5-Tamu

5.8K 415 6
                                    

Devan POV

Sedang asik menandatangani berkas-berkas, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku melirik dan mendapati nama bang Novan di layarnya.

"Halo bang?"

"Dek, sehabis makan siang nanti sibuk nggak?"

"Nggak bang, kenapa?"

"Jemput Firly di bandara dek. Bisa kan? Abang lagi nggak bisa. Ravan lagi rewel, badannya agak panas." Aku menyunggingkan bibirku.

"Tentu Devan bisa bang. Kan Firly teman Devan juga."

"Makasih ya dek. Dah.."

Sambungan telepon pun terputus. Firly adalah tetangga kami. Sejak kecil dia telah berteman baik dengan abang karena mereka memang seumuran. Terkadang aku dan Ara juga bergabung dengan mereka. Bagiku dan Ara, Firli adalah kakak kami setelah bang Novan.

Semenjak lulus kuliah Firli langsung terbang ke Belanda dan menetap disana. Dia hanya pernah sekali pulang. Kalau tidak salah empat tahun yang lalu. Dia mengatakan jika teman kuliahnya dulu meninggal. Huh.. mungkin kalau tidak ada musibah itu dia pasti kerasan di Belanda.

Jam makan siang pun tiba. Aku segera menjalankan mobilku menuju bandara internasional sukarno hatta yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai kesana. Untung saja aku tidak mempunyai meeting penting hari ini.

Aku menunggu di pintu kedatangan. Seharusnya jam segini pesawat yang ditumpangi Firly sudah sampai. Hingga mataku menangkap seorang laki-laki yang sedang berjalan membawa koper dan tas ransel. Walau semakin tinggi namun wajahnya tak berubah. Rupanya dia juga masih mengenaliku. Dia tersenyum lebar bagitu melihatku.

"Devan... sudah besar ya sekarang." Aku segera menjitak kepalanya. Biarpun baik, tapi Firli sangat usil. Bahkan dia sering membuat Ara mengomel karena diganggu olehnya.

"Menjijikan." Dia tertawa terbahak-bahak. Aku mengambil kopernya dan berjalan menuju ke mobilku. Dia masih tak berubah. Masih tetap usil.

"Jadi apa yang buat kamu pulang? Aku fikir kamu sudah punya anak disana?" Dia kembali tertawa.

"Kamu mau tahu alasanku menetap di Belanda?"

"Kenapa memangnya?"

"Aku sebenarnya patah hati dengan seorang wanita." Aku menoleh kaget. Aku baru tahu alasan dia pindah ke Belanda adalah karena seorang wanita.

"Kamu masih ingat ketika aku pulang 4 tahun yang lalu karena teman kuliahku meninggal?" Aku menganggukkan kepalaku. Apa jangan-jangan temannya yang meninggal itu adalah wanita yang dimaksud Firli.

"Bukan dia wanita yang kumaksud. Temanku itu laki-laki." Aku tertawa garing karena dia bisa tahu apa yang kufikirkan. Rupanya bertahun-tahun di Belanda membuat dia bisa membaca fikiran.

"Dia teman akrabku saat kuliah. Namun yang dia tidak tahu adalah aku diam-diam menyukai pacarnya." Sekali lagi aku terkaget dengan apa yang keluar dari mulut Firli. Dia menyukai pacar temannya sendiri.

"Setelah lulus aku langsung ke Belanda dan tak lama setelah itu aku mendengar mereka menikah. Saat itu aku beralasan jika aku sibuk dan tak bisa hadir. Padahal yang sebenarnya aku begitu terpuruk dengan pernikahan mereka." Aku hanya terdiam. Tak tahu harus menyahuti apa.

"Hingga empat tahun yang lalu temanku meninggal dunia. Meninggalkan istrinya ada anak mereka. Sejak itu aku bertekat akan kembali untuk mendapatkan hati wanita yang kucintai. Makanya sekarang aku kembali." Sekarang aku mengerti. Jadi dia pulang untuk memperjuangkan cintanya yang belum sempat dia perjuangkan.

Listen To My HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang