2. Kau Penculik Ya?

1.1K 152 17
                                    

"Apaan sih?" ucap Sia sambil menoleh kebelakang.

Terlihat seorang lelaki mengenakan jaket motor warna coklat tua tanpa diresletingkan sedang memegangi tas Sia.

Siapa cowok ini? Ngapain juga megangin tasku?

"Eh, lepasin!" Sia memiringkan tubuhnya mencoba menjauhkan tangan lelaki itu dari tasnya.

Tasnya berhasil terlepas . Namun ketika Sia mulai beranjak pergi, tangan itu kembali memegangi tasnya.

"Eeehh, apaan sih? Lepasin!", ucap Sia agak keras.

Kali ini lelaki itu tidak mau melepaskan tasnya.

"Kau ini benar-benar bocah nggak tau diri ya?", ucap lelaki itu.

Tunggu, sepertinya aku pernah dengar suara ini?

Sia menghentikan pemberontakannya. Ia berpikir keras. Ia merasa seperti mengenali suara itu, tapi dia tidak mengenal wajah lelaki itu sama sekali.

Ngapain juga dia ngatain aku nggak tau diri? batin Sia.

Beberapa menit Sia bengong memikirkan lelaki itu, tiba-tiba pandangannya teralih karena satpam sekolah terlihat akan menutup gerbangnya. 'Oh tidak, Gerbangnya!'

Tanpa berpikir panjang Sia langsung melangkahkan lagi kakinya, tapi sayangnya tangan lelaki itu terlalu kuat. Ia bahkan masih tidak berpindah dari tempatnya tadi. Justru malah tertarik ke belakang.

"Kau ini benar-benar tidak punya sopan santun ya? Dari tadi main lari aja."

"Duh, apa sih maumu? Gerbang sekolah mau ditutup tuh. Aku mau masuk!", rengek Sia sambil terus mencoba melarikan diri tapi tidak bisa. Lelaki itu memandang ke arah gerbang yang dituju Sia. Terlihat satpam telah menutup seperempat jalan masuk.

"Kamu... sekolah di sana?", tanya lelaki itu benar-benar penasaran.

"Iya! Kenapa? Udah cepet lepasin aku!", ucap Sia setengah berteriak. Ia masih mencoba keras menggerak-gerakkan tubuhnya agar tangan lelaki itu terlepas dari tasnya. Tapi lagi-lagi nihil.

Dia sekolah di sini? Tapi aku tidak pernah melihatnya selama ini? batin lelaki itu.

Tiba-tiba saja lelaki itu punya ide jahil pada Sia.

"Sudahlah. Kau bolos saja. KARENA AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!" ucap lelaki itu santai.

Sia yang mendengarnya langsung terbelalak. 'Whaaatt?'

"Hah? Kau gila ya?", ucap Sia.

Dari kejauhan Sia melihat satpam itu hampir menutup gerbangnya. Mungkin tinggal 60 cm saja. Saat itu juga Sia langsung kesetanan; berusaha melepaskan pegangan lelaki itu sambil meneriaki satpam di kejauhan.

"Oh tidak. Tidak! Jangan tutup gerbangnyaa!"

Sia mengeluarkan semua kekuatannya untuk melepaskan diri dari lelaki itu.

Dia berhasil.

Tapi tidak lama. Karena lelaki itu langsung meraih tangannya lagi.

"Duh, lepasin! Pak, tunggu! Saya mau masuk. Tungguuu!", ucap Sia sambil lompat-lompat dan melambaikan tangannya yang bebas ke arah pak satpam. Tapi satpam itu tak mendengar teriakan Sia. Bahkan lambaiannya.

Sia mencoba menepuk-nepuk punggung tangan lelaki itu, melompat-lompat, meneriaki satpam itu sambil menarik tangannya dari genggaman lelaki itu, tapi tidak berhasil juga.

Hingga akhirnya gerbangpun tertutup dan digembok.

