Bagian 20

3.3K 139 0
                                    

Radit POV

Siapa yang menyangka bahwa hidupku akan penuh dengan keajaiban. Allah menghadirkan Puri dalam hidupku, menjadikan dia penyempurna sebagian ibadahku. Meskipun aku harus menunggunya lebih dari 2 tahun.

Dan aku yang sedari kecil terlahir sebagai anak tunggal seorang pengusaha ternyata memiliki kakak yang tak pernah aku temui.

Aku bahkan belum mengenalnya. Ayah baru mengenalkannya hari ini. Selama 25 tahun kami terpisah. Bahkan aku terlambat mengenalkan diriku sebagai adiknya.

Airmata ini lolos keluar membasahi pipiku. Bagaimana bisa aku baru mengenalnya setelah dia telah pergi dari dunia ini. Tatapanku kosong saat ayah menuntunku ke nisan bertuliskan nama Raesha Azmy Malayeka Saira. Dia kakakku. Saudaraku satu-satunya yang sama sekali tak pernah aku kenal.

"Dia meninggal satu bulan yang lalu karena perdarahan. Dia melahirkan bayi yang sangat cantik Dit. Farzana Malayeka Kirei. Bayi mungil itu membutuhkan sosok orangtua yang mampu menyayangi dia. Ibu rasa hanya kamu dan istrimu lah yang pantas Dit." kata Bu Azmy, ibu kandung kak Saira mantan istri ayah yang juga ibuku. Ibu keduaku setelah bunda. Dia masih terlihat muda meskipun dia tak berbeda jauh umurnya dengan bunda.

Kak Saira memang ikut bu Azmy ke Kalimantan selama ini. Ayah tak pernah berhasil melacak mereka karena ibu menggunakan identitas baru. Ibu menikah baru dengan seorang Laki-laki yang juga sangat menyayanginya disana. Di kehidupan barunya, ibu memiliki dua anak seumuran Khai dan Kahfi kedua adik iparku. Beruntungnya mereka bisa mengenal kak Saira.

"Kenapa Radit bu? Suami kak Saira?" tanyaku bingung. Memang sedari tadi ibu tak pernah menyinggung masalah suami kak Saira.

Bukannya mendapat jawaban dari pertanyaanku ibu malah menangis. Aku memandang ayah menanyakan situasi ini. Namun ayah hanya tersenyum padaku. Akupun memeluk Ibu menenangkannya. Dia ibuku. Aku bisa merasakan betapa ia menyayangiku.

"Saira tak pernah menikah dengan siapapun Dit." kata Ibu terbata-bata. Tidak menikah? Bagaimana bisa? Lalu siapa ayah dari anak kakakku?

"Maksud ibu?"

"Saira hamil karena diperkosa Dit." kata Ibu semakin terisak. Diperkosa? Kakakku diperkosa? Bagaimana bisa? Siapa yang begitu tega melakukan hal keji itu pada kakakku?

Saat itu juga tubuhku ambruk. Kenyataan itu teramat berat untukku ketahui. Rasa bersalah menyerangku begitu saja. Apa gunaku sebagai adik. Aku tak bisa menjaga kehormatan kakakku sendiri.

"Siapa... Siapa bu yang berani melakukan hal keji itu pada kak Saira?" tanyaku terisak.

"Orang yang memiliki dendam pada kakakmu nak."

"Dendam?" kini suara ayah yang ku dengar. Dia nampak emosi mendengarnya.

"Ya... Seseorang yang pernah di tolak lamarannya sama Saira. Dia juga yang membuat Saira selalu gagal untuk menikah. Dia selalu meneror calon-calon suami kakakmu."

"Lalu dia sekarang dimana bu?" tanyaku geram. Mungkin kalau dia ada didepanku sudah kuhabisi dia.

"Tenanglah Dit. Mas. Dia sudah dipenjara sekarang. Kalian gak perlu khawatir."

"Maafkan aku Az... Aku gak pecus jadi ayah. Bahkan putriku menderita seperti itupun aku gak tau." kata Ayah menangis. Dia ayahku. Baru saat ini aku melihat dia menangis. Aku melihat sorot bersalah dari matanya. Aku yakin diapun sama terlukanya denganku. Mungkin lebih.

"Kak maafin adikmu yang gak berguna ini ya? 25 tahun aku hidup, aku tak pernah tau kalau aku memiliki kakak secantikmu. Ayah dan bunda tak pernah memberitahu ku hal ini. Aku mengira aku benar-benar hidup sendiri. Kau masih enak kak punya dua adik yang bisa menggantikanku. Tapi aku? Ah sangat mengenaskan kak hidupku ini." batinku.

HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang