Dan aku tidak bisa membicarakan tentang kenyataan di kehidupanku, untuk kemudian bisa menertawakannya.

"Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," kataku seraya mengulurkan tangan. Dia membalas uluran tanganku, dan setelahnya aku tersenyum singkat untuk kemudian pergi menghampiri Gladys.
***

Kesibukan dengan pekerjaan membuatku selalu pulang hampir tengah malam selama seminggu. Penjualan di toko masih belum meningkat pesat, padahal toko sudah menawarkan berbagai macam promo untuk mendongkrak penjualan.

"Sepertinya kita harus perbanyak promosi di media sosial, Mbak,"

Aku mengangguk lesu mendengar saran Nena. Sejak aku merintis usaha ini dibantu Nena, belum pernah kami mengalami keuntungan besar dalam penjualan di toko. Aku menyadari di era teknologi sekarang ini orang- orang lebih menyukai berbelanja online, tapi kupikir untuk aksesoris, mereka mungkin ingin melihat atau memegangnya secara langsung.

Sunrise RubyRead this story for FREE!