Tasya Aurell, seorang ketua OSIS yang dikenal kuat dan penuh tanggung jawab, menyimpan luka yang tak tampak di permukaan. Di balik pencapaiannya, dia menghadapi kenyataan pahit dalam keluarga, kehilangan kehangatan pertemanan dan kisah cinta yang ta...
Halooo, ini cerita lama sih. Tapi aku rombak ulang. Semoga kalian suka.
Happy reading~
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
•••
"Bang Raditttttttt!!!!" Teriak Tasya dari luar pintu. Gadis itu mondar-mandir tidak karuan dan terus memperhatikan jamnya. Abangnya ini sangat sulit diajak bekerjasama, padahal dia harus datang tepat waktu ke Sekolah.
"Iya bentar elah, ini abang lagi pake baju," sahut Radit yang berkutat pada bajunya, dia heran adiknya ini begitu cerewet padahal masih pagi buta begini. Bahkan Radit sampai tidak mandi karena Tasya begitu berisik.
"Ihhh abang cepet! Nanti gue telat gimana?!"
Mendengar itu Radit pun segera berlari ke luar dengan membawa kunci motornya. Sebenarnya dia kesal jika harus mengantar Tasya ke Sekolah, terlalu on time, padahal sekarang jam baru menunjukkan pukul 6 pagi. Terlebih jarak rumah dan Sekolah Tasya tidak terlalu jauh.
"Lama banget heran, kalau gue telat lo tanggung jawab ya, Bang!" Dengus Tasya.
"Ini baru jam 6, Dek. Lu mau jadi satpam sekolah yang bukain gerbang tiap pagi?"
"Gue tuh Ketua OSIS, mau gak mau, suka gak suka, harus jadi teladan yang baik buat temen-temennya. Kebayang gak sih kalau gue telat gimana? Mau ditaruh di mana muka gue?"
"Gua juga dulu mantan Ketua OSIS biasa aja, Dek. Lebay."
"Terserah-terserah, buruan kita berangkat."
Radit pun mengeluarkan motornya dari garasi. Apakah semua perempuan seperti adiknya? Padahal dulu Radit jika berangkat Sekolah 10 menit sebelum bell masuk berbunyi. Motor Radit bertengger di depan Tasya, tanpa banyak basa-basi Tasya pun langsung menaiki motor.
"Sapiiii, go!!" Teriak Tasya.
"Parah, abang sendiri dikatain sapi," gerutu Radit saat mendengar penuturan Tasya.
Tasya pun hanya tertawa melihat tingkah abangnya, dia senang mengusili abang satu-satunya itu. Siapa lagi yang bisa diajak bersenda gurau seperti Radit? Meskipun mereka sering bertengkar, tapi Radit adalah teman berbagi segalanya untuk Tasya. Apalagi kebencian Tasya kepada Ayah kandungnya membuat dia benar-benar hanya memiliki Radit dalam hidupnya. Sepanjang jalan Tasya tak henti-hentinya mengoceh, sedangkan Radit hanya bisa fokus menyetir dan mendengar ocehan adik semata wayangnya.
"Sampe," ucap Radit yang memberhentikan motornya di depan gerbang.
"Makasih, Bang, udah setia jadi ojek langganan gue," ceplos Tasya.
"Jangan lupa bintang 5-nya, Mba," balas Radit.
Mereka berdua pun terkekeh dan ya seperti yang Radit duga. Sekolah ini masih sepi. Tapi adiknya ini terlalu perfeksionis dalam hal apapun. Jadi dia akan melakukan apa yang dia pikirkan.