PW-2. Pernikahan Wasiat

246K 12.2K 181
                                    

2. Pratama's Family

EMILIA POV

"Kek ... Apa yang diucapkan O-om itu benar. Kakek istirahatlah biar pikiran Kakek lebih tenang. Emi tidak mau Kakek kenapa-napa, hanya Kakek yang akan menjaga Emi, tidak dengan yang lain." Aku tidak mau racauan Kakek barusan menjadi kenyataan.

Mustahil kalau aku harus menikah dengan seseorang yang tidak ku kenal sebelumnya. Memang sih dia ganteng, sepertinya dia juga sangat menyayangi Kakek Firman. Tapi di sisi itu, dia tipe laki-laki yang kaku. Dan aku tidak suka dengan laki-laki seperti itu. Sepertinya umur kami juga terpaut cukup jauh, jadi--

"Kau ... keluarlah dulu."

Apa katanya? Keluar? Maksudnya ... dia ngusir aku begitu? 'Ya iya lah dia ngusir kamu Em, masa iya ngusir Kakek.'

"Cepat!" sambungnya lagi.

"Ap--, oh ii-iya." Sungguh aku gak berani menolak perintahnya. Meskipun aku penasaran dengan apa yang mau dia bicarakannya dengan Kakek, tapi ... semoga saja bukan sesuatu yang akan semakin membuat hidupku lebih kacau lagi dari ini. Dengan terpincang aku keluar dan mendudukan tubuhku pada kursi yang ada di depan ruang rawat Kakek.

Perawakan seseorang yang berjalan di ujung lorong berhasil menarik perhatianku. Aku tahu--sangat tahu meskipun yang kulihat hanya punggungnya saja.

"Papa!" Teriakku. Tapi lelaki itu tetap tidak menolehkan kepalanya. Tidak--tidak. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.

"Papa ... Tunggu! Ini Emi pah ...." Ah sial. Sakit dikakiku ini membatasi ruang gerakku. Seorang suster memegang bahuku, menahan tubuhku yang hampir meluruh ke lantai.

Suster ini kembali membawaku duduk.

'Kenapa keadaannya jadi seperti ini Pah? Kenapa Papa meninggalkanku? Apa Papa tahu kalau aku akan dinikahkan oleh Kakek yang membawaku it-"

Keningku berkerut. Kalau aku menikah, bukankah Papa harus menjadi waliku? Entah kenapa ... tapi sekarang aku merasa senang dengan keinginan Kakek Firman tadi. Karena tanpa sengaja hal itu bisa membawa Papa untuk mendekat kembali padaku.

Ketika Papa didekatku nanti. Pasti dia akan membatalkan pernikahan ini. bukankah aku disini karena Papa tidak mau aku menikah. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau Papa juga akan menolak pernikahanku yang ini.

Astaga ... Kenapa diusiaku yang masih mudah ini, aku harus dihadapkan dengan yang namanya pernikahan. Aku ini masih seorang murid SMA.

Cklek!!!
Pintu ruang rawat Kakek terbuka, menampilkan sosok Om-om yang tadi.

"Bag-"

"Nanti jam tujuh pagi kita akan menikah, bersiap-siaplah." Baru juga ini bibir terbuka untuk memastikan keadaan Kakek Firman sekarang si Om itu sudah memotongnya.

"Jagalah Kakek baik-baik. Saya akan menyiapkan segalanya." Tanpa menunggu jawabanku, dia berlalu begitu saja.

***

Ijab qabul telah di lakukan satu jam yang lalu. Hanya di hadiri oleh Kakek yang menjadi saksi bersama dua orang perawat yang lainnya. Sedangkan yang menjadi wali nikahku adalah ... seorang Dokter yang ku ingat sebagai teman Papaku dulu.

Aku masih tidak mengerti. Apakah Papa menyerahkan hak walinya, atau bagaimana? kalau memang benar Papa yang melakukannya, kenapa Papaku sampai setega itu. Dan bagaimana bisa, Dokter itu bersikap seolah-olah enggan berbicara denganku.

Aku menyetujui permintaan Kakek dengan harapan bisa kembali bersama Papa. Kalau aku tahu keadaannya akan seperti ini, mungkin aku tidak akan mau menyetujuinya.

Pernikahan Wasiat [Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang