Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Part 1

470 71 19
                                        

Dingin tak selamanya beku, Ia hanya merindukan mentarinya yang hilang sebagai penghangat bagi kekakuannya

~>.<~

Digonata Ryan Kelviano. Sifatnya yang terkenal dingin dan arrogant membuat sebagian orang enggan untuk mendekatinya. Sifat dingin dan arrogant yang dimilikinya tak lain karena keadaan sekitarnya yang mana dia berasal dari keluarga broken home. Itu semua hadir karena keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan kedua orang tuanya, baik yang dulu maupun yang sekarang.

Tapi, dibalik sifatnya yang dingin dan arrogant, dia memiliki tampang yang rupawan dan tubuh yang atletis. Rahangnya yang kokoh, rambut coklatnya yang indah khas orang Eropa, bulu mata yang lentik serta alisnya yang sempurna ditambah lagi tatapannya yang tajam bak elang mampu membuat semua perempuan tergila-gila padanya.

Digo memang murid yang pandai dengan sejuta talenta yang sayangnya tak bisa dia tampilkan. IQ-nya saja jauh diatas rata-rata. Digo paling handal dalam pelajaran olahraga dan seni musik. Suaranya yang indah dan menenangkan mampu membuat banyak orang takjup saat mendengarnya bernyanyi.

Digo memang memiliki jabatan yang lumayan tinggi dan bagus di sekolahnya, dia ditunjuk untuk mengemban tugas sebagai kapten tim basket. Oleh karena itu, dia kerap kali pulang terlambat dengan alasan ada latihan basket, tapi nyatanya dia selalu pulang terlambat karena mampir ke sebuah tempat kumpulnya bersama dengan anggota gengnya. Dia adalah ketua geng yang sangat terkenal di sekolahnya. Selain itu, dia juga salah satu the most wanted boy di sekolahnya.

***

"Digo!" teriak ibu tirinya.

Yang dipanggil tidak merasa karena masih berada di alam bawah sadar, menikmati mimpi indah yang terasa begitu nyata baginya. Dia bermimpi indah dimana dia, ayah dan ibunya sedang berpiknik bersama, menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Itu semua terasa menyenangkan dan sangat nyata bagi Digo, karena mimpi itu adalah kejadian yang benar-benar dia alami semasa dia kecil dulu.

Ibu tirinya beranjak menuju kamar Digo. Membuka pintu dengan cara yang amat kasar yaitu dengan mendobrak pintu tersebut dengan kencang, mengakibatkan Digo membelalakan matanya dan terbangun dari tidurnya. Dia membenarkan posisinya menjadi duduk bersandar.

"Ini udah jam 7 pagi. Kenapa belum bangun juga? Nggak mau sekolah? Anak macam apa kau ini? Setiap hari kerjaannya bikin orang marah terus," ucap Ibu tirinya ketus. Seperti inilah kejadian setiap pagi yang terjadi di rumahnya.

"Cepat mandi dan berangkat sekolah!" perintah Ibu tirinya kemudian beranjak keluar dari kamar Digo.

Digo duduk di tepi ranjangnya, mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya dia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, dia langsung mengenakan seragamnya asal-asalan. Lengan kemeja yang digulung sampai siku dengan dua kancing yang sengaja dibuka, ditambah dengan rambut yang acak-acakan dan dasi yang dilonggarkan. Bagi sebagian orang mungkin Digo terlihat sexy dan menawan dengan caranya mengenakan seragam sekolah yang begitu.

"Digo, tunggu aku selesai makan. Kita berangkat bersama," ucap adik tirinya.

"Gue nggak sudi berangkat bareng lo," ucap Digo ketus dan berlalu meninggalkan rumah dengan membawa mobil kesayangannya.

***

Tepat lima menit sebelum bel masuk berbunyi, mobil BMW seri 7 milik Digo sudah terparkir tepat di depan halaman sekolah. Digo langsung turun dan menuju ke kelasnya dengan berjalan santai tanpa memikirkan bahwa sebentar lagi bel masuk sudah hampir berbunyi.

Everything Has ChangedHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora