1. Di Pasar Merah...

2.4K 285 14

Merah. Cantik.

Dua kata itu yang pertama kali gue pikirin waktu melihat dia. Sosoknya yang begitu mencolok di tengah keramaian Mogok market siang itu menarik perhatian gue.

Rambut panjang merah menyala begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Entah kenapa lingkungan sekeliling pasar ini dengan kehadirannya terasa begitu pas sekaligus kontras. Begitu pas karena cewek dengan rambut merah menyala berada di pasar yang memperdagangkan batu ruby, batu alam berwarna merah delima. Apa dia sengaja mewarnai rambutnya karena mau kesini? Ah! dia juga memakai anting dengan batu perhiasan berwarna merah di telinganya. Mungkinkah batu ruby?

Namun kehadirannya juga terasa tidak cocok karena ia begitu cantik untuk berada di pasar yang semrawut ini. Benar-benar terlalu cantik dan terlalu bersih untuk berada di sini. Disini memang banyak turis asing berkulit putih, tapi gue baru pertama kali melihat cewek yang semencolok dia. Cewek itu tidak peduli pada cuaca terik dan tidak merasa perlu menutupi rambut indah dan wajah cantiknya dengan topi anyaman. Padahal banyak wanita Kanase ataupun bule yang memakai topi anyaman disana.

Ekspresi wajahnya terlihat serius saat berbicara atau mungkin menawar harga pada pedagang batu ruby. Yang pasti keberadaan cewek itu sudah menarik perhatian gue dan membuat tangan gue secara otomatis mengarahkan kamera ke arah cewek itu untuk mengabadikan keindahannya.

Gue panggil dia Ruby. Karena dia secantik batu merah delima itu.

***

Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk menggambar sketsa. Tapi apa boleh buat kan kalau ada ide yang tiba-tiba muncul di pikiranku.

Ide itu muncul saat aku melihat tangan yang bagus itu. Tangan yang besar dengan warna kulit yang kecoklatan terbakar sinar matahari. Untuk ukuran laki-laki, tangan itu terlalu bagus. Tangan yang bagus dan ramping biasanya akan dimiliki oleh seseorang yang suka bermain gitar atau piano. Tapi kali ini tangan yang aku lihat tampak bagus, besar dan kokoh saat memegang kamera.

Dengan terus memperhatikan tangan itu, aku langsung menggambar sketsa gelang dan cincin yang maskulin di buku sketsaku. Pekerjaanku, ah bukan, apa ini bisa disebut pekerjaan sementara usahaku tidak terlalu berkembang? Aku hobi membuat aksesoris dari berbagai macam bahan. Punya toko aksesoris di salah satu pusat perbelanjaan besar di Jakarta, tapi sejujurnya akhir-akhir ini pekerjaanku itu tidak terlalu menghasilkan karena belum ada produk baru. Makanya aku liburan kesini, ke Myanmar, untuk berkunjung ke pasar batu ruby terbesar, Mogok market.

Disini aku berkeliling dan melihat-lihat berbagai macam batu alam yang masih mentah ditawarkan oleh pedagang, umumnya para wanita Kanase - sebutan bagi para wanita yang diperbolehkan memperdagangkan batu alam yang ditemukannya dari tambang batu tempat mereka bekerja. Meskipun disini tidak panas seperti Jakarta dan umumnya orang-orang menggunakan jaket, tapi matahari bersinar menyilaukan, membuat mereka banyak mengenakan topi anyaman.

Aku sendiri merasa lebih nyaman dengan sinar matahari yang menyilaukan itu. Berada di tempat ini, melihat berbagai macam batu alam, khususnya favoritku, Ruby, membuat liburan ini terasa begitu menyenangkan. Rencananya aku mencari batu ruby dan batu alam lainnya untuk kugunakan di aksesoris buatanku. Tidak ada yang tahu kalau ternyata disini aku malah dengan cepat menemukan inspirasi dan langsung menggambar ide yang tiba-tiba muncul.

Gelang untuk pasangan, dengan berhiaskan batu ruby.

Aku duduk di pinggir jalan, di antara para wanita Kanase yang sedang berbincang-bincang dengan bahasa setempat. Tanganku terus menggambar hingga senyumanku merekah ketika sketsa itu selesai. Kemudian aku merasakan bayangan menutupi silaunya matahari yang tadi menyinariku.

Saat aku menengadah, seorang laki-laki dengan kamera di tangannya tersenyum padaku. "You are shining,"

"Apa??"tanyaku bingung, tanpa sadar berbicara bahasa Indonesia.

Laki-laki itu tertawa. "Ternyata kamu Indonesia juga ya. Atau Malaysia?"

Aku tidak menduga kalau dia orang Indonesia juga. Memang sih wajahnya melayu dan memiliki rahang dan hidung lurus, mungkin ada campuran asing. Tapi kan kebanyakan laki-laki Asia Tenggara berwajah seperti itu. Bisa saja dia orang Malaysia, Brunei, Filipina.... oke, ternyata aku satu negara dengan laki-laki tampan ini.

"Mm ya, Indonesia,"ucapku lalu bangkit dari dudukku.

"Kyeizu tin ba de," Aku mengucapkan terima kasih pada wanita Kanase di sebelahku karena telah meminjam kursi plastik kecil miliknya. Kemudian aku berjalan-jalan bersama laki-laki pemilik tangan kokoh itu.

Disana awal mula liburan menyenangkan kami yang singkat. Aku tidak pernah berpikir harus bertemu dengannya lagi nanti di Indonesia.

***

Alohaaaa~

Saya datang lagi dengan cerita baru nih. Berhubung saya lagi kena writer's block untuk Wedding Dress dan cerita-cerita saya yang lain, taunya muncul ide cerita ini mendadak dan harus langsung segera ditulis. hahaha~

Udah lama saya nggak nulis cerita yang make point of view tokoh utamanya. Jadi mudah-mudahan sih bagus ya.

Yang penasaran, vomment yaa. hehe~

Sunrise RubyRead this story for FREE!