[6] Don't Set Your Hope Too High

1.6K 69 8
                                    

"Aku bukannya tidak ingin berharap. Hanya saja, aku sadar bahwa harapan harus sesuai dengan kenyataan. Dan lagi, aku benci mengetahui bahwa kenyataan milikku tidak pernah sesuai ekspektasi."

***

Hari ini hari sabtu. Vievy sudah punya jadwal untuk mengisi hari liburnya itu. Pertama, tidur sampai puas. Kedua, makan jangan lupa. Ketiga marathon drama Korea!

Vievy memekik dalam hati mengingat jadwalnya yang ketiga. Sudah lama dia tidak menonton drama Korea. Padahal, saat ini di Korea Selatan drama-dramanya sedang bagus. Ini semua gara-gara dikerjain tugas. Baru kali ini saja, tugas-tugas Vievy sudah diselesaikan semuanya. Tanpa terkecuali. Jadi, gadis itu bisa sedikit berleha-leha untuk menghabiskan waktu liburnya.

Vievy membuka kelopak matanya perlahan. Semburat sinar matahari masuk ke dalam celah-celah kamarnya. Ia membuang nafas dengan keras, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan dibiarkan saja selimut itu menyentuh lantai.

Vievy bangkit dari tidurnya, ia duduk di tengah-tengah kasurnya dan dengan sigap meraih ponsel di bawah bantal. Vievy membuka layar ponsel tersebut. Jam 6 pagi. Lalu Vievy melirik beberapa notifikasi dalam aplikasi LINE-nya. Salah satunya dari Abi.

Ah, Abi lagi. Abi lagi.

Vievy suka bingung dengan sikap Abi yang selalu memperhatikannya. Seolah-olah mereka berdua ada apa-apa. Padahal sebenarnya tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka. Mereka hanya sebatas ... teman. Sekelas.

Cklek...

Pintu kamar Vievy terbuka perlahan. Vievy langsung menoleh ke arah pintu tersebut. Ternyata adiknya, Genta yang masuk ke kamar. Vievy kira Umi. Atau Abinya.

"Ngapain lo?" Tanya Vievy dengan suara khas bangun tidur. Gadis itu menaruh ponselnya kembali ke atas kasur. Genta berjalan masuk ke kamar kakaknya tersebut.

"Vie, temenin gue dong," rengut Genta lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur.

Eits. Jangan kaget jika Genta memanggil Vievy tanpa embel-embel kakak, mbak, teteh, atau yang lainnya. Karena menurut Genta, dia lebih nyaman memanggil kakaknya tersebut dengan namanya langsung. Berasa lebih dekat, gitu. Padahal aslinya mereka sering bertengkar karena hal sepele. Sering nyolot-nyolotan. Sering nyukurin satu sama lain kalau ada yang di marahi oleh orangtua mereka.

Adik-kakak memang begitu. Tapi ada satu momen dimana mereka berdua bisa saling menyayangi. Saling melengkapi. Dan bercanda-canda tanpa ada rasa dendam di dalam hati.

Vievy menabok punggung Genta dengan kuat lantaran lancang merebahkan diri di kasurnya. "Keluar! Gue nggak mau, ya, lo tidur disini!"

"Sakit bego!" Umpat Genta sambil mencoba mengelus punggung belakangnya yang terasa perih.

Lalu laki-laki yang duduk di bangku kelas 9 itu langsung bangkit dan duduk di pinggir kasur Vievy.

"Serius, Vie. Temenin gue nonton film horor, please. Sekali ini aja. Gue takut nonton sendiri," kata Genta dengan wajah memohon. Vievy menatap wajah adik satu-satunya tersebut dengan jutek.

"Pengecut, sih, lo! Nonton film horor aja pake ditemenin segala. Gimana mau punya cewek?"  cetus Vievy meremehkan, "Yang ada cewek lo ilfeel, Genta. Ngeliat kelakuan lo yang kayak gini. Sama film horor aja takut. Chicken."

"Vie, serius, Vie. Temenin sampe filmnya abis aja di kamar gue. Nanti gue beliin es krim deh yang kesukaan lo."

Najis. Bisanya nyogok.

Vievy [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang