Satu - Chiharu
Menikmati cerahnya musim semi di awal april, dihujani kelopak-kelopak bunga sakura yang terbang ditiup angin, dua orang siswi duduk berdampingan di bangku taman sekolah. Masing-masing memegang kantong kertas berisi beberapa roti anpan dan onigiri yang dibeli dari kafetaria sekolah. Saat itu sedang waktu istirahat siang. Sebagian siswa menghabiskan waktu ini untuk makan bento yang dibawa dari rumah, sekedar membeli snack atau makan siang di kafetaria.
“Kau sudah memutuskan akan ikut klub apa?” tanya seorang dari mereka.
“Sudah,” jawab siswi yang satunya lagi. Namanya Hanae Chiharu. Berbeda dengan gadis yang duduk di sampingnya, Ayase Nana, kulit Chiharu tidak seputih Nana dan matanya juga tidak sipit. Rambut ikal panjangnya ia biarkan tergerai. Ia memperhatikan kelopak bunga yang menari di udara, dan dalam hati bersyukur tahun ajaran baru mulai pada musim semi.
“Eh? Yang benar?” Nana tidak menyangka akan mendapatkan jawaban itu.
“Aku ikut klub paduan suara saja,” jawab Chiharu tersenyum. Senang karena berhasil membuat terkejut lawan bicaranya.
“Kau pintar menyanyi rupanya?” tanya Nana sambil melahap bagian roti anpan terakhirnya.
“Haha. Tidak juga,” tukas Chiharu. “Aku sebenarnya tidak tertarik masuk klub apapun. Tapi setiap siswa sangat disarankan untuk ikut klub. Apa boleh buat?”
“Kalau begitu kenapa tidak ikut denganku saja jadi manajer tim baseball?”
Chiharu mengingat-ingat pertandingan baseball terakhir yang pernah ia tonton bersama ayahnya. Itu sudah lebih dari empat tahun yang lalu. Seperti kebanyakan anak perempuan, dia tidak begitu tertarik dengan baseball meski itu merupakan olahraga yang paling populer di Jepang. Apalagi setelah empat tahun terakhir dia tinggal di Indonesia yang jarang sekali orang mengenal baseball, ia sudah hampir lupa dengan olahraga itu. “Aku tidak tahu apa-apa tentang baseball. Lagipula setahuku jadi manajer tim baseball akan sangat sibuk.”
“Memang,” kata Nana. “Tapi kesibukan itu akan terbayarkan saat kita memenangkan pertandingan. Meskipun bukan kita yang bermain di lapangan, rasanya kemenangan itu milik kita juga.” Saat SMP Nana merupakan manajer tim sepakbola di sekolahnya. Di SMA Netsujo ini dia memutuskan untuk mendaftar jadi manajer tim baseball karena SMA ini merupakan salah satu sekolah dengan tim baseball terbaik di level nasional.
“Bagus kalau begitu. Aku mendukungmu, Ayase-san. Tapi aku masuk klub paduan suara saja,” jelas Chiharu.
“Huh.. Ya sudah. Omong-omong, Chiharu, sudah kubilang panggil saja aku Nana.”
“Oh iya, lupa. Maaf, Nana-chan.” Chiharu sengaja menambahkan chan agar Nana puas.
“Begitu kan jadi lebih akrab!”
Nana merupakan teman pertama Chiharu di sekolah ini. Chiharu bersyukur karena Nana dengan mudah dekat dengannya. Ia membutuhkan teman dekat di tempat yang asing baginya ini. Sebenarnya Chiharu berkewarganegaraan Jepang. Dia lahir dan tinggal dijepang. Tapi empat tahun yang lalu ia pindah ke negara asal ibunya, setelah kembali ke Jepang lagi ia jadi merasa terasing. Perasaannya itu lebih banyak disebabkan oleh fisiknya yang memang terlihat lebih banyak membawa karakter ibunya yang seorang Indonesia tulen.
“Nana,” panggil Chiharu setengah berbisik.
“Hhm? Ada apa?” Nana menatap Chiharu yang tampak ragu.
“Mulai besok, aku ingin bawa bento dari rumah saja. Kau juga bawa bento, ya? Temani aku,” kata Chiharu.
Nana berkedip mendengar kata Chiharu lalu dia tertawa. “Haha. Pasti karena kau risih jajan di kafetaria ya?” Chiharu mengangguk pelan. “Baik. Besok aku juga akan bawa bento. Nanti kita makan bersama di kelas, bagaimana?”
YOU ARE READING
Chiharu
Teen FictionBaseball dan masa SMA. Novel berlatar belakang budaya Jepang, tentang keluguan cinta remaja. Daftar Isi 1 - Chiharu 2 - Koshien 3 - Bento 4 - Keisuke 5 - Stadion 6 - Signifikan 7 - Training Camp 8 - Ace 9 - Fokus 10 - FIGHT! 11- Pengakuan Epilog
