Terdengar gelakan tawa dari 3 orang anak yang berlarian, mengejar satu sama lain di antara hamparan kebun teh. Sering kali diantara mereka menabrak petani kebun yang sedang memanen teh di tanah gembur nan subur ini, atau berjongkok di pemantang kebun untuk bersembunyi. Hingga ketiganya lelah mengejar dan memutuskan untuk beduduk duduk dibawah pohon rindang yang tumbuh menjulang di atas bukit Puncak, Bogor.
Icha, Eza dan Ian sebenarnya baru berteman saat keluarga mereka menyewa villa yang berdekatan 6 hari yang lalu. Icha dan Eza adalah saudara kembar dimana Eza yang lahir 10 menit lebih awal menjadi kakak dan Icha menjadi adik perempuan kesayangan Eza. Mereka tinggal di Bandung dan datang kesini untuk berlibur bersama keluarganya. Sedangkan Ian yang sedang mendapat calon adik, tinggal di Jakarta. Keluarga Ian juga datang untuk berlibur dan merayakan pergantian tahun sambil menyambut anggota baru dalam keluarga kecil mereka. Pertemuan ketiga anak itu sangat manis layaknya masa kanak kanak yang penuh dengan pelangi dan cokelat
"Kebun teh nya luas banget yaaa, aku jadi cape" kata Icha sambil bersandar di akar pohon. Karena berlarian tadi, nafasnya tidak teratur, namun rasa bahagia mengalahkan perasaan yang sesak itu hingga hampir sempurna rasanya. Ia melirik bunga liar berwarna ungu muda lalu disematkannya di atas daun telinga
"Iya, nenek nenek yang disana kasihan metiknya" Ian menyahut sambil menunjuk pada seorang nenek yang memetik teh sendiri dengan keranjang besar di punggungnya. Ian merasa simpatik padanya karena memang Ian sering menolong. "Kita bantu?"
Eza menaikan satu alisnya kebingungan "Bukannya kamu bilang kita bakal ngabisin waktu beltiga? Besok kan kita pulang" Sebenarnya, Eza bukan tidak mau membantu. Tapi ia sangat pemalu, di sisi lain juga, ia masih lelah karena kakinya baru saja terpakai dengan maksimal "Hmmm,," Eza mulai berfikir "Nanti aja lah, cape" Eza menyengir kuda setelah mengucapkannya
"Yaudah kakak istirahat aja ya, biar Icha sama Ian yang bantu" Jawab Icha yang mulai berdiri dan menarik tangan Ian mendekati seorang nenek tua petani kebun
Eza memperhatikan adik dan teman barunya berjalan mendekati wanita paruh baya itu dengan malu malu dari atas bukit. Ia tersenyum sambil tetap bersandar. Sedang dibawah sana, dua anak itu mulai memetik daun daun teh agar nenek yang sedang mereka bantu tidak kelelahan. Icha menyeka keringatnya yang menetes karena sorotan sinar matahari jam 11 siang. Tangannya yang basah karena keringat, diusapkannya pada celana kain berwarna krem hingga ia merasakan adanya benda di saku celananya.
"Ini" Icha mengeluarkan cokelat green tea itu, lalu memberikannya pada Ian dan nenek yang kini terlihat bingung dengan benda yang diberikan kepadanya "Nenek pernah coba cokelat? Enak loh, ini rasa green tea" Jawabnya seakan ia tahu dengan apa yang memenuhi fikiran si nenek saat ini
"Ah, enggak neng, buat eneng aja. Nenek mah ngga pernah makan yang kaya gitu" Jawab Nenek sambil tersenyum pada Icha dan Ian. Kini ia yakin bahwa Icha dan Ian adalah anak yang baik
"Kalau gitu, buat aku aja ya nek, aku suka green tea kok" Ian langsung bicara ketika mendengar bahwa nenek tidak suka cokelat. Tanpa berfikir lagi, ia merampas bungkusan cokelat mini dari tangan Icha dan mulai menjilati benda hijau yang mulai meleleh itu
Seakan tanpa beban, mereka tertawa dan berlari. Tak ada kata lelah untuk mengejar arti kata bahagia dan puas untuk mereka. Karena kebahagiaan seperti ini, akan selalu hadir di setiap hidup manusia namun tidak hadir untuk dua kali
***
CZYTASZ
Green Tea
Dla nastolatkówManis dan pahit. Rasa yang mampu membuat orang orang jatuh lagi dan lagi dengan green tea. Memang lucu rasanya jika dipikir pikir, green tea mewakili cinta. Ya, jatuh cinta. Banyak yang mengatakan bahwa cinta itu manis. Tapi nyatanya, jika kita terl...
