"Untukmu, keseribu kalinya...'' katamu di suatu senja, ketika kamu memberiku sekuntum bunga daffodil yang kamu petik dari atas bukit. "Inilah setulusnya kalimat,'' katamu lagi dan kemudian kamu bercerita bahwa kamu mendapatkan kalimat itu dari seorang tokoh Hazara dalam novel Khaled Houseini. Kamu antusias bercerita. Aku hanya mengangguk-ngangguk. Entah darimana kamu telah mendapatkan kalimat itu, yang aku tahu aku telah terbius.
Aku terbius oleh wajahmu yang tersiram sinar dari langit merah, yang membuatmu terlihat seperti berlian yang berkilau. Aku tak ingin kehilangan saat-saat ini, ketika kamu begitu tulus, seperti secarik kertas putih. Aku tak ingin kehilangan saat-saat ini, ketika kamu sangat manis dan bahagia. Aku tak ingin kehilangan saat-saat ini, ketika kamu membicarakan sesuatu yang sangat spesial, hanya untukku, untuk keseribu kalinya. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Bagaimana mungkin aku mampu kehilangan dirimu?
"Untukmu, keseribu kalinya...'' katamu di suatu senja, ketika kamu memberiku seikat mawar. Kamu berada di atas bukit, dan aku di bawahnya. Dalam jingga, sosokmu berubah menjadi siluet dan kamu memanggil-manggil diriku, aku melihat kamu berjingkrak senang, dan kamu meneriakkan kalimat magis itu, "Aku mencintaimu!!''
Aku berlari ke atas bukit dan menari bersamamu. Kamu memainkan biolamu dan aku menari. Kakiku terhentak-hentak di atas rerumputan dan angin membasuh gaunku. Kita berdua saling memperhatikan satu sama lain. Oh, belum pernah ada lelaki yang memperhatikan aku dalam tatapan seindah itu. Kamu tersenyum. Oh, juga belum pernah ada lelaki yang tersenyum padaku sedemikian rupa, seolah-olah kamu melukis senyum khusus untukku, tak ada yang lain, tak untuk seseorang yang lain. Pada saat itu, hatiku telah tertinggal, tidak untuk sesaat, namun selamanya. Hatiku tertambat di atas bukit ini bersamamu. Tertambat di antara sela-sela pohon dan rimbun dedaunan. Burung-burung melayang di langit yang kian memerah, kian menjadikan kita siluet, kian menjadikan kita menyatu, kian menjadikan kita bahagia.
Nada-nada cinta itu berhamburan. Aku merasakan surga di atas kepalaku. Oh sayangku, kebahagiaan ini membuatku menangis. Aku menangis, sebab kebahagiaan yang membuncah ini tidak terbendung lagi oleh sekedar senyuman dan gelak tawa. Aku hampir tidak pernah memahami konsep dunia tanpa cinta ataupun penuh cinta, yang aku pahami adalah aku ingin selalu bersamamu, entah bagaimana bisa demikian. Aku hanya seorang perempuan yang menuruti perasaan, dan perasaan itulah yang membawaku bersamamu sampai ke atas bukit ini, bersama tergelak dalam nyanyian tawa dan tarian senja. Kamu mencintaiku, dan aku pun mencintaimu, sayang.
Tetapi kemudian kamu pergi...
*****
Aku bertanya pada diri sendiri, apa yang barusan saja terjadi padaku? Aku melihat padang bunga dan angin menidurkan mimpi. Aku melihat camar melintasi langit merah dan daun-daun berguguran. Aku melihat horizon di barat dan timur, hanya untuk mencari-cari dirimu. Kita baru saja dipertemukan dan dalam sekerling mata, kita berpisah. Sungguh, aku mencari-cari dirimu, aku berharap kamu kembali padaku.
Aku masih ingat kalimat terakhir yang kamu ucapkan padaku sebelum kita berpisah, "Pada senja, aku akan pulang.'' Kamu telah mengucap janji, "Untukmu, keseribu kalinya... aku akan kembali padamu,'' dan aku disini, sayang, menunggumu. Pada senja aku menunggumu kembali.
*****
Aku teringat ketika kamu memainkan biola untukku. Pada bukit penuh bebungaan, pada langit merah, aku mengenang dirimu, mengenang alunan biolamu.
"Ini adalah tentang kisah cinta,'' katamu dan nada-nada cinta itu menjadi nada sedih yang berhamburan.
Sering kali aku merasa sebenarnya aku tidak hidup, aku hanya berkhayal. Apakah hidup ini adalah khayalan? Sering kali aku berpura-pura bahwa aku tidak rindu, hanya untuk terlihat tegar. Sering kali aku menangis ketika orang lain mengira aku tengah terlelap. Sering kali aku putus asa, bahwa rinduku sudah berdarah-darah. Namun tiap kali kalimatmu membangkitkanku, "Untukmu, keseribu kalinya...''.
ESTÁS LEYENDO
Untukmu, keseribu kalinya...
Historia CortaAku masih ingat kalimat terakhir yang kamu ucapkan padaku sebelum kita berpisah, ''Pada senja, aku akan pulang.'' Kamu telah mengucap janji, ''Untukmu, keseribu kalinya... aku akan kembali padamu,'' dan aku disini, sayang, menunggumu. Pada senja ak...
