Cinta Kita 7

21.5K 1.2K 12
                                    

ALIANDO POV

Mobil hitam kesayanganku kini melesat cepat ke rumah sakit yang baru saja revan beri tahu lewat sms.. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan papah..
Hanya dia yang aku miliki, aku tak mau kehilangan papah..
Argghh.. Terasa sakit di dada membayangkan apa yang ada di fikranku, aku takut kehilangan papah..

Hh... Aku melenguh lega saat mobil hitam kesayanganku terparkir sempurna di basment rumah sakit..

"Tenang lah.. Dia akan baik2 saja" ucap prilly mengusap lengan atasku melihat aku terburu2 melepaskan seat belt yang membelit tubuhku..

Astaga!!!bahkan aku lupa prilly di sampingku..
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya cepat..

Melewati lorong dan berjalan dengan cepat ke ruangan papah.. Aku terus menggandeng prilly hingga aku melihat revan orang kepercayaan papah sedang berdiri dengan cemasnya di depan ruangan papah..

"Revan.. Bagaimana keadaan papah?" tanyaku saat sudah berada di depan revan.

"Akh tuan.. Syukurlah sudah sampai, tuan besar dari tadi terus manggil nama tuan" ucapnya..

Kini aku menoleh pada ruangan papah. Melihat nanar pada seorang pria yang terbaring lemah di sana. Dengan cepat aku menarik prilly untuk segera masuk. Namun revan menahanku..

"Maaf tuan. Dokter bilang hanya boleh 1 orang" ucapnya.. Aku langsung menoleh pada prilly yang kini tersenyum dan mengangguk.. Iia seakan mengisyaratkan kalau dia tak apa2..

Aku pun mengelus pipinya.. Sungguh aku sangat sayang padanya.. Dia dengan setianya berada di sampingku dalam keadaan seperti ini tanpa bawel menanyakan ada apa.. Dia sangat mengerti kondisiku..

Iia kini tersenyum sangat manis sehingga membuatku ikut tersenyum, dengan penuh sayang aku mengecup keningnya.. Kulihat prilly bersemu..

Arrggh dalam keadaan seperti ini dia tetap bersemu.. Membuatku semakin gemas padanya.. Sungguh dia penyemangatku.. Entah bagaimana kalau tak ada dia.. Mungkin sekarang aku sudah sangat sedih dengan kondisi papah..

"Aku masuk dulu" ucapku
Dia mengangguk mantap..

Ruangan VVIP yang cukup besar kini ku buka.. Memperlihatkan papah yang kini terbaring lemah dengan infus, dan monitor untuk mengetahui keadaan jantungnya.. Bahkan mulut dan hidungnya pun tertutup oleh penutup oksigen..

"Ali" ucapnya lemah.. Segera aku mendekati papah dan mengecup keningnya..

"Ustt.. Jangan bicara dulu pah.. Papah harus istirahat.. Ali disini koq" ucapku..

Dia tersenyum dengan senang.. Sungguh dia benar2 sosok yang sangat aku kagumi. Dia seorang diri membesarkan ku setelah mamah meningggal karena penyakit jantungnya.. Aku sangat sayang pada papahku..

"Papah cepet sembuh.. Ali nggak tega lihat papah seperti ini" ucapku meraih tangannya.. Kulihat papah lagi2 tersenyum..

Belum lama aku duduk menemani papah.. Suara pintu membuatku menoleh.. Ternyata revan ..

"Maaf tuan.. Dokter mencari anda" ucap revan..
Aku mengangguk kemudian revanpun menghilang kembali..

"Pah.. Aku akan bertemu dokter dulu.. Sebentar koq" ucapku. Setelah papah mengangguk akupun keluar meninggalkan papah..

"Jaga papah baik2 revan" ucapku begitu keluar dari ruangan..

Kulihat prilly masih setia duduk di ruang tunggu..
Aku mendekat padanya dan menggandeng tangannya. Mengajaknya ikur menemui dokter..

__""__

"Bagaimana dok keadaan papah"

"Lihat ini!" ucapnya memberikan kertas tipis hitam dan besar yang kuyakini adalah hasil ronsen papahku..

"Jantung kirinya sudah tak berfungsi, dia gagal jantung" ucap dokter..

Duarrr!!!seakan petir menghantam tubuhku aku melenguh lemas. Menyandarkan punggungku pada kursi.. Penyakit itu!!!penyakit yang merenggut nyawa mamahku..

Kenapa papah harus punya penyakit itu juga..?

Kurasakan prilly menggenggam tanganku kemudian meremasnya. Memberi kekuatan untukku. Sungguh senyumannya membuatku lebih tegar..

"Apa separah itu dok?" tanya prilly karna aku terus terdiam.

"Memang jantung sebelah kirinya sudah tak berfungsi, namun bersyukur karna jantung kanannya masih berfungsi sangat baik. Pak leo masih bisa bertahan dengan 1 jantungnya. Namun dia tak bisa beraktifitas seperti orang normal. Dia harus berhati2 karna iia hanya menggunakan 1 jantung"

"Apa aman dengan 1 jantung dok"tanyaku

" sementara ini aman.. Jantungnya masih baik, namun jika jantung kanannya sudah mulai lelah mau tak mau kita harus cari transpalasi jantung"

"Apa jantung itu memang akan lelah"

"Tentu.. Karna dia bekerja ekstra"

Aku kembali melenguh lemas.. Papah.. Aku takut kehilanganmu.. Aku tak mau...

__""__

PRILLY POV

Di taman rumah sakit. Aku sengaja mengajak ali kesini, kulihat dia sangat shock dengan pernyataan dokter, dia terlihat berantakan dan frustasi..
Tanganku sedari tadi terus digenggamnya erat.. Aku ikut merasakan sakit melihatnya seperti ini..

"Li.. Kamu harus kuat, nggak boleh seperti ini, justru kamu harus bisa tegar agar papah kamu bersemangat"

"Tapi prill.. Gagal jantung.. Penyakit itu..." iia menunduk.. Aku tahu iia ingin menangis tapi aku tau iia tak mau terlihat cengeng..

"Penyakit itu tak semenyeramkan apa yang kita pikirkan koq.."

"Penyakit itu yang merenggut mamahku prill" ucapnya yang membuatku kaget..segera ku menarik tangannya dan kulingkarkan tanganku memeluknya..

Sungguh tak di sangka bisa sepedih ini. Aku sangat tahu apa yang di rasakannya.. Iia hanya memiliki papahnya.. .. Aku yakin iia takut kehilangannya seperti iia kehilangan mamahnya.

Kini ku merasakan iia memelukku erat.. Untuk saat ini aku hanya ingin membuatnya tenang..
Wait??!!kurasakan punggungku basah.. Apa ali menangis.. Ku coba untuk merenggangkan pelukanku namun ali malah mengeratkannya..

"Biarlah seperti ini, aku tak mau kamu melihatku lemah" ucapnya.. Aku hanya memejamkan mataku memeluknya erat.. Memberikan kenyamanan lebih untuknya..

CINTA KITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang