Jungkook dan basket adalah suatu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan.
Setidaknya itu yang mereka ketahui.
"Jungkook?" suara husky diseberang segera menggema begitu lelaki dengan rambut cokelat terangnya sedang mengangkat teleponnya.
"Ne, hyung?" Jawabnya.
Terdengar helaan nafas sebelum suara itu kembali bergumam, "kumohon kali ini saja.... bisakah?"
Jungkook memejamkan matanya sejenak. Entah sudah seberapa seringnya pertanyaan ini muncul dari orang yang sama dan entah sudah keberapa kalinya jawaban yang serupa akan terdengar,
"Hyung, aku tak bisa."
"Kami membutuhkanmu, ini kesempatan terakhir kami." pinta suara itu lagi tanpa kehilangan harapan.
"Maafkan aku, Hyung...."
Atau yang mereka 'kira' lebih tepatnya?
.
.
"Apa katanya Namjoon?"
"Seperti biasa, Jin. Sebelum menutup teleponnya ia akan mengucapkan maaf."
Cicitan burung mengiringi langit jingga dengan membawa bayanganya di atas permukaan lapangan yang datar nan keras serta melewati siluet pepohonan yang membentang tinggi. Di bawah sana terdapat sekitar 5 orang sedang duduk berlesehan dengan kaki tertekuk dan 2 diantaranya merentangkan lutut juga tangannya. Keringat basah nampak bercucuran di tubuh maupun pelipis mereka meski angin sore telah berhembus sejuk.
"Sudah kubilang kan, ini akan sia-sia." celetuk seorang lelaki berkulit sedikit gelap yang tengah menyandarkan punggungnya pada tembok pembatas lapangan. "mustahil membuatnya mau kembali."
"Setidaknya kita harus terus mencobanya tae, apa kau lupa bagaimana dunia Jungkook dulu? Anak itu tak bisa hidup tanpa bola basketnya. Pasti ada cara lain."
"Hobie-hyung, apa kau pikir itu mudah?" Si anggota termuda kembali menyuarakan isi hatinya, "Kita punya waktu sampai musim panas mendatang. Apakah kita hanya akan menghabiskan waktu untuk membujuk anak itu? Kita tidak punya waktu sebanyak itu! Apa kau lupa jika setelah hari itu, jungkook tidak ak-"
"cukup tae...." Tiba-tiba Yoongi berdiri, menepuk bahu lelaki bernama Taehyung itu untuk tidak menuntaskan kalimatnya. Karena mereka tahu kemana arah kalimat itu akan berujung, rasanya hal itu tak seharusnya dibahas kembali setelah sekian lama terpendam.
"Ucapan Taehyung ada benarnya. Tak seharusnya kita memaksa anak itu sampai sebegininya. Selain terus memikirkan cara membuatnya kembali, kita juga harus fokus terhadap junior kita yang nantinya akan kita pilih untuk event musim panas nanti. Arrasseo?" Yoongi meminta pengertian.
Melihat ekspresi kawan-kawannya yang masih berkutat dengan pikirannya masing-masing tanpa mengindahkan ucapannya, iapun kembali berkata, "Ayolah, bukankah kita tidak boleh menyerah? Baiklah sebagai gantinya aku akan mentraktir kalian minum. Palli, sebentar lagi matahari akan terbenam. Kita lanjutkan latihannya besok"
Mereka pun akhirnya serentak menyetujui ajakan sang ketua, memilih untuk menyerah dengan berjalan beriringan sembari merasakan hangatnya musim semi tahun ini.
.
.
Seorang lelaki berpostur tubuh tegap, menggenakan hodie hitam dengan setelan celana jeans, sepatu convers hitam, tangan dimasukkan kedalam saku, dan telinganya disumpal oleh sepasang earphone, kini tengah menyusuri tapak jalan diantara rerumputan hijau yang masih basah karena embun pagi.
Tanpa sadar langkah kakinya menuntunnya pada tempat yang tidak dikehendaki. Sebuah lapangan basket yang tertutupi tembok pembatas sebatas perutnya dengan rangkaian kawat disekeliling. Lapangan itu bertengger di tengah kawasan taman yang cukup luas dan dikelilingi oleh 2 gedung besar yang saling berhadapan.
Tak lupa di hadapan lapangan basket tersebut disediakan kursi penonton dan terdiri dari 2 barisan. Tak seluas dan tak semegah seperti gor tempat perlombaan basket memang, lagipula ini juga tempat umum yang siapa saja bisa menggunakannya. Tapi hal itu sukses membuat ingatannya kembali memutar kebelakang.
Deru nafas memburu, pantulan bola, teriakan para wanita, tepukan di bahu, genggaman erat, tawa yang terdengar renyah, tiba-tiba kembali terbesit di otaknya. Semuanya tampak nyata, nampak hidup kembali. Namun lelaki itu malah memejamkan matanya kuat dengan tangan terkepal.
"Hentikan Jungkook, sampai kapanpun kau tak akan kembali." ujarnya pada dirinya sendiri.
.
.
"Jimin, pikirkanlah lagi baik-baik. Event kali ini akan membawa dampak yang besar bagimu."
Lelaki bertubuh sedikit lebih mungil itu berusaha tak mengindahkan ucapan lawan bicaranya sembari menata perlengkapan yang dibawanya untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Maafkan aku seonbae, tapi keputusanku sudah bulat." Jimin kembali menjawabnya tanpa berniat membalas tatapan lawan bicaranya. Lagi-dan lagi. Ia tahu jika sikap tak sopannya ini akan membuat lawan bicaranya sakit hati. Namun, Ia harus melawan. Ia harus keras kepala kali ini tanpa peduli bahwa tatapan memohon orang itu akan meruntuhkan pertahanannya.
"Ini keputusanmu, atau appa-mu?"
pergerakan terburu Jimin terhenti, bibirnya ia gigit kuat-kuat.
"Tidak, Taemin Seonbae. Ini adalah keputusanku." Ungkap Jimin sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda itu yang hanya pasrah menatap punggungnya hingga hilang dibalik pintu.
"Kau adalah musisi biola yang hebat Jimin. Aku tidak akan melepaskanmu dan tak akan membiarkan siapapun mematahkan mimpimu."
.
.
.
.
TBC or not?
Pendek? Ini adalah bagian dari teaser.
Oke ini adalah fic bxb pertamaku yang idenya muncul gitu aja pas lagi dengerin lagu Beautiful milik Crush. Im so addicted with that song, im in love.
Kuharap fic ini tidak mengecewakan dan ada peminatnya sehingga aku memiliki alasan dan semangat untuk melanjutkannya. Jangan ragu untuk memberikan kritik dan saran. Khamsahamnida :)
YOU ARE READING
My World Is Like You (KookMin)
Fanfiction"Kalau kau ingin meninggalkan mimpimu agar bisa menghapus masa lalumu, maka aku ingin mengejar impianku untuk terus meraih masa depan yang indah. Lalu, kenapa kau tak berubah pikiran dan mencoba meraihnya bersamaku?" Ini hanyalah sebagian dari kisah...
