15. Mau Bolos Denganku?

582 64 5
                                    

Sia POV


'Tunggu. Bukankah itu Yori?'

Aku melihat pria dengan jaket motor coklat baru saja keluar dari minimarket di pojok perempatan. Aku kenal betul itu jaket Yori. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menyusul orang yang terlihat seperti Yori itu. Sayangnya, orang itu berada di sisi lain jalan dan aku harus menyeberang dulu untuk sampai ke tempatnya.

Dan sekarang, orang itu mulai beranjak pergi dari minimarket itu.

'Oh tidak! Tunggu, Yori!'

Aku mencoba mencari celah kendaraan sambil memaju-mundurkan tubuhku. Untung saja tak lama kemudian ada bapak-bapak yang mau menyeberang juga. Akhirnya aku bisa menyeberang dan sampai di minimarket itu.

Aku mencari-cari sekeliling hingga akhirnya aku melihat orang itu sudah jauh di sana. Tanpa pikir panjang lagi, aku mengejarnya.

Entah itu Yori atau bukan, aku harus memastikannya sendiri.

Orang itu terlihat memasuki gang besar lalu masuk lagi ke gang kecil dan sempit. Lalu ia berhenti di depan sebuah gerbang rumah yang tidak terlalu besar. Berkat itu pulalah aku bisa menyusulnya.

"Yori!!!" ucapku dengan sangat keras. Napasku serasa mau habis. Berlari sejauh itu menguras tenaga juga, terlebih lagi aku belum sarapan. Kempes sudah perutku ini!

Begitu lelaki itu menoleh, ternyata dia benar-benar Yori. Aku berjalan lebih dekat padanya. Dari situ aku bisa tahu ekspresinya. Dia terlihat kaget dengan keberadaanku di sana.

"A-apa yang kau lakukan di sini, udang??" ucap Yori terbata-bata.

Saking bahagianya aku bertemu Yori, aku tidak bisa berhenti tersenyum.

"Aku tahu itu kau! Kau baru saja dari minimarket di perempatan itu kan? Awalnya aku ragu, tapi ternyata itu benar kau. Akhirnya aku bisa menemukanmu, Yori." ucapku masih terengah-engah. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Apa ini rumahmu?"

Aku memandang ke arah rumah itu. Sepertinya ini bekas gudang atau toko kecil. Bahkan di sana tidak ada jendela kaca yang lebar seperti layaknya rumah pada umumnya. Yang ada hanya seng dan pintu kecil.

Tunggu! Bukankah Yori itu BSB?? Apa benar ini rumahnya?

Yori terlihat menoleh ke kanan ke kiri seperti seorang pencuri yang sedang melakukan aksinya. Tiba-tiba saja dia menarikku sambil berkata, "Jangan memanggil namaku terlalu keras, udang!"

"Kenapa? O iya kenapa kau tidak masuk sekolah? Apa kau sakit? Apa sesuatu terjadi padamu? Asal kau tahu, banyak orang mencarimu di sekolah." ucapku tanpa henti.

"Kau ini, banyak bicara. Sudah, masuklah dulu." ucap Yori sambil menarikku memasuki rumah kecil itu.

Ketika aku memasuki rumah Yori, aku bahkan tidak menyangka Yori tinggal di dalamnya. Rumah itu sangat berantakan dan bahkan hanya ada satu ruangan besar di sana. Atau mungkin memang seperti ini gambaran kamar anak cowok?

Tunggu. Kamar Yoriii???

Aku tidak pernah berpikir akan masuk ke kamar seorang lelaki. Ini tidak bisa disebut kamar, tapi di sini memang hanya ada satu ruangan dan di sana itu ada tempat tidur Yori. Jadi...

Ya ampuuunn, tempat tidur Yori....

Eh, tapi kan... bukankah mereka bilang Yori itu BSB? Apa benar ini rumahnya?

"Maaf ya berantakan," ucap Yori sambil merapikan ruangannya itu. Aku hanya menjawabnya dengan senyum.

"Duduklah, aku akan mengambil cemilan untukmu."

DreamcatchersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang