prolog

484 32 1
                                        

Sepasang mata mengadah ke arah langit-langit kamar. Dia tersenyum menatapnya, seperti ada sesuatu yang ingin dia gapai.

"Mimpi itu memang terlalu tinggi namun sekarang pertanyaannya apa caraku untuk mendapatkannya"

Dia terkekeh kecil. Gadis cantik itu bangkit dari ranjangnya dan berjalan di rumah yang sederhana nya itu dan berhenti tepat di sebuah ruang tamu. Seketika saja dia ada yang menegurnya .

"Zara?"

Gadis itu menoleh. "Iya bu, ada apa?"


Wanita yang di sebut Zara dengan sebutan 'ibu' itu duduk tepat disamping nya. Wanita itu menggenggam tangan Zara dan menatapnya lekat.

"Ibu, aku pengen kejar cita cita aku dan bahagiain ibu!"

Wanita itu tersenyum.

"Aku janji bu, aku bakalan bahagiain ibu aku pengen ibu bahagia, hidup enak dan serba berkecukupan!"ucap Zara.

"Makasih nak!"

Zara memegang telapak tangan ibunya."Dan aku janji tangan ibu tidak akan lagi menyentuh pakaian orang lain dengan upah yang tak sebanding!"

Ani berkaca-kaca menatap anak gadisnya itu. Semangat Zara seolah-olah terus membara dan tak akan pernah padam, Ani salut pada anaknya namun dia sadar dia hanya seorang buruh cuci.

"Ibu suka semangat kamu Zar, tapi ingatlah kita hanya seorang keluarga yang miskin!"ucap Ani

"Lantas apa bu, aku hanya ingin mengejar cita-citaku. Mimpiku tak akan pernah ku biarkan hanya sekedar mimpi buu!"

"Sadar diri nak gimana ibu kuliahin kamu, untuk makan saja kita susah apalagi untuk kuliahin kamu!"

"Zara bisa cari beasiswa bu!"

"Beasiswa tidak semudah itu Zara, saingan kamu itu banyak jadi jangan sampai mengandalkan itu!"ucap Ani menyakinkan.

Zara terdiam. Menatap wanita hebat yang saat ini tidak mendukung cita-citanya. Tak perlu di tanya yang jelas perasaan Zara saat ini begitu hancur.

"Zara pamit dulu bu, ada janji sama Radit"

"Iya"

"Assalamualaikum"

"Walaikumsalam"

Zara pergi meninggalkan rumahnya dengan penuh kekecewaan. Dia pergi kesuatu tempat dengan menggunakan kendaraaan umum, tak henti-hentinya Zara menangis mengingat hal yang tidak dia sangka.

"Aku tidak menginginkan respon ibu yang seperti itu bu, andai ibu tahu"

Satu notip muncul dari hp Zara.

Radit

Bidadari kecil kau dimana??

Sebentar lagi aku nyampe dit

Okayy aku tunggu bidadari kecil

Zara segera turun dari angkutan kota itu, dia menatap ke arah hamparan air--danau yang saat ini berada tak jauh dari hadapan nya, disaat sudah terlihat seorang lelaki tampan yang sedang duduk di bangku.

Zara terus berjalan, semua kesedihan nya ia tarik kembali tak mau dia tampilkan pada Radit.

"Haii Dit"ucap Zara sembari duduk di samping Radit.

Radit pun menoleh. "Masih sama senyuman itu masih indah"

Zara terkekeh. "Gua itu gak ngerti Dit, kenapa banyak banget yang suka sama lo. Mereka tuh liat lo dari mana sih?"

ZADITWhere stories live. Discover now