"Aldennn! Tungguin" cewek itu berteriak memanggil sosok yang jauh ada di depannya.
"Ayo dong,masa masih pagi udah lemes sih" Alden mencoba memberikan semangat pada Nadi dengan mengangkat kedua tangannya dan mengisyaratkan 'sini'
Nadi cemberut,kembali melangkah menyusul sosok yang sudah jauh di depannya.
"Cape tau. Lo tuh kalo jalan cepet banget sih" Nadi berucap kesal pada Alden masih dengan nafas yang terengah-engah.
Alden tersenyum,ia lalu menarik pelan kedua sudut bibir Nadi kearah berlawanan. Menciptakan sebuah lekukan indah favoritnya.
"Gini kan cantik"
Nadi tak bisa berucap apa-apa. Lelahnya seakan terbayar ketika ia bisa bersama Alden.
"Kenapa liat-liat!?" Cetus Nadi sambil terkekeh kecil.
"Baru sadar kalo ternyata pacar gue tuh cantikk banget" Alden menurunkan kedua tangannya. Lalu ia beralih menggenggam tangan Nadi.
"Lah ini kenapa malah pegang-pegang" sekali lagi Nadi berucap sambil terkekeh pelan.
"Kalo gamau yaudah gue tinggalin lagi nih"
"Ehh,jangan dong. Ntar gue diambil orang,lu yang repot!!" kali ini Nadi berhasil mengundang Alden untuk terkekeh bersamanya.
🌻
"Di,ntar jalan yuk"
Nadi tak mempedulikan ucapan Alden,dia masih sibuk dengan lokernya.
"Bunga lagi?" Tanya Alden ketika melihat isi loker Nadi.
Nadi hanya mengangkat bahunya cuek. Tidak menanggapi kiriman bunga yang tak henti-hentinya membanjiri loker miliknya.
"Bagus deh,aku jadinya hemat gak perlu beliin kamu bunga" Alden berkata sambil melirik pacarnya itu.
"Itu sih namanya pelit"
"Tapi aku penasaran sama yang kasih kamu bunga"
Nadi hanya mengangkat bahu cuek. Berbicara dengan bahasa tubuh 'tidak tau'.
"Susah ya,cinta sama orang yang punya banyak penggemar. Makan ati mulu jadinya" Alden menaruh seluruh perhatiannya kepada pacarnya yang sedang sibuk memasukkan buku kedalam tasnya.
"Ngaca ih"
"Iya iyaa" Alden menanggapi lirikan maut dari pacarnya itu. Tapi ia tak mendapatkan respon apa-apa dari Nadi. "Eh iya,jadi gimana?" Alden masih berusaha mendapatkan respon dari wanita di hadapannya saat ini.
"Apanya?" Nadi mengernyit menatap pacarnya. Ia sudah selesai dengan lokernya.
"Nanti jalan ya?"
"Hm,,"
"Ayolah Di,udah lama banget kita gak jalan berdua. Mumpung kita masih ada waktu" kali ini Alden memaksa.
"Gak bisa lain waktu aja?"
"Kenapa?"
"Eum,nothing." Nadi menggigit bibir bawahnya. Entahlah perasaannya mendadak tidak enak.
"Kamu ada janji lain?" tanya Alden mengintimidasi.
Sudah Nadi duga. Setiap Nadi berusaha untuk menolak ajakan Alden pasti cowok itu mikir yang enggak-enggak.
"Gak gitu Al,perasaan gue gak enak aja"
"Apa lo sedang menjaga perasaan orang lain?"
"No!"
"Terus,kenapa gak mau? Apa salahnya kita keluar sebentar? Udah lama kita gak pernah -"
"Okey Al. Nanti,pulang sekolah kita jalan" jawab Nadi memotong perkataan Alden begitu saja. Dia tak ingin semuanya malah menjadi runyam.
"Lagi apa nih babang Alden sama neng Nadi tercinta" suara mengganggu yang datang dari belakang Alden membuyarkan suasana yang hampir runyam itu.
"Lu pada ngapain di sini?" Alden mengernyit dan berucap jengkel ketika melihat dua temannya ada disini.
"Ngapain lagi kalo gak ngeliatin Nadi" Fahri melirik kearah Nadi dan mengetipkan sebelah matanya.
"Udah bosen hidup lu Ri" Cakra menyahut dari sebelah Fahri.
"Yaudah deh,gue ke kelas dulu. Kan kalian udah bersatu gini" kali ini Nadi angkat bicara.
"Sama gue ya" Alden menyahuti cepat.
"Kalo Nadi aja diladenin. Lah kita, dicuekin Ra" Fahri masih saja menimpali obrolan Alden dan Nadi.
"Mangkannya lo tuh cari pacar!"
Serentetan kalimat yang diucapkan Cakra terasa menusuk dada Fahri. Cakra itu jarang bicara,tapi sekalinya bicara sering nyakitin.
"Udah ya,gue ke kelas duluan. Sampe ketemu nanti semuanyaa!" ucap Nadi sambil berjalan mundur dan melambai tangan pada ketiga cowok-cowok ganteng sekolah.
"Byee! Awas nabrak cantik" Fahri berucap centil pada Nadi. Membuat Nadi terkekeh lalu berjalan secara normal.
"Belom gue tampol ae nih anak" Alden menunjukkan bogeman tangannya kearah Fahri dan mereka pun melanjutkan itu dengan candaannya.
* * *
Haii,long time no see.
Short part buat pembukaan kali ini. Thx udah baca,jangan lupa buat selalu kasih saran kedepannya harus gimana ya guys. Luv u all!💛🌻
YOU ARE READING
Mea Culpa
Teen FictionSemuanya baik sampai Alden memaksa. Membuatnya kehilangan sesuatu yang teramat berharga. Hidup dengan rasa penyesalan dan bersalah yang luar biasa hebat. Mencoba merelakan namun semesta pun rasanya tak membiarkan. Tapi tetap,semesta tak akan sekejam...
