1

6.7K 386 107
                                    

Ikan adalah teman, bukan makanan.



🌚♥♥♥♥♥🌚

"Matilah aku, matilah aku!" Gadis itu berlari sekencang yang ia bisa, orang-orang satu sekolah menatapnya bingung, mereka berpikir mungkin saja dia sedang dikejar sesuatu.

Namun kenyataannya bukan, gadis itu malah yang sedang mengejar sesuatu, yaitu waktu. Astaga, ini sangat gila sekali. Guru olahraga yang super sangar itu pasti menghukumnya habis-habisan nanti.

Umpatan kekesalan tak henti-hentinya dia keluarkan, bukan salahnya kan jika dia tidur saat sudah subuh karena ingin belajar untuk ulangan sejarah hari ini? Heran mengapa semua guru tak pernah mengerti perjuangan siswanya.

Helaian merah mudanya tertiup dihembus angin, aroma parfumnya yang sangat khas membuat siapa saja terbuai ketika gadis itu melintas. Dia itu bukan sekedar siswa, melainkan primadona. Wajah cantiknya yang kerap diperbincangkan oleh kalangan laki-laki membuatnya sangat populer.

Bruk!

"Awh! Ino apa-apaan kau!?" ringis gadis itu saat bokongnya terhempas tidak etis ke lantai akibat tabrakan dari sang sahabat berambut blonde.

"Ya Tuhan, kemana saja kau!" Ino membantu sahabatnya untuk berdiri, wajahnya menunjukkan kelegaan karena telah berhasil menemukan gadis itu.

"Apa guru Oro masuk?" tanya gadis itu berbisik, memberi harapan lebih dalam nada suaranya.

"Sejak kapan dia bisa absen?" Ino memutar bola matanya, "Di dalam dia sedang ceramah lagi, aku heran mengapa mulutnya tak bisa diam."

"Huh, padahal aku berharap dia tidak masuk hari ini, sialan."

"Kubur saja harapanmu itu, dan dengar, dia sedang mencarimu!"

"Ha? Aku? Dia rindu padaku?"

"Bukan, bodoh! Tongkat kesayangannya yang kemarin kau curi itu, ketahuan!"

"A-APA?!"

"Iya! Aku bersumpah!"

"Bagaimana dia bisa tahu?" Gadis itu menggigit bibir bawahnya, panik.

"Kau melewatkan sesuatu kemarin, ada kamera CCTV di dekat tumpukan buku-bukunya, dan wajahmu sangat terlihat jelas di sana."

"Tuhan, kini aku benar-benar tamat."

"Sebaiknya kau masuk, ayo."

"Tidak, aku tidak mau."

"Jika kau tak mau, maka dia akan semakin menghukummu nanti."

"Tapi Ino~"

"Ayo cepat masuk."

Ino menyeret tangan sahabatnya untuk memasuki kelas, dengan langkah kaki yang diseret, maka dia pun masuk. Ia menundukkan kepalanya saat semua pasang mata menatapnya dalam hening di kelas itu. Ino berlalu duduk ke bangkunya.

"Guru Oro, aku mohon, aku tidak salah apa-apa, kemarin itu aku sedang dalam keadaan tidak sadar, jadi tolong maafkan aku guru, aku akan mengganti tongkatmu, aku janji tapi jangan hukum aku tolonglah guru Oro~"

Deep DownTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang