PW-8. Anggapan Yang Berbeda

206K 11K 254
                                    

AZHAR POV

Sekarang sudah pukul 10;00 tapi si Fathan belum nongol juga, perasaan dari kantor ke sekolah gak jauh-jauh amat deh.

Setidaknya kan kalau ada si Fathan bisa ada yang wakilin jika aku harus kesana-kemari. Tapi kali ini, terpaksa deh aku sibuk sendiri.

Huuufft…
Jari-jariku sudah keriting, karena menari terus di atas keyboard.

Tok. Tok. Tok. Tok. Tok~
Uhh, Akhirnya dia datang juga.
“Berisiiiik!”

Cklek
“Hai boss, selamat pagi.”Sapanya, tapi tak ku hiraukan. Aku lebih memilih melihat ke monitor Laptop.

Entahlah rasanya aku lagi merajuk pada si Fathan, Astaga! Kapan terakhir kali aku merajuk kaya anak kecil coba? Pasti ini gara-gara--

“Ih di sapa teh malah sibuk sendiri, Lihat nih siapa yang datang.” Pasti bohong, itu mah cuman alasan dia saja, supaya aku merespon ucapannya.

“Ekhem,”
“Ekhem,”
Percuma Fathan aku gak akan kepancing.

Tapi tunggu! Sejak kapan suara si Fathan berubah. Seketika aku menolehkan kepala untuk melihat siapa yang berdehem.

Ku lihat tiga orang laki-laki. Yang satu biasa saja, sedangkan yang dua tengah tersenyum di manis-manisin ke arahku.

Cih … mereka pikir aku akan luluh dengan senyum sok manis mereka itu apa?

“Tumben kalian kemari, ada apa?” tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.
Mereka adalah sahabat-sahabatku yang lainnya.

Ervan si dokter muda, dan Ken Ryushi atau kami sering memanggil nya Ken si Arsitek berbakat.

sesuai namanya Ken berasal dari jepang, hanya saja dia tinggal di Indonesia sejak umur 12 tahun bersama dengan kakak perempuannya yang menikah dengan orang Indonesia.

“Nih si Ervan lagi uring-uringan gak jelas. Masa dia maksa gue buat ketemu sama kalian!” Kata Ken.

“Ya sudahlah, gue juga lagi gak ada jadwal meeting hari ini,” kataku menimpali ucapan Ken.

“Woy.. kalian gak pegel apa berdiri terus. Sini duduk sama gue.” Teriak si Fathan.

Anjiiir itu orang kebiasaan banget deh, perasaan yang bos di sini aku kan. Kenapa jadi dia yang berkuasa, kalau saja dia bukan sahabatku udah ku pites-pites tuh leher.

Ervan dan Ken akhirnya duduk di sofa dengan si Fathan.Mau tak mau aku pun beranjak dari kursi kebesaranku untuk bergabung dengan mereka.Tapi sebelumnya aku mengambil minuman kaleng dulu dari lemari pendingin buat mereka.

“Udah lama kita gak hangout, kapan ya terakhir kali kita seru-seruan bareng.” Ken membuka obrolan kami.

“Baru juga dua minggu yang lalu, lo bilang udah lama.”Fathan menoyor kepala Ken.

Fathan dan Ken memang jarang akur, kalau ketemu pasti mereka akan saling meledek. Itulah cara mereka menunjukkan keakraban mereka.

Di antara kami berempat Ervan lah yang paling pendiam.
Aku jadi penasaran apa yang membuat dia uring-uringan, kalau gak salah dengar tadi Ken bilang begitu kan.

Pernikahan Wasiat [Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang