Siang itu sinar matahari yang terik menyinari kota London. Hawa panas terasa membakar kulit. Dua gadis berambut panjang dengan seragam sekolah lengkap dengan tas terlihat sedang berjalan kaki di sepanjang trotoar di pinggir kota london, di antara orang yang berlalu-lalang. Mereka terlihat seperti anak SMA yang baru pulang sekolah.
Yang satu berambut lurus berwarna hitam, sedangkan yang satu berwarna pirang. Mata mereka yang tajam dan sama-sama berwarna biru itu memperhatikan jalanan yang penuh orang. Mereka sampai di sebuah gang berukiran nomor 9 di tembok putih di sebelah kiri gang. Gang itu berukuran agak besar, walaupun begitu jarang ada orang yang berlalu-lalang di situ.
Langkah mereka terhenti serentak, mata mereka menatap sesuatu di pinggir jalan, dekat selokan. Benda itu terlihat berwana hitam mengkilap dengan bentuk persegi panjang pipih.
"Apa itu? Benda mengkilap apa itu?" Tanya gadis berambut hitam dengan terkejut sekaligus antusias membuka pembicaraan.
"Hmm.. Benda itu kelihatan seperti buku.. Warnanya mengkilap." Timpal yang satunya dengan ekspresi datar, tapi dalam hatinya kebingungan, sementara gadis yang pertama mangambil buku itu.
"Kembalikan buku itu. Buku itu milik orang lain. Kamu tidak boleh mengambil barang orang lain tanpa izin." Ujar gadis berambut pirang. "Haaahh.. Kamu ini, Riel. Jangan terlalu kaku lah... Sans aja... Lagipula, aku mau mencari tahu kok siapa pemilik buku ini." Sangkal gadis satunya sambil tertawa.
"Yasudah lah.. Aku ingin pulang saja. Kamu baik-baik di sini ya Lily." kata gadis berambut pirang yang diketahui namanya adalah Gabriel, dengan nama panggilan Riel.
"Eiitttsss... Jangan dulu... Buku ini sepertinya masih bagus, bagaimana kalo kita tunggu di sini, siapa tau ada yang kehilangan buku lalu mencarinya" ujar Liliana, yang lebih akrab dipanggil Lily seraya duduk.
"Baiklah. Aku akan temani kamu di sini sampai setengah jam, selebihnya aku akan pulang saja. Aku ada pr buat besok." Kedua gadis itu pun menunggu sambil menanyai semua orang yang lewat situ, sayangnya, hanya seorang ibu-ibu dan seorang mbak-mbak beserta anaknya yang masih sekitar umur 8 tahun yang lewat, dan tidak satu pun dari mereka yang kehilangan buku.
[Gabriel pov]
Setelah setengah jam, aku memutuskan untuk pulang. Aku heran, kenapa ada orang seperti Lily, yang sangat hiperaktif, dia sampai mau menunggu orang yang menjatuhkan bukunya. Mau sampai berapa lama lagi sih? "Lily, aku pulang ya. Kamu kalau masih mau di sini ya silahkan. Aku ada pr buat besok."
"Tunggu sini"
"Gak"
"Yah, sebentar saja.. "
"Gak mau"
"Huuh, yaudah aku ikut kamu deh..."
Huuhhh... Akhirnya dia mau pulang... Aku sudah sangat capek. Terserah lah siapa pun yang kehilangan bukunya, yang jelas itu derita dia!
[Author pov]
Akhirnya kedua gadis itu melanjutkan perjalanan mereka ke dalam gang dengan membawa buku tadi. Tak lama kemudian, setelah mereka melewati beberapa belokan, mereka sampai di sebuah rumah besar di gang yang lebih besar dari yang tadi mereka lewati. Rumah itu terlihat bagus, bersih, dan sangat megah. Bangunan itu berwarna putih bersih, dilengkapi empat pilar melingkari pintu depan. Pagar dan gerbang bangunan itu sendiri berwarna abu-abu terang, dengan rumput di depannya yang tertata rapi dan selokan kecil.
Kedua gadis itu membuka pintu gerbang yang tidak terkunci, dengan suara gemericing samar. Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah melalui pintu depan, menyambut kedua gadis tadi dengan ramah.
"Hai. Kalian sudah pulang. Tadi kenapa gak ngabarin? Kan Pak Alex bisa jemput. Kenapa kalian suka jalan kaki sih?" Tanyanya agak kesal sambil menunjuk Pak Alex, supir pribadi mereka yang sedang berdiri di sebelah mobil. "Ya suka lah, jarak dari sekolah ke rumah kan deket, lagipula jalan kan bikin sehat, bi." Jawab Lily santai.
ESTÁS LEYENDO
World Conqueror : The Five Kingdoms
FantasíaGabriel adalah seorang anak SMA biasa. Namun, suatu hari Liliana, saudara angkatnya, menemukan sesuatu yang benar-benar membuat hidupnya berubah.
