Sulthan|•bagian tiga

3.8K 241 19
                                    

"Ada, namun seolah tiada itu sangat menyakitkan."

++++++

Vanesya duduk disebelah Sulthan yang kini berada dihadapan Maminya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terlihat sedikit lelah menghadapi tingkah putranya. "Mami heran sama kamu Than, kenapa gak bisa berubah sama sekali sih. Kamu gak kasihan sama Vanesya apa, yang udah ngadepin kamu selama ini."

Sulthan tidak peduli. Lelaki itu malah memainkan kakinya. Bahkan apa yang dikatakan oleh Mami nya saja sama sekali tidak didengarkan nya.

"Sulthan kamu dengerin Mami gak sih?!" Ujar Nita yang sudah kesal.

"Kenapa Mami ku yang cantik?" Tanya Sultham, Mami nya sudah terlihat kesal terhadap nya.

Nita mendengus, "terserah kamu lah, Mami capek sama kamu. Vanesya kamu urus deh, Tante mau ke dalam dulu." Nita bangkit dan meninggalkan Vanesya dan Sulthan berdua diruangan itu.

"Lihat kan, bahkan nyokap lo aja udah pusing ngadepin anak nya, sadar Than." Kecam Vanesya.

"Gue ngantuk, lo masih mau ceramah?" Ujar Sulthan meraih ponsel nya yang terletak di meja dihadapan nya. 

"Ih parah ya ni anak, awas ya Li. Gue pulang!" Vanesya bangkit, menyandang tas nya dan berlalu sembari menatap sinis pada Sulthan.

"Jangan balik lagi sayang." Teriakan Sulthan sama sekali tidak mendapat jawaban karena Vanesya sudah tidak terlihat lagi.

++++++

Vanesya mematikan ponsel nya dan memasukkan nya kedalam saku rok nya, bertepatan dengan sebuah mobil yang baru saja berhenti dihadapan nya. Gadis itu masuk dan meletakkan tas nya di kursi belakang.

"Hai." Sapa Vanesya, keduanya melakukan salam pertemuan yang selalu saja mereka lakukan pada setiap bertemu.

"Sulthan, lagi?" Tanya Rigel dingin.

Vanesya menatap pada Rigel, sorot mata lelaki itu benar-benar terlihat tidak suka. "Kamu kenapa?" Tanya Vanesya.

"Aku heran sama kamu, betah banget perasaan ngurusin dia. Ada apa sih sebenarnya?" Ujar Rigel, kini lelaki itu telah menatap Vanesya.

"Kamu kok jadi gini sih? Kamu kan tau di sekolahan aku OSIS ikut berperan dalam masalah murid nya, kenapa sekarang kamu malah kayak gini?"

"Iya aku paham, aku juga ngerti itu. Tapi bukan berarti harus kamu dong yang ada disaat Sulthan bikin masalah? Emang OSIS di sekolahan kamu cuma kamu doang?"

"Aku ketua OSIS, Gel."

"Kalau yang bertugas cuma ketuanya doang, yang lain tugas nya apaan?"

Vanesya diam, matanya sama sekali tidak teralihkan pada lelaki dihadapan nya itu. "Trus menurut kamu aku harus gimana?"

"Jangan pernah urusin Sulthan lagi." Ucapan itu terdengar memaksa. Vanesya kembali diam, kini ia mengalihkan pandangan nya ke jalan raya. "Kenapa diam? Kamu gak bisa melakukan apa yang aku mau?" Ucap Rigel saat Vanesya tidak kunjung menjawab pertanyaan nya.

"Aku harus bisa merubah dia, Gel."

"Harus? Kamu bukan siapa-siapa nya Vanesya."

Sulthan [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang