Bagian 2

6.5K 203 2
                                    

Diseberang, Puri sedang menakupkan kedua tangannya, mencari kehangatan untuk tubuhnya karena tubuhnya basah kuyub tersiram air hujan. Berkali kali Puri bersin-bersin. Alerginya kembali kambuh. Dan hal itu membuatnya tak nyaman. Didalam kesendiriannya dia membuat kegaduhan yang menurutnya mengganggu orang disekitarnya. Sesaat menyadari bahwa disekelilingnya hanya ada beberapa manusia yang juga merasa kedinginan sama sepertinya. Mata Puri berhenti pada seorang cowok yang tengah berdiri tak jauh didepannya. Perlahan cowok ganteng bertubuh atletis itu berjalan menghampirinya.
"tissue mbak?" Tanya Cowok itu sambil memberikan sebungkus tissue pada Puri
Puri tersenyum lalu mengambil selembar tissue dari cowok itu. Sambil terus bersin-bersin tanpa henti. Bahkan Puripun belum sempat berterimakasih pada cowok itu.
"Makasih Mas... maaf aku bersin-bersin daritadi." Kata Puri saat bersinnya sedikit berhenti.
"Iya gag papa mbak... mbak alergi dingin?"
"Iya kalau lagi kedinginan ya gini ini mas... bikin berisik..."
"Kalau gitu mbak pakek jaketku aja..."
"Enggag mas gag papa... udah biasa kog..."
"Daripada bikin berisik..."
"Terus masnya pakek apa?"
"Saya gampanglah mbak... ini mbak..."
"Makasih kalau gitu mas..." Kata Puri sambil memakai jaket cowok itu
Puripun mengobrol banyak hal dengan cowok yang belakangan ia tau namanya David yang saat ini tengah menjadi seorang mahasiswa jurusan hukum di UB semester 5. Saking asyiknya mengobrol tanpa mereka sadari perlahan hujan mulai reda. Ketiga teman Puripun menghampiri Puri untuk mengajaknya pulang.
"David... Aku harus pulang sekarang... jaketnya gimana? Aku balikin sekarang atau..." Tanya Puri saat ketiga sahabatnya memanggilnya.
"Kamu bawa aja... ntar kalau aku mau ngambil aku keasramamu atau kita bisa janjian dimana gitu."
"Yaudah aku duluan." Kata Puri sambil berlalu pergi menyusul ketiga sahabatnya.
"Ciee... siapa tadi? Ganteng loe... iya gag?"
"iya pakek dipinjemin jaket segala lagi."
"Namanya David anak UB... gue juga baru kenal tadi." Kata Puri cuek.
"Wah gag lama lagi bakal ada yang jadian nich."
"Apaan sich loe. Udah ayo pulang." Kata Puri sambil berjalan menuju tempat motor sewaan mereka diparkirkan tadi.
Bahkan disepanjang jalan, Puri yang sedang menyetir membonceng Intan masih saja digoda olehnya.
"Ganteng lho Pur... sayang kalau gak loe tanggepi."
"Tan... gue kenal dia aja baru tadi. Cuma kebetulan. Belum tentu ketemu lagi kan. Siapa tau juga dia udah punya pacar."
"Ya jangan patah hati dulu lah Pur."
"Yang patah hati juga siapa Tan. Jatuh cinta aja juga belum kok."
"Mau dong berarti jatuh cinta?"
"Mulai deh. Udah jangan godain gue mulu. Masih nyetir nih gue."
"Tapi beneran loe Pur. David itu ganteng abis. Andai aja tadi yang kenal duluan gue bukan loe. Pasti gue udah seneng banget sekarang."
"Dasar loe tuh ya."
"Tapi filling gue loe bakal jadian sama David bentar lagi. Gue bisa jamin itu."
"Ya doain ajalah Tan. Kan katanya doa orang teraniaya itu gampang terkabul."
"Maksut loe apaan Puri???"
"Kan loe termasuk orang yang teraniaya gara-gara jomblo." Kata Puri sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sialan loe. Eh loe juga jomblo kali Pur."
"Setidaknya gue gak pernah galau soal jodoh."
"Gue juga gak galau tuh'"
"Yakin loe??? Kemarin itu apa coba?? Waktu Hilma jalan sama cowoknya loe Baper gitu."
"Terserah loe deh Pur. Puas puasin aja."
"Enggak enggak Tan. Gitu aja ngambek."
Intan tak menanggapi perkataan Puri. Puripun merasa bersalah takut kalau ucapannya menyinggung perasaan Intan.
"Tan loe marah sama gue??? Yah jangan marah dong. Gue kan cuma bercanda."
"Tan... sory deh. Jangan ngambek lah."
"Hahah... lucu banget muka loe." Kata Intan yang ternyata sengaja mencandai Puri
"Gue kira loe beneran marah sama gue Tan."
"Iya enggaklah Pur. Gue gak segitunya juga kali."

HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang