Bagian 19

2.6K 132 0
                                    

Disinilah Radit sekarang, di rumah sahabatnya sekaligus dokter yang selama ini menangani istrinya. Radit merasa hanya Hasbi lah yang mampu menolongnya saat ini.

"Jadi Puri minta loe buat nikah lagi? Dan itu karena permintaan nyokap loe? Super sekali." kata Hasbi setelah Radit menceritakan semua masalahnya.

"Gak usah ngeledek deh loe. Gue kesini buat minta saran bukan buat di ledekin." kata Radit kesal.

"Haha... Ok ok gue fokus. Terus gue bisa bantu apaan nih?" tanya Hasbi

"Kasih saran lah buat gue gimana caranya biar Puri gak nyuruh gue buat nikah lagi."

"Hmm... Kalau cowok lain yang disuruh nikah lagi pasti gak bakal nolak."

"gue bukan mereka."

"Iya gue tau. Makanya gue juga ikutan bingung nih bro. Hmm kalau kendala buat adopsi anak emang susah. Apa lagi nyokap lho kan maunya yang darah daging lho. Coba gue tanya temen gue yang dokter kandungan dulu deh ya. Gak faham gue kalau yg beginian. Bentar loe tunggu sini dulu." kata Hasbi sambil berlalu meninggalkan sahabatnya.

"Diminum Dit." kata istri Hasbi.

"Makasih Nis."

"Kamu yang sabar ya menghadapi ini semua. Ini ujian buat hubungan kalian. Puri itu hanya tertekan Dit. Dia hanya butuh keikhlasan dan kelapangan hati buat menerima itu semua. Allah itu Maha Kuasa Dit. Kun fayakun. Jangan lupa hal itu."

"Iya Nis makasih. Aku cuma bingung bagaimana ngadepin Puri. Dia memintaku untuk menikah lagi."

"Sepertinya kalian perlu waktu berdua Dit. Selama kalian menikah kalian belum pernah bulan madu kan? Ajak Puri bulan madu deh Dit. Ya gak perlu jauh-jauh kok. Yang penting kalian hanya berdua dan terbebas dari tekanan orang-orang sekitar kalian. Wanita itu butuh di perhatikan dit."

"Bener tuh kata istri gue. Kalian hanya perlu refreshing. Oh iya temen gue yang kerja di Singapura sekarang lagi tugas di bali buat beberapa bulan. Nah bisa tuh kalian buat janji pemeriksaan sama dia sekalian liburan. Dia bilang masih ada harapan untuk Puri hamil meskipun hanya sedikit. Dia perlu memastikannya."

"Loe serius?" tanya Radit memastikan

"Ya itu sih yang dibilang temen gue tadi. Kalau loe mau gue kasih tau dia buat bikin jadwal sama loe dan Puri."

"Loe atur aja. Gue akan kasih tau kabar bahagia ini sama Puri." kata Radit bersemangat.

"Hmm dit sebaiknya jangan dulu. Jangan kasih tau hal ini sama Puri. Takutnya hasil pemeriksaan gak sesuai dengan ekspektasi kita. Aku hanya takut Puri kecewa." kata Nisa.

"Bener kata Nisa Dit. Jangan dulu loe kasih tau ini. Loe cukup bilang kalau kalian mau liburan ke Bali."

"Hmm ok gue terima saran kalian. Thanks rek. Kalian memang sahabat terbaikku dan Puri."

"Gak usah lebay deh. Semangat bro." kata Hasbi disambut kekehan Radit

"pasti. Gue pulang assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." kata Hasbi dan Nisa bersamaan.

Ingin rasanya Radit segera pulang dan memberitahu kabar bahagia ini pada istrinya. Tapi apalah daya sesampainya dirumah Radit tak menemukan sosok istrinya.

"Pak... Puri sama ibu lagi pergi ya? Kok gak keliatan?" tanya Radit pada ayah mertuanya

"Iya dit. Kerumah Om Gun. Kan Ira baru aja lahiran tadi pagi."

"Bapak gak ikut kesana?"

"Nanti dulu dit. Masih capek ini baru pulang."

"Emang bapak habis darimana pak? Kan bapak udah gak ngurusin sawah lagi?" tanya Radit heran. Memang semenjak ada Radit disini, Radit melarang mertuanya untuk menggarap sawah lagi. Radit memberikan warung cabangnya di Gandusari dan Wlingi untuk mertuanya. Itupun sudah ada yang menghandle. Mertuanya hanya perlu sesekali memantaunya.

Radit memang mengembangkan warung sehatnya dibeberapa wilayah di blitar. Ada di Wlingi, gandusari, garum dan kota. Sekarang masih proses pembangunan di daerah Srengat.

"Bapak tadi habis di sandera sama anak-anaknya Aisya."

"Di sandera? Sama Zia dan Zua? Kok bisa pak?" tanya Radit mulai tertarik dengan cerita mertuanya. Dia sangat tau bagaimana sifat kedua balita kembar keponakan istrinya itu. Hiper aktif.

"Ya kamu tau sendirilah gimana mereka. Tadi bapak gak sengaja ketemu mereka dirumah nenekmu. Eh malah dibuat kuda-kudaan sama mereka berdua. Encok rasanya ini pinggang."

"Hahaha... Ya bapak sih mau-maunya di jadiin kuda sama mereka."

"Kualat kamu ngetawain orang tua. Ya mana bapak tega nilam Dit. Mereka kan udah kayak cucu sendiri. Kan karena mereka bapak gak kesepian lagi. Puri dan Kahfi kan udah sama-sama besar. Sering gak dirumah juga."

"Bapak pasti pengen banget punya cucu sendiri ya?" tanya Radit getir.

"Kalau ditanya pengen pasti bapak pengen lah dit. Tapi seperti ini pun bapak udah sangat bersyukur. Udah punya banyak cucu lho bapak ini."

"Radit bakal terus berusaha supaya Radit dan Puri bisa punya anak pak. Radit janji."

"Gak perlu dipaksa Dit. Dengan kamu ada selalu disamping putri bapak itu udah sangat cukup buat kami. Puri beruntung memiliki kamu yang mau menerima dia apa adanya. Terimakasih Dit."

"Pak... Saya melakukan ini semua karena saya cinta sama Puri. Jadi sudah jadi kewajiban saya untuk membahagiakan dia."

"Ayah bangga sama kamu Dit." kata Imran sukses membuat anaknya kaget.

"Loh ayah kok disini?"

"Emangnya ayah gak boleh gitu maen dirumah besan?"

"Ayah sama bunda?"

"Enggak dit. Bundamu malu katanya ketemu kamu sama Puri. Dia menyesal kemarin udah asal bicara. Ayah kesini sebenernya pengen ngomongin masalah ini sama kamu. Maafin bundamu ya. Dia hanya syok. Dia pernah diposisi Puri. Dan dia menyesal karena hampir saja menjerumuskan menantunya sendiri dalam lubang luka yang sama dengannya dulu."

"Maksud ayah?"

"Hmm sebaiknya saya pergi. Kalian perlu waktu berbicara berdua bukan." kata Rudi ayah Puri hendak pergi.

"Kamu juga perlu tau ini Rud." kata Imran mencegah kepergian besannya.

"Ini sebenarnya ada apa yah?" tanya Radit semakin bingung.

"Kamu pasti tau kan berapa lama kami menunggu kehadiran kamu di kehidupan kami?" tanya Imran pada putranya.

"Kurang lebih sepuluh tahun kan yah?" tanya Radit karena masih samar-samar mengingatnya.

"Benar Dit. Itu waktu yang sangat lama buat kami menunggu. 5 tahun pernikahan nenekmu meminta ayah untuk menikah lagi. Alasannya karena nenek takut bundamu mandul. Bundamu ikut memintanya dit. Ayah tau dia terpaksa melakukannya karena tak mau membuat nenekmu terluka. Ayah dalam posisi sulit saat itu. Tapi akhirnya ayah gak bisa menolak saat bundamu mengancam meminta cerai. Akhirnya ayah menikah lagi dengan perempuan pilihan nenekmu. Awal pernikahan kami berjalan lancar, beberapa bulan setelah menikah dia mengandung. Senang hanya itulah yang kami rasakan. Aku, dia, bundamu dan keluarga yang lain dengan senang hati menerimanya. Bayi itu lahir dan ayah beri nama Saira, Raesha Azmy Malayeka Saira. Dia kakakmu Dit. Kamu sebenarnya bukan satu-satunya anak ayah."

"Aku punya kakak yah? Dan kenapa Radit tak pernah tau? 25 tahun kalian menyembunyikan hal besar ini? Kenapa yah?"

"Ayah hanya menuruti permintaan ibunya Saira Dit. Dia gak mau menyakiti bundamu lebih jauh lagi. Dengan adanya kamu diantara kami itu sudah sangat membahagiakan kami dit."

"Maksud ayah?"

"Dia meminta cerai dari ayah saat bunda mengandung kamu. Dia gak mau bunda stress dan akan mengganggu kehamilannya. Dia hanya meminta ayah untuk mengingat Saira sebagai anaknya tanpa perlu ayah tau dimana keberadaan mereka. Mereka menghilang."

"Itu artinya ayah gak pernah tau dimana Kak Saira dan ibunya?"

"Selama ini ayah berusaha mencari mereka tapi ayah tak berhasil menemukan mereka." kata Imran sembari menangis. Radit tau sangat berat bagi ayahnya karena kehilangan anaknya. Radit kecewa. Sudah pasti, 25 tahun dia mengira hidup sendiri tanpa punya saudara. Tapi kasian melihat ayahnya seperti ini membuatnya ikut bersedih. Ayahnya orang yang kuat. Dia hebat. Hanya itulah yang bisa Radit katakan. Radit memeluk ayahnya, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam yang dirasakan ayahnya.

HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang