Hana yang lagi asik belanja dengan sepupu-nya malah di angkut paksa oleh bodyguard suruhan orang tuanya. Apalagi fakta dirinya malah di nikahkan dengan anak teman Ayahnya sendiri---yang dimana Hana sendiri tidak tahu siapa dan bagaimana bentukan sua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
-
-
Hotel Starlight, 11:02.
Melihat para tamu yang sibuk bercengkrama sambil menyantap makanannya membuat Hana cemberut. Ia lapar. Tapi, hingga saat ini dia tidak di ijinkan untuk makan. Takutnya make up di wajahnya luntur lah, belepotan lah, itu lah, banyak alasan! Apalagi melihat wajah Pria yang berdiri di sampingnya. Apa gigi Pria itu tidak kering? Mengingat Ia tidak berhenti tersenyum ke arah kenalannya. Sedangkan ke Hana dia tidak menoleh sedikit pun. Cih! Dia pikir Hana mau menikah dengannya? Tidak! Ia di paksa!
Padahal tadi Hana lagi sibuk main di time zone bersama sepupunya, Lisa---mengingat ini adalah hari sabtu, weekend. Tapi, beberapa pengawal dari rumahnya tiba-tiba datang dan memaksa Hana untuk ikut dengan mereka. Sialnya lagi, dia dibawa ke hotel, di dandani dan diberi pakaian pengantin. Usut punya usut, itu adalah perintah muthlak dari Papinya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Enwu, Suami sah Hana sejak beberapa jam yang lalu. Orang yang di jodohkan dengan Hana tanpa sepengetahuan Hana sendiri. Gilanya lagi, ijab kabulnya di Paris! Bersama Ayahnya. Dan, itu tanpa sepengetahuan Hana! Menjerit pun Hana tetap tidak bisa menolak takdir. Sadis.
Hana mendesis. "Bukan urusan Kamu!" Nada sinisnya mungkin mampu membuat Enwu tersinggung. Tapi, Hana tidak peduli. Mau di ceraikan saat ini pun Hana terima dengan lapang dada.
"Anak Mami cantik banget sih! Mirip kayak Mami pas nikah sama Papi kamu." Puji Laura, Mami Hana. Wanita paruh baya itu bahkan memeluk Putrinya terharu.
"Tapi cantikan aku, Mami jelek!" Gerutu Hana begitu pelukan mereka terlepas. Sontak membuat Laura kesal. "Kamu!" Sentaknya.
Tawa kecil wanita paruh baya yang berdiri di.samping Ibunya menarik perhatian Hana. "Menantu Mama ganas juga." Ujar Rita, Mama Enwu.
Hana berpikir sejenak, dan di detik selanjutnya mengagguk paham. "Oh, Ini Mertua aku, Mih?" Tanyanya pada Laura.
Kesal karena nada Hana tidak sopan, membuat Laura segan pada besannya itu. "Maaf, Jeng. Ini anak memang kurang didikan sejak dini." Ujarnya pada Rita. Namun, Mertua Hana itu malah tersenyum. "Gak papa, masih polos." Katanya.
"Mih! Papi, Bang Theo, sama Jeno gak pulang?" Tanya Hana setelah melirik ke sekeliling.
"Mereka sibuk dengan urusan masing-masing." Jawaban Laura membuat Mood Hana semakin turun dari sebelumnya.
"Yah... Aku anak pungut yang GAK di anggep ini bisa apa?" Ia bahkan sengaja menekankan suaranya. Selalu begini. Hana itu cuma anak Bunda. Bukan anak Ayah. Bahkan Pria paruh baya itu sangat membencinya.