Melihat itu, membuat lutut Sia lesu. Ia yang tadinya bersemangat langsung terdiam lemas memandangi gerbang yang sudah tertutup itu. Sedangkan lelaki itu justru melepaskan genggamannya tepat sesaat gerbang itu selesai digembok. Ia bahkan menyunggingkan senyum jahatnya. 'Haha, rasakan itu.'

"Sudahlah. Kau bolos saja. Kau terlihat tidak pernah bolos. Kau harus mencobanya sekali-kali. Itu menyenangkan." ucap lelaki itu santai.

Dan karena ucapan itu membuat Sia meledak.

"Menyenangkan? Apa ini menyenangkan bagimu?", ucap Sia dengan nada kecewa dalam. Mereka saling bertatapan.

Tanpa sadar mata Sia telah berkaca-kaca.

"Apa kau tidak tahu ini hari pertamaku sekolah? Aku berusaha keras agar tidak telat dan bisa menghadiri kelasku tanpa ada masalah apapun. Dan sekarang apa yang kau lakukan padaku? Lagipula siapa kau ini? Apa jangan-jangan kau ini penculik anak di bawah umur ya?"

Raut wajah lelaki itu sedikit berubah. Yang tadinya santai dan cengengesan sekarang sedikit serius.

Ia melihat air mata telah menetes di pipi Sia. Gadis itu sekarang tertunduk lesu.

"Siapa yang kau sebut penculik anak di bawah umur? Memangnya kau ini anak dibawah umur? Ini juga salahmu sendiri. Bukannya berterima kasih pada orang yang sudah menyeberangkanmu, kau malah langsung lari. DAN AKU BUKAN PENCULIK, BODOH!"

Seketika itu Sia tersentak. Ia menatap wajah lelaki itu.

Jadi dia yang menyeberangkanku tadi?

"Yaa tapi kan tadi bisa bilang baik-baik. Nggak perlu menahanku begitu."

"Jika aku tak menahanmu, kau pasti akan kabur lagi!", ucap lelaki itu sedikit sebal.

Dia benar juga sih, batin Sia.

Sia kembali menatap gerbang sekolah yang tertutup. Pikirannya rumit. Pintu gerbang sudah ditutup. Bahkan itu sudah digembok. Sekarang apa lagi yang harus dia lakukan?

Mungkin aku pulang saja dan mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Ibu.

"Hei, kau mau kemana?", tanya lelaki itu ketika melihat Sia melangkahkan kakinya menuju jalan raya.

"Pulang." Jawab Sia lemas.

"Kau tidak mau masuk sekolah?", tanya lelaki itu lagi.

"Kau tidak lihat gerbangnya sudah ditutup? Dasar menyebalkan!"

Mengabaikan perkataan Sia, lelaki itu justru pergi mendekati gerbang.

Sia yang tadinya cuek, jadi sedikit menoleh karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu.

"Kau yakin tidak mau ikut?", tanya lelaki itu yang berhenti setelah beberapa langkah. Sepertinya ia tahu Sia penasaran dengan apa yang dilakukannya dan ia mencoba menawarkan sesuatu pada Sia.

Sia yang awalnya tidak yakin akhirnya mengikuti lelaki itu beberapa langkah di belakangnya.

Sesampainya di depan gerbang. Lelaki itu memanggil satpam sekolah.

"Pak,"

Eh? Aku pikir dia akan melewati jalan rahasia atau mungkin memanjat gerbang agar bisa masuk. Tapi apa ini? Ngapain dia malah manggil satpam itu? batin Sia.

Satpam yang dipanggil tadi langsung keluar dari pos satpamnya dan menghampiri mereka berdua.

"Tolong bukakan pintu gerbangnya. Aku mau masuk." ucap lelaki itu masih santai.

APA? APA DIA WARAS MENGATAKAN ITU? DIA PIKIR DIA SIAPA?

*TBC

_________
30122015

DreamcatchersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang