IX. Yang Pertama

17 2 0
                                        

。・:*:・゚★Selamat Membaca。・:*:・゚☆
.
.
.
.
.
.
.

"Perhiasan itu dibuat di sebuah desa area perkebunan gandum bernama Purenom. Tak memiliki kandungan emas, hanya besi yang diwarnai dengan ekstrak bunga, membuktikan bahwa seorang bangsawan tidak mungkin membeli barang tersebut, Yang Mulia. Gaun berwarna jingga itu juga demikian."

Lucas memandang perhiasan rambut dengan lilitan berbentuk tumbuhan dan bunga berwarna jingga dalam genggamannya. Ternyata benar perempuan itu telah membohonginya, tapi.. mengapa?

"Kau sudah menemukan tempat gaun itu dijahit?" Tanya Lucas.

"Gaun dan perhiasannya dijual bersama. Sang penjahit sendiri yang menyampaikan langsung, Yang Mulia," Jawab sang pengawal.

Lucas mengangguk mengerti, ia menatap hiasan rambut milik Doveline yang ditinggalkannya di istana ini. Dengan senyum tipis ia kembali mengingat dansa terakhir mereka, dimana Doveline sama sekali tak mahir dalam berdansa.

Satu pertanyaan di benaknya, siapa teman yang memberikan undangan pesta pada Doveline?

。・:*:・゚★,。・:*:・゚☆

Arian terhenyak.

Jebakan Lysandra kali ini benar-benar mampu berpotensi menimbulkan perang. Sebenarnya apa yang ada di benak perempuan itu hingga menjebaknya sedemikian rupa?!

Sementara Arian yang masih tenang dalam ketegangannya, Lysandra yang berada di balik pintu ruangan sembari mengintip hanya mampu tersenyum miring. Rencananya cukup berjalan lancar, sebentar lagi ayahnya sama sekali tak akan mengungkit rencana perjodohan itu lagi, melihat wajah muak yang ditujukannya pada Arian.

"Hamba tidak bermaksud seperti itu, Yang Mulia. Untuk menebus rasa bersalah Putra Mahkota Lucas, putri anda sendiri meminta diberikan kalung permata rubi. Aku maupun Putra Mahkota sama sekali tak tahu jika memberikan kalung rubi pada gadis kerajaan ini, berarti berniat melamarnya. Mungkin saja Putri Lysandra benar-benar menginginkan perjodohan ini hingga menyuruh Putra Mahkota Lucas membawa kalung rubi ini."

Dan senyum Lysandra sirna sudah, ucapan Arian kini kembali menjebaknya, bak senjata makan tuan, senjata yang sebelumnya ditodongkan ke arah Arian kini berganti haluan menodongnya.

Raja Sebastian Nightfall tampak terpekur. Ia kemudian menilai ekspresi Arian yang begitu santai dan bersungguh-sungguh. Mungkin saja pemuda itu benar.

"Pelayan!" Teriak sang Raja kemudian.

Mendengar panggilan Raja Duvrion, satu pelayan muncul menghadapnya.

"Ya, Yang Mulia."

"Panggilkan Putri Lysandra kesini!"

Lysandra yang berada di balik ruangan aula tersebut hanya mampu ketar ketir. Ia tak bisa keluar dari sini karena sang Raja ada di aula. Sebelumnya ia berhasil menyusup memasuki ruangan ini sebelum sang Raja memasuki aula. Ayahnya pasti akan curiga jika tak menemuinya di dalam kamar.

Sementara Arian yang tak sengaja mengalihkan mata dan memicingkan mata menatap pintu tinggi yang terbuka sedikit tepat di pojok kanan ruangan.

Lysandra tersentak kala pandangan Arian menuju tempatnya, walaupun ia yakin Arian tidak akan menemukannya karena ruangan di dalam sana gelap.

"Mengapa tidak anda terima sendiri, sementara saya bisa kembali ke kerajaan Genevar?" Tawar Arian.

Raja Sebastian tampak tersenyum congkak dengan menatap kotak di tangannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 11 hours ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DistanceStories to obsess over. Discover now