── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
Hari Senin jam sepuluh pagi di kantor pemasaran Apartemen Skylight Living seharusnya menjadi awal dari babak baru kehidupan seorang wanita mungil nan cantik bernama Senandhya Andadari.
Dengan map dokumen tebal di pangkuannya dan tas ransel berisi pakaian untuk seminggu ke depan, Sena duduk tegak di sofa lobi. Senyumnya hampir tidak bisa ditahan karena mulai hari ini, ia resmi menjadi penghuni ibu kota, lengkap dengan status baru sebagai Project Executive di sebuah perusahaan digital agency terkenal sekaligus pemilik kunci unit 12B.
Namun, ketenangan Sena terusik ketika pintu kaca lobi berdentang pelan. Seorang pria melangkah masuk dengan langkah yang terasa dominan dari pentopel yang dikenakannya.
Sena menatap pria itu sekilas, lalu berpura-pura sibuk memindai deretan brosur di meja. Pria itu tinggi, sangat tinggi, dengan bahu lebar yang terbungkus kemeja hitam tergulung hingga siku. Postur wajahnya tegas, rapi, dan tak dipungkiri sangat tampan. Hanya saja, garis bibirnya tertarik datar dengan tatapan mata yang luar biasa dingin. Judes, pikir Sena dalam hati. Tipe-tipe eksekutif muda yang sepertinya akan mengomeli staf hanya karena kopi kurang manis seperempat sendok teh.
Sena buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke ponselnya. Jangan peduli, Sen. Dia bukan urusan kamu, batinnya menasehati diri sendiri.
"Selamat pagi, Pak Nadhif. Terima kasih sudah menunggu," sapa seorang staf wanita bernama Rina dengan wajah yang agak pucat. Rina lalu menoleh ke arah Sena dengan senyum canggung yang dipaksakan. "Mbak Sena, Pak Nadhif... bisa ikut saya sebentar ke ruang konsultasi?"
Kening Sena berkerut. Kenapa dia harus masuk bersama pria judes ini?
Misteri itu terjawab lima menit kemudian di dalam ruangan berpendingin udara yang mendadak terasa sepuluh derajat lebih dingin.
"Maksud Mbak Rina apa, ya?" tanya Sena, suaranya naik setengah oktaf. Kertas tanda terima pelunasan DP di tangannya gemetar pelan. "Saya sudah bayar DP dari dua minggu lalu dan melunasi cicilan pertama minggu kemarin. Kenapa kunci unit 12B belum bisa diambil?"
Di sampingnya, Nadhif menghela napas panjang. Suara helaan napasnya terdengar begitu kentara sampai Sena refleks menoleh.
"Saya rasa ada kesalahpahaman di sini," kata Nadhif. Suaranya tenang, namun terdapat penekanan yang menusuk. Pria itu mengetukkan ujung jarinya ke atas meja. "Saya datang untuk serah terima kunci unit 12B. Dokumen saya sudah lengkap sejak bulan lalu, disetujui oleh Pak Gunawan dari tim pemasaran kalian."
Rina tampak mengatupkan tangan dengan gestur memohon, wajahnya memerah karena panik. "Ini... benar-benar kesalahan teknis dari sistem internal kami, Pak, Mbak. Jadi, Pak Gunawan memasukkan data reservasi Pak Nadhif secara manual, tapi sistem belum memperbarui status unit. Di saat yang sama, saya melihat unit 12B masih berstatus available di aplikasi pusat, lalu memproses pembelian Mbak Sena."
"Sistem kalian belum ter-update?" potong Sena tidak percaya. Dia menatap Rina dan Nadhif bergantian. "Jadi kalian menjual satu unit yang sama ke dua orang berbeda?"
"Double booking?" Nadhif menaikkan sebelah alisnya, menatap Rina dengan tatapan penuh intimidasi. "Bagaimana bisa Developer sekelas kalian melakukan keteledoran seamatir ini saat serah terima?"
"Kami sangat memohon maaf sebesar-besarnya," Rina menunduk dalam-dalam. "Kami bisa tawarkan unit pengganti di lantai delapan belas, tapi harganya memang ada di klaster premium..."
"Bentar, bentar!" Sena langsung memotong, tak mau memberi celah. "Mbak Rina, saya ini perantau dari luar kota. Hari ini adalah hari pertama saya tinggal di Jakarta dan besok pagi saya sudah harus masuk kerja di kantor baru saya. Saya nggak punya kerabat di sini, dan jujur aja, dana saya terbatas! Unit studio 12B ini satu-satunya tipe yang sesuai sama budget saya. Saya nggak bisa dan nggak mau menambah biaya untuk unit yang lebih mahal cuma karena kesalahan sistem kalian!"
ESTÁS LEYENDO
Roomatte By Mistake
RomanceKatanya, rumah adalah tempat untuk pulang. Lalu bagaimana jika tempat itu justru mempertemukan dua orang yang seharusnya tidak pernah tinggal bersama? Akibat satu kekacauan administrasi, Sena dan Nadhif terpaksa berbagi atap. Demi menjaga jarak, seb...
