6. Roommate

1K 215 38

Katanya seorang ibu selalu mengerti apa yang anaknya inginkan. Apa yang anaknya pikirkan. Tapi Mamaku tidak pernah seperti itu padaku.

Seperti saat ini, lagi- lagi Mama memaksaku makan menu masakan yang tidak kusuka. Aku benci sayuran, tapi semua hidangan mengandung sayur- sayuran.

"Ayo makan, Sayang," kata Mama membuatku menelan ludah karena eneg. Rasanya mau muntah melihat berbagai dedaunan ini. Memangnya aku kambing?

Ingin rasanya aku menolak dengan keras dan segera kabur dari rumah ini. Kemudian aku melihat tatapan lembut Mama kepadaku, yang membuatku terpaksa harus menyuapkan sepotong tumisan brokoli ke dalam mulut. Yaikss... Rasa apa ini??

"Kenapa? Nggak enak?" tanya Mama dengan raut wajah cemas. Aku segera menggeleng.

"Suka kok," kataku berbohong. Dan Mama langsung tersenyum, sama sekali tidak sadar kalau saat ini aku menjerit dalam hati.

"Dihabiskan ya," Aku mengangguk pasrah. "Papa juga,"

Di seberang tempat dudukku di meja makan ini, Papa tiriku mengangguk dengan meringis. Sama denganku, dia tidak terlalu suka sayur-sayuran. Sekarang di rumah ini hanya Mama yang suka sayur-sayuran.

"Makan sayurnya yang banyak Pa. Tuh lihat Saphira makannya lahap,"

Nama itu semakin membuatku sulit untuk menelan.
***

Sudah seminggu ini aku tinggal di tempat baru. Rumah dengan desain minimalis dan ruang terbuka yang cukup besar di lantai bawah. Dengan berbagai foto yang sangat indah memenuhi dinding rumah, seperti sebuah galeri foto.

Aku menempati lantai dua rumah ini, yang terdapat dua kamar berukuran cukup besar. Salah satunya yang memiliki kamar mandi, kujadikan kamar tidur. Sedangkan kamar satunya jadi ruang kerjaku. Rasanya sangat nyaman, apalagi biaya sewanya cukup murah. Thanks to temannya Hesa.

Sebenarnya aku penasaran dengan ruangan di bawah. Karena di dinding lantai atas juga banyak foto- foto yang dipajang, aku penasaran dengan lantai bawah. Dari lantai atas aku bisa melihat sedikit ke lantai bawah yang dindingnya juga dipenuhi berbagai foto. Ingin rasanya melihat ke seluruh sisi dinding di bawah yang pasti terdapat banyak foto juga.

Tapi pemilik rumah ini, kakaknya teman Hesa, tidak suka ada yang mengganggu privasinya di bawah. Makanya aku sebisa mungkin menahan diri untuk tidak melihat- lihat ke bawah. Selama seminggu ini aku hanya mendengar suara mobil keluar masuk halaman rumah dengan waktu yang tidak tentu. Bisa menjelang tengah malam atau malah pagi-pagi buta.

Dari atas, aku bisa melihat punggung sosok seorang laki - laki yang duduk di sofa, sedang membersihkan kameranya. Laki- laki itu mengingatkanku akan si Mogok. Lagi- lagi aku tertarik dengan tangan. Apa semua tangan fotografer memang sebagus itu? Terlihat kokoh saat memegang kamera besar.

Kemudian aku kembali masuk ke kamar, sebelum si pemilik rumah menyadari kehadiranku dan merasa tidak nyaman.

***

Hari ini bukan hari yang menyenangkan untukku. Laporan keuangan bulan lalu baru saja keluar. Hasilnya, penjualan di toko dan toko online turun 20 persen.

Astaga. Aku baru tiga tahun merintis toko ini, masa' masih belum juga mengalami peningkatan? Setelah melihat laporan keuangan yang dikelola oleh salah satu karyawanku, aku pergi dari toko dan menuju cafe terdekat. Aku butuh kopi untuk menyegarkan pikiran.

Disana aku memesan ice cafe latte. Namun setelah menunggu cukup lama, si barista malah memberikanku hot cafe latte.

"Silahkan, Cafe latte-nya,"

"Lho kok? Saya nggak pesan yang hot, tapi ice cafe latte," ucapku kesal. Kenapa jadi yang hot sih??

"Maaf Mbak. Tapi saya ingat dengan jelas kalo Mbak pesan yang hot," si barista terdengar frustasi. Tapi aku yakin aku pesan yang ice tadi.

Sunrise RubyRead this story for FREE!